Faktor Ekonomi Jadi Alasan Warga Karet Tengsin Bertahan Tinggal di Bantaran Kali

Warga Karet Tengsin masih memilih bertahan hidup di wilayah bantaran kali. Metrotvnews.com/Muhammad Alvi

Faktor Ekonomi Jadi Alasan Warga Karet Tengsin Bertahan Tinggal di Bantaran Kali

Muhammad Alvi Randa • 6 April 2026 18:58

Jakarta: Di tengah menjulangnya gedung-gedung pencakar langit Jakarta, puluhan warga Karet Tengsin, Jakarta, masih memilih bertahan hidup di wilayah bantaran kali. Faktor ekonomi menjadi alasan utama mereka bertahan di wilayah tersebut.

Warga yang tinggal di wilayah bantaran kali tersebut berpenghasilan rendah. Mereka membangun rumah semi permanen dengan kayu dan bahan seadanya.

Sebagian besar warga bekerja di sektor informal, seperti pedagang, pengemudi ojek online, hingga pemulung. Ketua RW 02, Yuli, mengatakan pekerjaan warga didominasi sektor tersebut karena tidak membutuhkan biaya besar dan dapat dilakukan di sekitar lokasi tempat tinggal.

“Rata-rata pedagang, ojol, sama pemulung. Ada karyawan yang tinggal di daerah sini, tapi tidak banyak,” ujar Yuli kepada Metrotvnews.com, Jakarta, Senin, 6 April 2026

Salah satu warga, Sugiman, mengaku memilih bertahan tinggal di bantaran kali, karena tidak mampu menyewa kontrakan yang lebih baik dengan harga  Rp800 ribu hingga lebih dari Rp1 juta per bulannya. Selain itu, dia telah memiliki mata pencaharian di wilayah tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Kalau kontrakan mahal, saya gak mampu untuk sewa, karena di sini jauh lebih hemat dan tempat usaha saya juga di sini” ungkap Sugiman.

Sugiman yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang itu, mengatakan lokasi bantaran kali yang berada di pusat kota memudahkan akses ke lapak usaha maupun pelanggan.

Baca Juga: 

Warga Bantaran Kali Karet Tengsin Terancam Digusur Tanpa Skema Relokasi



Warga Karet Tengsin masih memilih bertahan hidup di wilayah bantaran kali. Metrotvnews.com/Muhammad Alvi

Hal senada disampaikan Fahrul, warga lainnya yang bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol). Dia mengaku sudah cukup lama tinggal di kawasan tersebut.

Dia menilai tinggal dekat dengan sumber penghasilan jauh lebih penting dibandingkan harus pindah ke hunian yang lebih layak, namun jauh dari tempat kerja.

“Kalau dipindah bakalan jauh dan sulit untuk kami, apalagi nanti kalau dipindah di daerah, Sulit untuk ojol seperti saya ini, apalagi orang daerah, seperti Bogor mereka ke kota ini untuk ngojol ” ujar Fahrul.

Meski pemerintah pernah menawarkan opsi tinggal di rumah susun, sebagian warga enggan pindah karena faktor biaya tambahan dan akses pekerjaan. Selain itu, lokasi rusun yang jauh membuat mereka harus memulai kembali dari nol.

Untuk memenuhi kebutuhan sehat-hari, warga mengandalkan fasilitas hasil swadaya air bersih dari sumur bor yang dibangun secara gotong royong. Sementara itu, listrik disambungkan secara tidak resmi dari jaringan sekitar.

Namun, kondisi tersebut tidak lepas dari berbagai risiko. Kawasan bantaran kali rawan banjir, bahkan air dapat mencapai kurang lebih 60-70 sentimeter (cm) saat hujan deras. 

Warga juga tetap berusaha bertahan dengan berbagai cara. Mereka menyesuaikan jenis usaha sesuai musim, seperti menjual jas hujan saat musim penghujan atau membuka warung kecil untuk kebutuhan sehari-hari.

Di tengah keterbatasan itu, bantuan sosial dari pemerintah dan pihak lain menjadi penopang tambahan. Warga mengaku sesekali menerima bantuan berupa beras atau sembako.

Dengan adanya rencana pembongkaran dalam waktu dekat, warga dihadapkan pada dilema besar. Mereka memahami aturan yang ada, namun di sisi lain kehilangan tempat tinggal di lokasi strategis berarti kehilangan akses terhadap sumber penghasilan mereka.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)