OJK Sampaikan Ketahanan Sektor Jasa Keuangan di Tengah Gejolak Global

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026 di Grand Ballroom Kempinski Hotel Jakarta, Kamis, 3 September 2026 (Foto:Metrotvnews.com/Duta Erlangga)

OJK Sampaikan Ketahanan Sektor Jasa Keuangan di Tengah Gejolak Global

Duta Erlangga • 4 September 2026 16:00

Jakarta: Metro TV bersama Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menggelar acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026 yang digelar di Grand Ballroom Kempinski Hotel Jakarta, Kamis, 3 September 2026.   

Mengusung tema “Berlayar di Tengah Gelombang Global, Menjaga Daya Tahan Ekonomi Nasional”, forum yang mempertemukan para ekonom dan pemangku kebijakan ini menjadi ruang untuk membahas berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia sekaligus merumuskan gagasan dan strategi untuk memperkuat daya tahan perekonomian nasional. 

Sejumlah tokoh ekonomi dan pemangku kebijakan hadir dalam forum tersebut. Di antaranya Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Anggito Abimanyu, Wakil Menteri Investasi & Hilirisasi/Kepala BKPM RI Todotua Pasaribu, Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto, Ekonom Senior INDEF Aviliani, dan Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis Jisman P. Hutajulu. 


Sektor Jasa Keuangan Stabil dan Bertumbuh 


Dalam diskusi pada acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyatakan kondisi sektor jasa keuangan Indonesia saat ini sangat sehat dan siap menahan gempuran ketidakpastian ekonomi global. Indikator perbankan dan pasar modal domestik justru menunjukkan rapor biru, saat gejolak geopolitik memicu lonjakan harga minyak dunia. 

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi optimistis dengan resiliensi sistem keuangan nasional. Hal ini didukung oleh berbagai indikator utama, seperti Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan yang tebal serta likuiditas yang terjaga. 
 
"Kita harus bisa melihat semua permasalahan kita secara bijak, dan bersama-sama menumbuhkan optimisme di tengah segala keterbatasan yang saat ini memang kita hadapi," ujar Friderica dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia yang diselenggarakan Metro TV di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis, 3 September 2026. 


Kepercayaan Investor Pasar Modal Meningkat


Friderica menyampaikan peningkatan jumlah investor ritel sebagai salah satu perkembangan penting di pasar modal Indonesia. Saat ini, jumlah investor ritel telah mencapai sekitar 30 juta, jauh meningkat dibandingkan periode ketika jumlah investor ritel baru sekitar 250 ribu.

“Kalau melihat pasar modal, saat ini jumlah investor ritel sudah mencapai 30 juta. Ini luar biasa,” katanya.

Menurutnya, bertambahnya investor domestik membuat kondisi pasar modal Indonesia kini berbeda dibandingkan ketika ketergantungan terhadap investor asing masih lebih besar.
 

Reformasi Pasar Modal Berjalan


Friderica juga mengatakan berbagai reformasi yang dilakukan OJK, antara lain terkait transparansi, peningkatan likuiditas, dan penegakan aturan, mulai memberikan dampak positif terhadap kondisi pasar modal.

Ia menyebut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mulai bergerak lebih sejalan dengan sejumlah indeks utama, termasuk MSCI Indonesia dan FTSE.

“Dengan berbagai reformasi yang kami lakukan, termasuk peningkatan transparansi, likuiditas, dan enforcement, kami melihat kondisi pasar mulai membaik,” ujarnya.

Friderica menambahkan IHSG mulai menunjukkan pemulihan setelah sebelumnya sempat bergerak tidak sejalan dengan sejumlah indeks utama. Selain itu, investor nonresiden juga mulai mencatatkan arus masuk secara month to date.

“IHSG kita sekarang sudah mulai rebound dan kemudian kita lihat juga walaupun ini nonresiden juga month to date-nya sudah mulai masuk. Jadi ini juga berita bagus,” katanya.
 

Pertumbuhan Kredit 


Di sisi lain, Friderica menyebut intermediasi perbankan terus menunjukkan pertumbuhan. Pertumbuhan kredit tercatat sebesar 13,58%, lebih tinggi dari target OJK sebesar 12% pada tahun ini. 
 
“Kalau kita melihat intermediasi di sektor perbankan, terus tumbuh 13,58%. Intermediasinya cukup besar, tetapi korporasi masih cukup mendominasi. Memang target untuk UMKM belum bisa dicapai dan ini bukan sekadar persoalan sistem keuangan, tetapi juga terkait sektor lainnya,” kata dia. 

Menurut Friderica, pertumbuhan kredit tersebut telah melampaui target yang ditetapkan OJK dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2026. 

“Kredit terus bertumbuh double digit, bahkan lebih tinggi dari target OJK dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan. Saat itu kami menargetkan pertumbuhan 12% tahun ini, tetapi sudah terlampaui menjadi sekitar 13%,” ujarnya. 


Persiapan Pengawasan Bursa Mineral


Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan pengawasan bursa mineral dan komoditas strategis yang dijadwalkan mulai aktif pada 1 Januari 2027. Persiapan tersebut menjadi bagian dari mandat baru OJK setelah sebelumnya mendapat kewenangan mengawasi aset keuangan digital dan aset kripto. 


Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026 di Grand Ballroom Kempinski Hotel Jakarta, Kamis, 3 September 2026 (Foto:Metrotvnews.com/Duta Erlangga) 

Friderica menyebut persiapan pengawasan bursa mineral dan komoditas strategis terus dilakukan mengingat pelaksanaannya semakin dekat. 

“Pada 2023, OJK mendapat mandat baru untuk mengawasi aset keuangan digital, aset kripto, dan seterusnya. Terbaru, kami juga mendapat tugas mengawasi bursa mineral dan komoditas strategis. Dalam undang-undang disebutkan bursa tersebut mulai aktif pada 1 Januari 2027. Persiapannya memang cukup mendesak, tetapi insyaallah sudah kami siapkan,” ujar Friderica. 


Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis, 3 September 2026 (Foto:Metrotvnews.com/Duta Erlangga) 
 

Dorong Mesin Pertumbuhan Baru 


Sarasehan 100 Ekonom Indonesia merupakan forum tahunan yang digagas INDEF sebagai wadah bagi para ekonom untuk menyampaikan analisis, gagasan, serta rekomendasi kebijakan kepada pemerintah dan pemangku kepentingan. 

Pada penyelenggaraan 2026, forum tersebut kembali mengambil relevansi di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah. Tekanan geopolitik, perubahan arah kebijakan ekonomi negara-negara besar, dinamika perdagangan dan investasi, hingga tantangan menjaga pertumbuhan ekonomi menjadi sejumlah isu yang perlu diantisipasi Indonesia. 

Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026 diharapkan tidak berhenti pada pembahasan mengenai tantangan, tetapi juga menghasilkan gagasan konkret mengenai mesin pertumbuhan ekonomi baru yang mampu memperkuat ketahanan ekonomi domestik. 

(Rosa Anggreati)