Jakarta: Dunia saat ini mengalami lonjakan harga plastik yang cukup drastis. Kondisi ini tidak hanya membuat pengusaha besar harus putar otak, tapi juga membuat para pelaku UMKM kita tercekik.
Kenaikan harga plastik
Apa sebenarnya yang terjadi dibalik kenaikan harga plastik ini? Dan seperti apa upaya untuk bisa menyiasatinya? Kita lihat dulu data yang pertama. Bahwa harga bahan baku plastik khususnya jenis polietilena atau PE dan juga polipropilena atau PP telah melonjak hingga mencapai 70% kenaikan harganya.
Angka ini tentu sangat fantastis. Mengingat plastik adalah bahan utama dari industri pengemasan kita. Baik untuk makanan yang food grade atau untuk barang-barang yang perlu dikemas lainnya untuk tujuan pengiriman misalnya.
Penyebab utama dari kondisi kenaikan harga plastik ini tentu adalah kondisi
geopolitik dunia yang berpengaruh pada rantai pasok. Dimana harga minyak mentah dunia yang juga mengalami kenaikan otomatis membuat harga nafta. Nafta ini merupakan bahan dasar dari plastik yang juga harganya ikut melambung.
Kita masih terkendala juga pemirsa terkait dengan masalah logistik global. Yang mana ini terjadi adanya penundaan pengiriman beberapa bahan baku misalnya. Dan selain itu juga nilai tukar rupiah yang sampai saat ini juga masih mengalami tekanan atau melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Ini membuat impor dari produk ataupun bahan baku utama plastik seperti nafta tentu harganya juga jadi naik. Nah efeknya pemirsa hampir semua jenis kemasan yang kita gunakan sehari-hari ini mengalami kenaikan harga. Mulai dari kantong kresek, kemudian juga saset makanan serta minuman ini mengalami kenaikan.
Bahkan untuk plastik yang berbahan baku seperti botol air mineral dan juga toples makanan ini juga mengalami kenaikan harga. Barang-barang yang memang tanpa kita sadari ini selalu kita konsumsi setiap hari bahkan dalam satu hari bisa lebih dari satu kali. Dan untuk Anda yang sering berbelanja online misalnya biaya pengiriman atau pengemasan bisa jadi ikut terdampak, ikut naik karena harga plastik pembungkus yang mana disebut istilahnya stretch film atau juga bubble wrap ini mengalami kenaikan harga yang bisa jadi berpengaruh pada ongkos yang harus Anda bayarkan setiap berbelanja online.
UMKM tercekik biaya operasional
Lalu siapa yang sebetulnya paling terpukul dalam kenaikan harga plastik ini? Sebetulnya kenaikan harga plastik sudah terjadi secara global dan dari hulu sampai hilir industri ini harus putar otak bagaimana untuk bisa mempertahankan margin keuntungan tapi barang dagangan bisa tetap laku. Kalau kita lihat dari sektor UMKM saja saat ini biaya operasional para pedagang kecil naik rata-rata 30 persen. Ini baru hanya komponen kemasan pemirsa, belum komponen bahan-bahan baku lainnya.
Dan agar tetap bisa bertahan para pelaku UMKM kemudian terpaksa mengambil langkah yang dilematis. Pedagang yang kami temui ini ada yang bahkan menaikkan harga jual mulai dari 5 sampai dengan 15 persen supaya mereka bisa tetap mendapatkan keuntungan. Tapi ada juga yang memilih strategi lain seperti yang kita kenal dengan istilah shrinkflation atau mengurangi ukuran dari produk.
Harganya sama tapi produknya misalnya makanan jadi porsinya lebih kecil dan ukurannya juga jadi lebih mini. Nah pilihan lain yang juga mengkhawatirkan sebagian dari UMKM kemudian beralih ke plastik daur ulang yang harganya memang lebih murah tapi kualitas dan keamanannya apalagi untuk food grade ini mungkin masih diragukan atau perlu kajian lebih lanjut. Dan untuk menanggapi adanya krisis plastik ini, Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia atau INAPLAS ini menyatakan bahwa pasokan memang saat ini sedang sulit.
Sekjen INAPLAS Fajar Budiono menyatakan bahwa Indonesia kini sedang berupaya untuk mencari sumber bahan baku baru. INAPLAS menyatakan bahwa pihaknya saat ini sudah mulai berkomunikasi dengan adanya supplier nafta lain selain dari Timur Tengah alternatifnya yaitu dari Asia Tengah, Afrika dan juga Amerika. Yang jelas lead time ini bisa lebih lama mencapai setidaknya 50 hari dan semua negara saat ini sedang berusaha untuk mengamankan feedstock atau pasokan dari plastik mereka.
Jenis kemasan plastik alami
Artinya kita sedang berebut bahan baku sebetulnya dengan negara lain sehingga ketidakpastian harga mungkin masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Dan di tengah situasi seperti ini apakah kita punya pilihan lain sebetulnya? Adakah alternatif dibandingkan plastik? Sebetulnya ada tapi memang harganya mungkin lebih mahal dari plastik atau tidak sepraktis plastik dalam penggunaannya. Misalnya kalau kemudian Anda perlu berbelanja ini bisa menggunakan tas kertas atau paper bag.
Secara visual memang lebih estetik begitu tapi biayanya sebetulnya bisa dua kali lipat dibandingkan dengan plastik resek. Lalu ada juga jenis plastik yang ini terbuat dari singkong atau bioplastik yang tentunya lebih ramah lingkungan. Tapi harganya ini masih tergolong tinggi, biaya produksinya lebih tinggi dibandingkan plastik biasanya yang bisa mencapai tiga kali lipat lebih mahal.
Ada juga solusi tradisional misalnya untuk daun pisang atau besek. Ini yang juga bisa menjadi solusi untuk berbelanja makanan atau mengemas makanan tapi kemudian ketersediaannya untuk di beberapa wilayah apalagi di kota besar mungkin masih terbatas. Dan kalau mungkin Anda sudah menyimpan ada banyak tas kain atau spoon bone ini juga sebetulnya bisa digunakan.
Tapi tentu memerlukan inisiatif dari setiap konsumen untuk bisa terus membawa spoon bone itu kemanapun ketika ingin berbelanja. Ada satu lagi pemirsa wadah yang bisa Anda gunakan yaitu kotak makan plastik atau kotak makan kaca. Apalagi kalau memang ini sudah terstandarisasi untuk makanan tentunya bisa lebih aman tapi sekali lagi ini cenderung tidak praktis meskipun pilihan yang cukup ramah lingkungan.
Dan kenaikan harga plastik ini bukan sekedar masalah harga kantong kresek saja. Ini adalah sinyal bahwa rantai pasok dunia sedang tidak baik-baik saja. Kita tentu menantikan langkah intervensi seperti apa yang akan dilakukan oleh pemerintah dan juga penyesuaian yang akan dilakukan oleh pasar.
Namun dukungan kita kepada UMKM lokal ini sangat dibutuhkan sekaligus menjadi momentum untuk mulai mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai.