16 July 2026 08:08
Perayaan hari nasional Prancis, Hari Bastille, diwarnai aksi unjuk rasa besar-besaran dari kelompok sayap kanan. Ribuan pendukung politisi Florian Philippot turun ke jalan untuk memprotes keputusan pemerintah yang menyertakan pasukan Ukraina dalam parade militer nasional tersebut.
Massa berkumpul dan melakukan long march di kawasan Montparnasse, Paris. Selain mengibarkan bendera Prancis, para demonstran juga membawa spanduk bertuliskan "FREXIT" sebagai bentuk desakan agar Prancis keluar dari Uni Eropa, serta menyuarakan penolakan terhadap kebijakan-kebijakan Uni Eropa.
Pemimpin partai Les Patriotes, Florian Philippot, secara terang-terangan melontarkan kritik kepada Presiden Emmanuel Macron. Philippot menilai perayaan Hari Bastille tahun ini telah kehilangan esensinya karena diubah menjadi panggung dukungan politik bagi Ukraina, alih-alih menjadi momen penghormatan murni bagi tentara Prancis.
Dalam unjuk rasa tersebut, para peserta aksi juga meneriakkan tuntutan agar pasukan Ukraina dan NATO segera meninggalkan Prancis. Mereka menuduh pemerintahan Macron mengambil langkah-langkah diplomatik dan militer yang berisiko memperburuk konflik yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina.
Aksi protes ini menunjukkan adanya polarisasi di tengah masyarakat Prancis terkait keterlibatan negara dalam konflik regional serta hubungan masa depan Prancis dengan Uni Eropa dan NATO.