Film Horor 'Aku Harus Mati' Angkat Isu Pinjol dan Tekanan Sosial, Ini Fakta Menariknya

Film horor Aku Harus Mati tidak hanya menghadirkan unsur ketegangan (jumpscare), tetapi juga membawa pesan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat (Foto:Dok.Aku Harus Mati)

Film Horor 'Aku Harus Mati' Angkat Isu Pinjol dan Tekanan Sosial, Ini Fakta Menariknya

Duta Erlangga • 6 April 2026 13:24

Jakarta: Film horor “Aku Harus Mati” tidak hanya menghadirkan unsur ketegangan (jumpscare), tetapi juga membawa pesan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Perwakilan produser dari Rollink Action, Iwet Ramadhan, mengatakan film ini memang dirancang sebagai film horor yang mampu memberikan pengalaman takut secara intens kepada penonton.

“Benar sekali memang jumpscare-nya rapat, gitu. Kenapa? Karena kami dari Rolling Action memang berniat sekali untuk membuat film horor yang benar-benar horor. Di mana eh film horor yang benar-benar horor tuh apa? Ya itu tadi, jumpscare-nya rapat, terus kemudian juga membuat ada perasaan takut, gitu ya. Tapi di balik itu semua sebenarnya kami tuh punya misi. Jadi Rolling Action, kenapa kita membuat film itu, sebenarnya adalah kami ini memang memiliki komitmen untuk selalu membawa cerita yang kuat dengan pesan yang dalam. Dan cerita ini kami ambil dari kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia. Itu yang yang yang menjadi komitmen kami, begitu ya,” kata Iwet Ramadhan, dalam konferensi pers pada Sabtu, 4 April 2026.

Ia menjelaskan, selain menghadirkan hiburan, pihaknya juga ingin mendorong perkembangan industri kreatif dengan memberikan ruang bagi para kreator dan aktor untuk berkembang.
 


“Kemudian juga komitmen berikutnya adalah kami ini memang ingin eh supaya industri ekonomi kreatif ini berkembang dengan cara apa? Dengan cara memberikan tempat untuk kreator-kreator, terus kemudian juga untuk bintang, aktor, supaya bisa lebih berkembang,” ujar Iwet.

Menurutnya, keputusan mengangkat genre horor juga didasarkan pada data minat penonton di Indonesia yang masih tinggi terhadap film dengan unsur ketegangan.

“Kami Rollink Action ini berangkat dari perusahaan advertising dan juga media yang sangat kuat sekali dengan data insight. Nah, kemudian kita melihat bahwa secara data bahkan kemarin saya lihat, GoodStats itu di akunnya mengeluarkan sebuah data bahwa film horor masih menjadi film yang sangat diminati oleh masyarakat Indonesia. Nah, dari sini kami berpikir bahwa oh berarti caranya untuk kita bisa menyampaikan pesan-pesan yang baik dan dalam," ucap Iwet.

Film “Aku Harus Mati” mengangkat isu sosial fenomena pinjaman online (pinjol) dan tekanan sosial di masyarakat.

“Makanya kemudian kami buatlah film ‘Aku Harus Mati’ dengan tagline ‘Jual Jiwa Demi Harta’. Karena memang pesan yang mau kami bawa itu terkait dengan fenomena atau mungkin isu sosial mengenai pinjol. Pinjol tuh kan sangat marak sekali, paylater juga seperti itu. Nah, itu tuh berangkat dari dari keprihatinan kami, banyak sekali yang kegulung dengan masalah ini. Terus setelah ditelaah lagi, ini banyak yang bukan karena kebutuhan, tapi karena pressure sosial. Mereka butuh validasi, butuh pengakuan dari lingkungan sekitar, sehingga akhirnya jadi menghalalkan segala cara demi terlihat keren, demi terlihat dipandang," kata Iwet.

Ia menambahkan, fenomena tersebut memiliki akar panjang dalam budaya masyarakat, yang kemudian diangkat ke dalam konteks modern melalui film.

“Nah, terus kita tarik lagi. Sebenarnya di Indonesia masalah validasi ini sudah lama sekali ada. Makanya kemudian muncul si pesugihan itu. Kami tarik dari situ, pesugihan yang kemudian kami bawa di zaman sekarang dengan pinjol dan paylater. Dan itu kan semuanya ada di film ya,” kata Iwet.
 
Iwet menyebutkan cerita film ini juga terinspirasi dari pengalaman nyata yang banyak terjadi di masyarakat.

“Kalau ditanya apakah ini terinspirasi dari kisah nyata? Iya, terinspirasi dari kisah nyata. Tapi kisah nyata orangnya siapa sebenarnya banyak dari masyarakat di Indonesia. Ini tuh sesuatu yang banyak orang alami, apalagi pinjol-pinjol ini ya. Jadi eh kalau ditanya dari kisah nyata atau tidak, iya kisah nyata,” jelasnya.

Meski mengangkat isu serius, Iwet menegaskan film tetap mengedepankan unsur hiburan agar mudah diterima penonton.

“Kita pengen menyampaikan pesan ini dengan medium film. Dan di sini filmnya film horor gitu ya. Terus kemudian yang yang kami coba kejar tuh adalah itu tadi orang terhibur dulu deh dengan film kita karena saya saya juga terus terang setelah saya mengerjakan film ini tuh jadi ‘Oh benar ya horor tuh memang dicari, dicari banget sama masyarakat Indonesia’,” kata dia.

Tak hanya menyuguhkan hiburan, film Aku Harus Mati membawa pesan yang disampaikan dengan halus agar tidak sampai terkesan menggurui penonton.

“Tantangannya, bagaimana caranya kita memasukkan ke dalam scene tersebut tentang pesannya, tapi enggak menggurui, tapi crystal clear. Itu tantangan,” ucap Iwet.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Rosa Anggreati)