Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Isu Air Retno Marsudi dalam acara Indonesia Net-Zero Summit di Jakarta, Sabtu, 1 Agustus 2026. (Metrotvnews.com)
Retno Marsudi Sebut 'Ledakan' AI Tingkatkan Kebutuhan Air Global hingga 129 Persen
Muhammad Reyhansyah • 1 August 2026 16:05
Jakarta: Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Isu Air Retno Marsudi mengingatkan bahwa pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) akan meningkatkan kebutuhan air global hingga 129 persen di seluruh rantai nilai.
Menurutnya, ketersediaan air kini menjadi salah satu faktor penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi digital di masa depan.
Berbicara dalam Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 di Jakarta, Sabtu, 1 Agustus 2026, Retno mengatakan transformasi digital dan perkembangan AI tidak dapat dipisahkan dari isu ketahanan air karena pusat data membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar untuk mendukung operasionalnya.
"Ekspansi global AI diperkirakan akan mendorong peningkatan kebutuhan air sebesar 129 persen di seluruh rantai nilai," kata Retno.
Retno mengungkapkan tantangan tersebut semakin besar karena sekitar 40 persen pusat data di dunia saat ini berada di kawasan yang mengalami tekanan air tinggi (high water stress).
"Karena itu, tantangan bagi pusat data AI yang akan menopang ekonomi masa depan adalah bagaimana menggunakan air secara lebih efisien. Di sinilah teknologi memiliki peran yang sangat besar," ujarnya.
Menurut Retno, isu air selama ini kerap luput dari pembahasan mengenai transisi menuju net-zero yang lebih banyak berfokus pada sektor energi, transportasi, dan industri. Padahal, air merupakan elemen mendasar yang menopang berbagai sektor tersebut.
"Ketika kita berbicara mengenai net-zero, kita sering kali fokus pada energi, transportasi, dan industri. Padahal ada satu elemen yang sangat penting, yaitu air. Tidak ada net-zero tanpa air," katanya.
Kebutuhan Air Terus Meningkat
Mantan Menteri Luar Negeri itu menjelaskan kebutuhan air global diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya populasi dunia, meningkatnya kebutuhan pangan, serta pesatnya transformasi digital.Mengutip data Global Commission on the Economics of Water, ia mengatakan setiap orang membutuhkan sekitar 4.000 liter air per hari untuk menjalani kehidupan yang layak. Kebutuhan tersebut tidak hanya mencakup air minum dan sanitasi, tetapi juga produksi pangan dan berbagai kebutuhan konsumsi sehari-hari.
"Tanpa kita sadari, untuk menjalani kehidupan yang layak, kita membutuhkan sekitar 4.000 liter air setiap hari," ujarnya.
Di sisi lain, Retno mengatakan ketersediaan air bersih justru terus menurun akibat perubahan iklim. Mengutip data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), ia menyebut ketersediaan air tawar per kapita telah turun sekitar 7 persen hanya dalam satu dekade terakhir.
Menurut dia, perubahan iklim memperburuk seluruh tantangan tersebut, mulai dari banjir, kekeringan, hingga pencemaran air yang semakin mengancam ketahanan pangan, kesehatan, dan pertumbuhan ekonomi.
"Perubahan iklim adalah threat multiplier yang memperburuk seluruh tantangan yang kita hadapi," kata Retno.
Karena itu, Retno menegaskan bahwa pengelolaan air tidak lagi dapat dipandang sebagai isu teknis semata, melainkan telah menjadi isu pembangunan yang memerlukan kerja sama seluruh pemangku kepentingan.
Ia juga menyerukan percepatan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 tentang air bersih dan sanitasi, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, dan berbagai pihak lainnya.
"Air adalah kehidupan, dan tidak ada kehidupan tanpa air," pungkas Retno.
Baca juga: PBB Peringatkan Era 'Kebangkrutan Air' Global, 4 Miliar Orang Terdampak