Jakarta: Indonesia kehilangan salah satu figur senior di bidang seni budaya dan politik. Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra berpulang pada usia 73 tahun. Putra bungsu dari pasangan Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati ini dikenal luas atas kontribusinya dalam pengembangan seni pertunjukan modern berbasis tradisi, serta pengabdiannya di parlemen selama beberapa periode.
Masa Muda
Lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953,
Guruh tumbuh di lingkungan keluarga istana yang lekat dengan dinamika politik nasional. Meski demikian, sejak kecil ia menunjukkan ketertarikan yang kuat pada bidang seni. Pada usia lima tahun, ia mulai mempelajari berbagai tarian tradisional daerah, seperti tari Jawa, Sunda, dan Bali, serta mendalami instrumen piano. Memasuki usia remaja pada 1965, Guruh mendirikan grup musik bernama The Beat G sebagai bentuk awal perambahannya ke dunia musik.
Karier Musik
Karier musik Guruh mencatatkan pencapaian penting pada 1975 saat ia merilis album Guruh Gipsy. Proyek musik eksperimental ini memadukan unsur musik modern Barat dengan instrumen gamelan Bali, yang kemudian menjadi penanda gaya bermusiknya dalam mengolah tradisi lokal ke format kontemporer.
Dua tahun setelahnya, tepatnya pada 27 Maret 1977, Guruh mendirikan kelompok seni Swara Maharddhika yang berfokus pada seni tari dan musik pertunjukan. Lembaga ini kemudian berkembang menjadi yayasan pada 1987 dan memproduksi sejumlah pergelaran skala besar, di antaranya Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I (1979), Untukmu Indonesiaku (1980), serta Jak Jak Jak Jakarta (1987).
Kiprah Perfilman
Selain pengolahan musik panggung, Guruh terlibat dalam industri perfilman nasional sebagai penata musik. Karya penataannya hadir dalam beberapa film, seperti Ali Topan Anak Jalanan, Gita Cinta dari SMA, dan Puspa Indah Taman Hati. Atas perannya dalam penataan musik film tersebut, ia meraih penghargaan Penata Musik Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 1978 di Ujung Pandang.
Di tingkat internasional, lagu ciptaannya yang berjudul Kembalikan Baliku mewakili Indonesia dalam ajang World Popular Song Festival di Tokyo, Jepang. Ajang tersebut memberikan penghargaan Kawakami Award dan Audience Selections Award untuk karya tersebut.
Aktivitas Politik
Di luar ranah kesenian, Guruh menempuh pendidikan tinggi di dalam dan luar negeri. Ia sempat menimba ilmu di jurusan Arkeologi Universitas Amsterdam pada kurun waktu 1971-1974. Selanjutnya, ia menyelesaikan studi program Magister Sains (M.Si.) di bidang Ilmu Administrasi Publik pada 2012.
Karier politik Guruh berjalan konsisten bersama
Partai Demokrasi Indonesia (PDI), yang kemudian bertransformasi menjadi PDI Perjuangan. Ia mencatatkan masa bakti yang panjang sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Timur pada beberapa masa jabatan, yaitu:
1992-1997: Anggota DPR RI (Dapil Jawa Timur)
2004-2009: Anggota DPR RI (Dapil Jawa Timur VI)
2009-2019: Anggota DPR RI (Dapil Jawa Timur I)
2019-2024: Anggota DPR RI (Dapil Jawa Timur VI)
(Titik Nurmalasari)