Menakar Efek Domino Blokade Selat Hormuz oleh AS

15 April 2026 14:23

Jakarta: Memasuki hari kedua blokade Selat Hormuz yang dilakukan Amerika Serikat (AS), memicu ketegangan baru di tingkat global. Pengamat Hubungan Internasional Teuku Rezasyah menilai, apabila blokade berlanjut maka berpotensi mengganggu pasokan energi dunia dan mendorong lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) secara signifikan.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan global, yang di mana sekitar 20 persen distribusi minyak dan Liquefied Natural Gas (LNG) dunia melewati kawasan ini. Bahkan sejumlah negara seperti Tiongkok, India, Jepang, hingga Korea Selatan sangat bergantung pada jalur tersebut. 

Di sisi lain, ketergantungan AS di Selat Hormuz diperkirakan hanya sekitar 2,5 persen. Situasi inilah yang kemudian dimanfaatkan AS untuk memblokade kawasan tersebut guna menekan potensi ekonomi Iran.

Selain itu, langkah ini juga dinilai dapat mendorong dunia menyetujui Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2817, yang berisi kecaman terhadap Iran, sehingga nantinya kelompok pro-Iran akan semakin berkurang.

Dampak Blokade Selat Hormuz  

Teuku Rezasyah menyoroti bahwa jika blokade Selat Hormuz terus berlanjut, dampaknya bisa meluas hingga ke pelabuhan-pelabuhan utama Iran yang menjadi pusat transaksi dengan negara-negara Commonwealth of Independent States (CIS). Indonesia sebagai negara net-importir energi perlu meningkatkan kewaspadaan. Kenaikan harga minyak mentah dunia diprediksi akan memicu efek domino di dalam negeri, mulai dari pembengkakan subsidi energi hingga kenaikan harga barang pokok.

"Yang juga kita harus perhatikan adalah adanya potensi AS menyerang pelabuhan-pelabuhan laut Iran yang utama. Misalnya ada Bandar Imam Khomeini, Bandar Bushehr, Bandar Anzali. Ini adalah tempat di mana Iran melakukan transaksi dengan negara-negara di CIS," jelas Reza, dikutip dari Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Rabu, 15 April 2026. 
 

Baca Juga: Hari Kedua Blokade AS, Sejumlah Kapal Tanker Tertahan di Selat Hormuz

Negosiasi di Pakistan yang Diragukan

Meski ada rencana perundingan lanjutan antara AS dan Iran di Pakistan, para pengamat meragukan efektivitasnya. Hal ini dipicu oleh ketimpangan kualitas delegasi yang dikirimkan oleh kedua belah pihak.

Iran dilaporkan telah menyiapkan tim ahli yang komprehensif, mulai dari Menteri Luar Negeri hingga pakar nuklir. Sebaliknya, delegasi AS dinilai kurang kuat karena didominasi figur berlatar belakang bisnis seperti Wakil Presiden JD Vance, menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, serta utusan khusus Steve Witkoff.

"Jika kontingen yang dikirim AS masih didominasi figur-figur tersebut, tampaknya sulit mengharapkan penyelesaian nyata dari krisis ekonomi global ini," pungkas Rezasyah.

(Alfiah Ziha Rahmatul Laili)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Sofia Zakiah)