Bisakah Kita Memprediksi Erupsi Gunung Api?

10 September 2026 08:15

Jakarta: Indonesia kembali menghadapi peningkatan aktivitas gunung api. Saat ini, lima gunung api berada dalam status siaga atau level 3. Sementara 22 gunung lainnya berada dalam status waspada atau level 2. 

Di tengah meningkatnya aktivitas jumlah gunung, pertanyaannya kemudian muncul, apakah aktivitas gunung-gunung ini saling berkaitan? Apakah Indonesia sedang menghadapi satu fenomena vulkanik yang lebih besar? Dan yang paling penting adalah seberapa jauh sebenarnya, kita bisa membaca atau juga memprediksi erupsi gunung api?

Aktivitas kegunungan saat ini


Berdasarkan rilis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG, lima gunung api saat ini berada pada level 3 atau siaga. Lima gunung ini adalah Gunung Anak Krakatau, kemudian Gunung Merapi, Gunung Sumeru, Gunung Lewolotobi Laki-Laki, Gunung Sinabung. Sementara itu, 22 gunung api lainnya berada level 2 atau waspada. 

Data dari PVMBG menunjukkan bahwa aktivitas gunung api di Indonesia memang cukup tinggi, namun tingginya aktivitas yang dalam waktu berdekatan belum tentu berarti gunung-gunung ini saling berhubungan.

PVMBG terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas gunung api di Indonesia. Masyarakat di sekitar kawasan gunung api ini juga diimbau untuk tetap tenang, namun tetap waspada dan mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari PVMBG  dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terkonfirmasi. 

Memahami level aktivitas gunung api


Status aktivitas gunung api di Indonesia dibagi menjadi empat level.

Level 1, adalah normal, artinya berdasarkan hasil pengamatan visual maupun instrumental, aktivitas gunung api masih berada pada kondisi normal. Level 2 adalah waspada, pada level ini mulai terpantau atau terekam perubahan aktivitas gunung api dari kondisi dasar aktif normal.

Level selanjutnya adalah level 3 atau juga siaga, artinya perubahan aktivitas gunung api yang sebelumnya sudah terpantau  terus berlanjut dan cenderung membesar. 

Dan level 4 adalah awas atau yang kemudian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil analisis gejala peningkatan aktivitas gunung api cenderung atau juga sangat berpeluang berlanjut jadi letusan dalam waktu dekat. Status siaga ini, bukan berarti bahwa sebuah gunung pasti akan meletus dalam hitungan jam atau hari.

Status ini merupakan indikator bahwa perubahan aktivitas vulkanik sudah semakin nyata, sehingga waspada dan mitigasi harus ditingkatkan. Masyarakat juga diimbau untuk tetap mengikuti informasi  dan sekali lagi rekomendasi resmi dari PVMBG. 

Gunung api saling berkaitan?


Pertanyaan berikutnya, apakah aktivitas gunung-gunung yang sekarang kita lihat ini berkaitan, karena satu gunung meletus kemudian gunung lainnya erupsi?

Jawabannya ternyata tidak. Badan Geologi Kementerian ESDM pernah menegaskan bahwa peningkatan aktivitas vulkanik sejumlah gunung api yang terjadi dalam waktu nyaris berdekatan tidak saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Artinya, aktivitas yang meningkat pada satu gunung api tidak serta-merta menjadi penyebab meningkatnya aktivitas pada gunung api lainnya.

Masing-masing gunung api memiliki kondisi dan karakteristik vulkanik yang berbeda, karena itu meskipun sebenarnya beberapa gunung ini terlihat aktif dalam periode yang berdekatan, bukan berarti ada satu tekanan besar di bawah Indonesia yang kemudian membuat semua gunung akhirnya ikut aktif begitu. 

Bisakah erupsi diprediksi?


Pertanyaan berikutnya, apakah erupsi gunung bisa diketahui atau juga diprediksi? Jawaban ya. Aktivitas gunung api bisa dipantau, tetapi waktu erupsi ini belum bisa diprediksi secara presisi. Para ahli memantau berbagai tanda perubahan aktivitas gunung api, mulai dari misalnya kegempaan, kemudian adanya perubahan bentuk atau deformasi tubuh gunung, aktivitas kawah, kondisi visual, sampai perubahan gas vulkanik.

Dari beberapa data tersebut, para ahli kemudian bisa melihat apakah aktivitas sebuah gunung mengalami peningkatan atau tidak. Data pemantauan juga bisa digunakan untuk menilai potensi erupsi serta menentukan tingkat aktivitas gunung api berdasarkan perkembangan terkini. Tetapi ilmu vulkanologi belum bisa menentukan secara pasti wakt gunung akan meletus.

Karena itu perubahan status menjadi waspada, siaga atau awas sangat penting. Status ini merupakan bagian dari sistem peringatan dini, tujuannya bukan untuk mengatakan secara pasti kapan erupsi akan terjadi, namun memberikan waktu bagi pemerintah dan masyarakat untuk bisa meningkatkan kesiap siagaan dan mengurangi resiko. 

Gunung api tidak bisa dipaksa untuk berhenti beraktivitas, erupsi juga belum bisa diprediksi secara presisi sampai pada hitungan waktu, namun aktivitasnya bisa dipantau, perubahannya bisa dikenali, dan resikonya bisa dikurangi selama masyarakat mengikuti informasi resmi dan rekomendasi dari otoritas. 

Karena Indonesia berada di kawasan ring of fire, hidup berdampingan dengan gunung api bukan berarti hidup dalam ketakutan, namun memahami tanda-tandanya, memahami resikonya, dan selalu siap menghadapi kemungkinan terburuk. 

Sumber: Redaksi Metro TV

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X