Jakarta: Sejak 1927, Gunung Anak Krakatau terus membangun tubuhnya lewat erupsi. Dan pada awal September 2026 ini, aktivitasnya kembali meningkat. Fase erupsi menerus terjadi di Selat Sunda. Abu vulkanik terdeteksi hingga 5 provinsi. Penerbangan terganggu, sementara jalur laut tetap beroperasi dengan pembatasan di sekitar kawah.
Linimasa aktivitas Gunung Anak Krakatau
Kronologi erupsi Anak Krakatau menjelaskan dampak abu bagi penerbangan membandingkan status
gunung api lain dan memulas langkah aman untuk masyarakat. Status Gunung Anak Krakatau masih bertahan di level 3 atau siaga, sudah berjalan sejak 2 Juli lalu. Jika dirunut sejak awal September, pola aktivitasnya jelas menanjak. 4 September dini hari, 4 erupsi terjadi beruntun dalam kurang dari 2 jam.
Malam harinya, Gunung Anak Krakatau masuk fase lebih intens, lava air mancur yang menyumbang setidaknya 10 erupsi dalam 1 malam. Fase erupsi menerus ini baru berhenti Minggu dini hari pukul 00.00 lewat 04.00 waktu Indonesia Barat. Meski begitu, pada Minggu pagi masih terekam 2 erupsi susulan. Dan pada minggu siang, intensitas abu di lapangan dilaporkan mulai menipis, tapi status siaga belum diturunkan.
Sebaran abu vulkanik Anak Krakatau
BMKG membagi sebaran abu ini menjadi 2 klaster, satu mengarah ke Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, hingga 20.000 kaki. Satu lagi mengarah ke Lampung, Bengkulu, Selat Sunda, dan Samudera India, hingga 50.000 kaki atau sekitar 15.200 meter.
Dampak transportasi udara akibat erupsi Anak Krakatau
Abu vulkanik berdampak di transportasi udara. Jumlah bandara yang ditutup sementara bertambah bertahap sepanjang hari. Dari 3 menjadi 8 bandara.
Di Bandara Soetta saja, tercatat sejumlah penerbangan yang terdampak. Tidak semuanya batal, ada yang ditunda, dijadwalkan ulang, atau dialihkan. Sementara di lautan penyeberangan tetap normal, namun kapal dilarang mendekat radius 3 km dari kawah aktif.
Mengapa abu vulkanik berbahaya bagi pesawat?
Abu vulkanik bukan sekedar asap atau debu biasa. Partikelnya keras, tajam, dan abrasif. Kalau tersedot ke mesin jet, partikel itu bisa meleleh di ruang bakar, menempel di turbin, menurunkan dorongan mesin, bahkan beresiko membuat mesin mati. Abu vulkanik juga bisa menyumbat sensor pembacaan kecepatan atau ketinggian hingga tidak akurat.
Kaca cockpit juga bisa mengganggu visibilitas yang berkurang bagi pilot. Bahkan abu pun juga mengganggu landasan pada saat take-off ataupun landing. Itulah sebabnya pesawat harus menghindari awan abu vulkanik.
Dan penutupan bandara adalah langkah pencegahan.
Fase konstruktif Anak Krakatau
Untuk memahami kenapa gunung ini terus aktif, kita perlu mengenal profil dan sejarah pembentukan anak Krakatau. Gunung anak Krakatau berada di tengah Selat Sunda, masuk wilayah Kabupaten Pesawaran, Lampung.
Luas pulaunya sekitar 64 hektare dan berstatus cagar alam. Gunung ini muncul dari kaldera sisa lentusan besar Krakatau di 1883. Pasca longsoran di 2018, ketinggiannya turun. Badan gunung runtuh dari 338 meter menjadi hanya 110 meter. Gunung ini juga diapit Pulau Rakata, Sertung dan Panjang, yang merupakan sisa-sisa gugusan Krakatau lama.
Sejak kemunculannya, gunung ini tumbuh lewat proses yang disebut fase konstruktif. Setelah letusan besar 1883, kaldera Krakatau relatif tenang selama kurang lebih 44 tahun. Lalu aktivitas bawah laut muncul pada akhir 1927. Dan kerucut baru secara bertahap menembus permukaan laut antara 1928 hingga 1930. Ini yang kita sebut sebagai tahun lahirnya gunung anak Krakatau.
Vulkanolog Surono dalam keterangannya pada 2022 secara sederhana menjelaskan, material lentusannya jatuh di sekitarnya untuk membentuk tubuh Gunung Anak Krakatau supaya menjadi tinggi dan besar. Material lava dan piroklastik hasil erupsi memang menjadi bagian dari proses pembangunan tubuh gunung ini. Termasuk yang sedang terjadi saat ini.
Dan ternyata, Anak Krakatau bukan satu-satunya gunung api yang sedang aktif dan berstatus siaga di Indonesia saat ini. Ada 5 gunung api yang berstatus level 3 atau siaga, yaitu Anak Krakatau, Lewotobi Laki-Laki, Semeru, Merapi, dan Sinambung.
Sementara itu, khusus Minggu, 6 September, ada 4 gunung pemirsa yang erupsi dalam waktu yang berdekatan. Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Ibu di Maluku Utara, Ile Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, dan Semeru di Jawa Timur.
Kandungan abu vulkanik dan risiko kesehatan
Abu vulkanik bukan sekedar debu biasa, lebih dari setengahnya adalah silikon dioksida, ditambah kandungan silika, kristal yang berbahaya bagi paru-paru. Kalau terhirup terus-menerus risiko utamanya adalah silikosis dan iritasi saluran pernafasan, terutama bagi kelompok rentan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi dalam press conference pada Minggu mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi masih terdapat sebaran abu vulkanik. Jika harus keluar rumah, masyarakat diminta menggunakan masker.
Enak langkah aman dari abu vulkanik
Apa saja langkah praktis yang bisa dilakukan masyarakat untuk menghindari abu vulkanik? Ada enam langkah sederhana yang bisa diterapkan. Pakai masker N95 atau KN95, kurangi aktivitas di luar ruangan, gunakan kacamata pelindung, bersihkan tubuh dan pakaian setelah terpapar abu, amankan air bersih dan makanan, dan segera ke fasilitas kesehatan bila mengalami sesak berat. Prioritaskan kelompok rentan, anak-anak, langsia, ibu hamil, dan penderita gangguan pernafasan.
Dalam situasi seperti ini yang menentukan bukan hanya data, tapi seberapa cepat data itu diterjemahkan menjadi keputusan keselamatan. Sepuluh kali erupsi dalam semalam, tujuh bandara sempat ditutup, bahkan delapan dari gunung yang sama yang sejak 1927 terus membangun tubuhnya sendiri. Setiap letusan bukan akhir cerita, tapi bagian dari siklus alam yang tak bisa kita hentikan.
Yang bisa kita kendalikan adalah responnya. PVMBG memantau gunung, BMKG memetakkan sebaran abu, Airna menerjemahkan jadi notam. Dan BNPB mengkoorkestrasi semuanya. Rantai ini terbukti sigap dan terkoordinasi, data dibagi cepat, keputusan diambil tepat waktu.
Yang perlu kita jaga adalah kesiapan kita sendiri. Pantau informasi resmi, pakai masker, dan jangan terpancing narasi yang belum terverifikasi.
Sumber: Redaksi Metro TV