10 October 2026 09:42
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai tingkat inflasi di Indonesia masih relatif terkendali di tengah defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Berdasarkan data dalam konferensi pers APBN Kita edisi Oktober, inflasi umum secara tahunan tercatat sebesar 3,28 persen, sementara inflasi inti berada pada level 2,84 persen.
Meskipun indikator ekonomi menunjukkan kondisi yang stabil, pemerintah tetap mewaspadai potensi kenaikan inflasi pangan akibat ancaman fenomena El Nino dan kekeringan. Untuk mengantisipasi dampak tersebut, koordinasi antarkementerian diperkuat guna menjamin ketersediaan pasokan serta stabilitas harga pangan.
Dinamika Harga Emas dan Daya Beli Masyarakat
Dalam keterangannya, Suahasil Nazara menjelaskan bahwa penurunan inflasi inti dari bulan Agustus ke September terutama dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas emas perhiasan. Jika komponen emas dikeluarkan dari perhitungan, inflasi inti sebenarnya mengalami kenaikan dari 2,35 persen pada Agustus menjadi 2,49 persen pada September. Kenaikan ini menandakan bahwa permintaan agregat (aggregate demand) dan daya beli masyarakat masih terjaga kuat.
"Agustus ke September itu kok agak turun? Itu adalah faktor emas. Harga emas perhiasan itu menyumbang utama inflasi inti. Kalau emasnya saya keluarkan dari perhitungan inflasi inti, maka, itu poin yang terakhir, tanpa emas, inflasi inti itu sebenarnya masih naik. Agregat demand itu masih kuat. Oke, inflasi inti dengan mengeluarkan emas itu naik dari 2,35 persen di bulan Agustus menjadi 2,49 persen, inflasi inti tanpa komoditas emas," ujar Suahasil Nazara dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Sabtu, 10 Oktober 2026.