Jakarta: Lima dasawarsa bukan waktu yang singkat untuk merawat sebuah hubungan antarnegara. Namun di tengah pergeseran peta politik global, hubungan Indonesia dan Rusia justru menemukan momentum yang baru. Presiden Prabowo Subianto terbang ke Vladivostok setelah hampir tiga bulan tidak melakukan lawatan ke luar negeri.
Kunjungan ini bukan sekedar agenda diplomatik biasa, melainkan penegasan bahwa Indonesia tetap terbuka merajut kerja sama dengan siapapun, tanpa harus berpihak pada satu kutub kekuatan global.
Presiden Prabowo terbang menuju ke Vladivostok, Rusia pada 1 September 2026 dan Jumat, 4 September mendarat kembali di Indonesia.
Sejak dilantik sebagai Presiden, Prabowo Subianto tercatat sudah lima kali bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Khusus di tahun ini saja, pertemuan keduanya sudah terjadi sebanyak dua kali dan keduanya berlangsung di Rusia. Frekuensi pertemuan yang terbilang tinggi ini menjadi penanda bahwa Jakarta dan Moskow telah membangun kedekatan yang lebih intens dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.
Dalam kesempatan ini, Rusia menyebut hubungan kedua negara sudah berusia lima dasarwarsa, menjadi fondasi historis yang sedang coba dikonversi, menjadi manfaat ekonomi yang lebih konkret.
Agenda Presiden Prabowo di Rusia
Setidaknya ada dua agenda utama yang dibawa oleh Presiden Prabowo Subianto dalam lawatannya kali ini. Yang pertama adalah menghadiri Eastern Economic Forum atau EEF, dan yang kedua adalah melakukan pertemuan bilateral secara langsung dengan Vladimir Putin.
EEF Ke-11
Eastern Economic Forum tahun ini masuk ke penyelenggaraan yang ke-11. Forum yang biasa menjadi arena pertemuan para pemimpin negara dan pelaku usaha dari kawasan Asia Pasifik, menempatkan Presiden Prabowo menjadi tamu kehormatan utama. Posisi tersebut bukan sekedar simbol protokoler, melainkan menjadi sinyal bahwa Rusia menempatkan Indonesia sebagai mitra prioritas di kawasan Asia Tenggara.
Di dalam forum ini, sejumlah rencana pembangunan dan investasi dengan nilai mencapai triliunan rupiah juga dibahas oleh para peserta. Fokus pembahasan forum terbagi dalam tiga irisan besar, yakni yang pertama adalah penguatan konektivitas antarwilayah, kemudian akselerasi teknologi, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Tiga irisan ini menunjukkan bahwa forum tidak lagi sekedar berbicara perdagangan konvensional, tetapi juga menyentuh dimensi pembangunan manusia dan juga inovasi.
Pidato Presiden Prabowo
Pada kesempatan Eastern Economic Forum ini, Presiden Prabowo diberi kesempatan untuk berpidato. Ada sejumlah poin penting yang disampaikan, di antaranya adalah Presiden kembali menegaskan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Indonesia menentukan kepentingan nasionalnya secara mandiri dan tidak terikat dalam aliansi militer dan blok kekuatan manapun.
Sebagai gantinya, Indonesia memilih fokus pembangun kemitraan dan aliansi ekonomi melalui kerjasama perdagangan, inventasi, dan juga energi serta teknologi dengan berbagai negara. Prabowo menekankan kalau misalnya prinsip diplomasi Indonesia adalah seribu teman terlalu sedikit tapi satu musuh ini terlalu banyak. Ini menegaskan bahwa sikap Indonesia yang tidak ingin terjebak dalam polarisasi kekuatan global dan tetap membuka ruang kerjasama dengan semua pihak.
Selain soal politik luar negeri, Presiden Prabowo juga menyinggung soal program makan bergizi gratis. Presiden menjelaskan bahwa keberhasilan pembangunan suatu negara seharusnya diukur dari dampaknya pada kehidupan rakyat sehari-hari dan bukan semata angka pertemuan ekonomi di atas kertas. Keberadaan dari program MBG ini menunjukkan bahwa rakyat berusaha untuk membangun negaranya, salah satunya dengan meningkatkan kualitas kehidupan rakyatnya.
Kemudian dari sisi perdagangan, Presiden juga menyampaikan target yang konkret, berupa pemberlakuan perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dengan Eurasian Economic Union yang ditargetkan efektif di tahun 2027. Perjanjian ini diharapkan bisa membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia ke kawasan Eurasia.
Presiden juga mengajak Rusia untuk bisa memperluas sektor-sektor strategis dalam konteks kerjasama. Misalnya mulai dari energi terbarukan hingga ketahanan pangan. Ajakan ini menunjukkan bahwa kerjasama kedua negara tidak lagi dibatasi pada sektor tradisional seperti pertahanan, melainkan melebar ke isu-isu yang lebih relevan dengan kebutuhan jangka panjang.
Presiden Prabowo juga menyampaikan prinsip dialog ASEAN dan juga pendekatan di hadapan forum ini. Presiden mengangkat gagasan yang disebut dividen perdamaian, dimana stabilitas yang dijaga ASEAN selama hampir enam dasar warsa telah memberi ruang bagi masyarakat untuk hidup tenang, anak-anak bisa bersekolah tanpa gangguan, dan dunia usaha juga berani untuk berinvestasi. Presiden juga menekankan pentingnya mengutamakan musyawarah dan komunikasi daripada konfrontasi dalam merendam potensi konflik, dan mengajak Rusia dan negara-negara anggota untuk memperluas manfaat perdamaian tersebut melalui hubungan yang lebih erat dengan Asia Tenggara.
