Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, menyatakan bahwa pembelajaran vokasi di madrasah aliyah dan pesantren yang selama ini hanya berstatus sebagai program tambahan akan ditingkatkan menjadi kurikulum berbasis kompetensi yang terstruktur. Hal ini bertujuan agar para lulusan setingkat pendidikan menengah keagamaan memiliki kesiapan kerja sekaligus keterampilan berwirausaha secara mandiri.
"Pengalaman menunjukkan melalui kurikulum berbasis kompetensi yang selama ini sifatnya hanya tambahan—tambahan keterampilan tertentu, tambahan skill tertentu, tambahan paket kajian tertentu atau kurikulum tertentu—ini kita akan dorong terus agar baik madrasah maupun pesantren di level aliyah juga dipersiapkan menjadi lulusan yang siap kerja maupun siap mandiri," ujar Cak Imin usai rapat koordinasi dengan Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta, Senin, 18 Oktober 2026.
Muhaimin menguraikan bahwa siap kerja berarti lulusan memiliki kualifikasi yang relevan untuk diserap oleh pasar tenaga kerja sesuai tingkat pendidikan menengah. Sementara itu, kesiapan berwirausaha ditanamkan melalui penguatan unsur pemberdayaan dan kemandirian agar santri mampu menjadi pelaku usaha baru di tengah masyarakat.
Selain pembenahan kurikulum, pemerintah juga mendorong peran pesantren sebagai ekosistem pemberdayaan ekonomi yang produktif. Muhaimin mencontohkan Pesantren Al-Ittifaq di Bandung yang sukses bertransformasi menjadi komunitas agrobisnis mandiri yang mampu menopang ekonomi internal pesantren sekaligus menggerakkan perekonomian warga sekitar.
"Banyak sekali pesantren-pesantren yang sudah mandiri menjadi ekosistem ekonomi yang sangat produktif. Al-Ittifaq di Bandung bisa dijadikan contoh, pesantren menjadi komunitas agrobisnis yang akhirnya bisa tidak saja menghidupi pesantrennya, tetapi juga menghidupi masyarakat dan lingkup pesantren lainnya," tutur Muhaimin.
Pemerintah melalui Kemenko Pemberdayaan Masyarakat akan menggalang sinergi lintas kementerian serta menggandeng dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk memperkuat pesantren-pesantren yang mayoritas santrinya berasal dari keluarga desil 1 hingga 4 kemiskinan.
Menurut Muhaimin, pondok pesantren memiliki keunggulan komparatif karena telah memiliki fondasi pasar, konsumen, dan ketersediaan bahan baku yang nyata di tingkat akar rumput.
"Jadi pesantren mayoritas anak didik atau santrinya adalah berlatar belakang desil 1 sampai 4i ni mendapatkan perhatian khusus dalam memberikan pemberdayaan berbasis ekosistem pesantren yang sudah sangat kuat, yaitu ekosistem ekonomi, pasarnya ada, konsumennya ada, bahan bakunya juga ada," pungkas Cak Imin. (Ajeng Putri)