Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengirim hujan rudal ke pangkalan udara Amerika Serikat (AS), di Kuwait. Langkah ini diambil Teheran sebagai aksi balasan sekaligus peringatan keras menyusul serangan udara yang dilancarkan AS beberapa jam sebelumnya.
Serangan ini dipicu oleh aksi pemboman Pentagon di wilayah dekat Bandar Abbas, sebuah kota pelabuhan strategis di Iran Selatan, yang terjadi hanya beberapa jam sebelum Iran melakukan balasan. Aksi balas membalas ini memicu eskalasi konflik yang kian memanas di Timur Tengah.
Dikutip dari tayangan
Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Jum'at 29 Mei 2026, pihak Washington melalui media resminya mengonfirmasi bahwa serangan mereka ke wilayah Iran bertujuan untuk melumpuhkan situs militer yang dianggap mengancam pasukan koalisi.
Selain itu, AS berdalih langkah tersebut diambil demi mengamankan jalur kapal komersial di
Selat Hormuz yang sangat vital bagi perdagangan dunia.
Menanggapi situasi yang kian memanas, Kementerian Luar Negeri Iran melayangkan kecaman keras terhadap aksi
Pentagon. Teheran menyebut AS telah berulang kali mengabaikan kesepakatan dan melanggar perjanjian gencatan senjata yang ada, sehingga memicu konflik terbuka di kawasan tersebut.
Trump Tidak Puas
Eskalasi terbaru ini terjadi setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) pada awal pekan mengonfirmasi serangan terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran.
Teheran mengecam operasi tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Presiden AS
Donald Trump sebelumnya juga menyinggung mandeknya proses negosiasi dengan Iran. “Saya tidak puas dengan itu, tetapi kita akan puas. Atau, kita harus menyelesaikan pekerjaan ini,” kata Trump.
Ketegangan kawasan meningkat sejak 28 Februari lalu ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Sebagai respons, Teheran meluncurkan serangan drone dan rudal serta menutup akses Selat Hormuz.
Gencatan senjata kemudian diberlakukan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, namun perundingan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan damai permanen.
Trump selanjutnya memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu sambil tetap memberlakukan blokade pelayaran di kawasan strategis tersebut.