Ada momen yang menarik ketika Presiden menyampaikan pidato, yaitu ketika mengutip sebuah pepatah Rusia, yaitu Odin Vepole Nevoan. Kutipan ini disambut senyum dan tepuk tangan langsung dari Presiden Vladimir Putin yang hadir di forum. Presiden menyamakan pepatah Rusia tersebut dengan konsep gotong-royong di Indonesia. Artinya beban seberat apapun akan terasa ringan apabila dipikul bersama-sama.
Pertemuan bilateral Prabowo-Putin
Di sela-sela penyelenggaraan EEF, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Putin menggelar pertemuan bilateral dalam format working lunch. Pertemuan ini berlangsung selama hampir 2 jam. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Putin menegaskan bahwa Indonesia merupakan mitra paling kunci bagi Rusia dalam kerangka kemitraan strategis.
Sementara Presiden Prabowo mengawali pertemuan bilateral dengan mengucapkan selamat ulang tahun kepada Rusia dan juga memohon maaf karena tidak bisa hadir memenuhi undangan dikala itu karena ada urusan dalam negeri yang tidak bisa ditinggalkan. Setidaknya, ada 3 bidang utama yang menjadi fokus pembahasan, yaitu teknologi, maritim, dan juga nuklir. Ketiga bidang ini mencerminkan arah kerjasama yang lebih berorientasi pada transfer pengetahuan dan juga penguatan kapasitas dalam negeri daripada sekedar transaksi dagang jangka pendek.
Mutualisme RI-Rusia
Hubungan Indonesia dan Rusia sesungguhnya mencerminkan pola simbiosis mutualisme yang saling mengisi kebutuhan strategis masing-masing negara. Di tengah dinamika geopolitik global yang tidak pasti, kedua negara ini menemukan kepentingan yang ternyata saling melengkapi.
Misalnya dari sisi Indonesia, ada 4 hal yang dicari. Yang pertama adalah energi. Indonesia berupaya mengamankan pasokan energi alternatif mulai dari penjajakan minyak mentah dan gas alam cair hingga pengembangan energi nuklir untuk kebutuhan domestik.
Kemudian kedua adalah pasar baru. Indonesia ingin membuka akses yang lebih luas sebagai produk ekspor unggulannya seperti kelapa sawit, karet, produk pertanian, dan tekstil ke pasar Rusia maupun kawasan lainnya. Ketiga adalah investasi.
Indonesia berharap bisa menarik modal Rusia untuk proyek infrastruktur berskala besar, sektor manufaktur hingga pembangunan ibu kota Nusantara. Dan yang keempat adalah teknologi. Indonesia mengincar alih teknologi di bidang alutsista, kedirgan taraan, keamanan siber, dan juga digitalisasi.
Sebaliknya dari sisi Rusia juga ada 3 kepentingan utama yang dicari. Yang pertama adalah memperkuat posisi sebagai mitas strategis di Asia. Rusia sangat berupaya untuk bisa memperkuat poros diplomatik dan ekonomi di Asia Tenggara untuk bisa mengimbangi tekanan serta sanksi dari negara-negara barat dengan memandang Indonesia sebagai pemimpin de facto ASEAN yang memiliki posisi politik yang bebas aktif.
Yang kedua adalah investasi. Rusia ingin menanamkan modal di proyek-proyek strategis Asia, khususnya di bidang energi terbarukan, transportasi kereta api, dan juga ketahanan pangan. Ketiga adalah pasar baru. Rusia berupaya untuk bisa mengalihkan rute perdagangan komunitas utamanya seperti minyak, gas, pupuk, dan gandum ke kawasan Asia yang pertumbuhan ekonominya relatif lebih stabil dibandingkan dengan kawasan lainnya.
Pola saling membutuhkan inilah yang menjadi fondasi mengapa hubungan kedua negara terus bergerak maju meskipun berada di kawasan geografis yang berjauhan dan memiliki sistem politik yang berbeda.
Pernyataan Presiden Prabowo
Pernyataan Presiden Prabowo dalam lawatannya ke Vladivostok, Rusia yang patut digarisbawahi sebagai penegasan cara pandang Indonesia terhadap kawasan Pasifik. Presiden Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia yang terletak di antara Samudera Hindia dan Pasifik, Samudera Pasifik tidak memisahkan kita. Samudera Pasifik menghubungkan kita. Ia bukanlah tembok di antara kita. Ia harus menjadi jalan raya antara dua perekonomian kita.
Pernyataan ini menegaskan bahwa Indonesia tidak memandang Samudera Pasifik sebagai batas geografis yang memisahkan, melainkan sebagai ruang strategis untuk bisa membangun konektivitas dan juga membuka peluang ekonomi baru.
Melalui kemitraan yang semakin erat dengan Rusia dan kawasan Eurasia, Indonesia berupaya mengubah kedekatan geografis di kawasan Pasifik menjadi kekuatan nyata untuk bisa memperluas perdagangan, investasi, dan kerjasama yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat kedua negara.
Dari Vladivostok terlihat jelas bahwa romantisme hubungan Indonesia dan Rusia tidak lagi sekadar bertumpu pada nostalgia sejarah lima dasar warsa. Kunjungan kali ini memperlihatkan ada upaya kedua negara untuk bisa menerjemahkan kedekatan historis tersebut menjadi kerjasama yang terukur, mulai dari energi, perdagangan, investasi, hingga teknologi.
Sumber: Redaksi Metro TV