Jakarta: Tempat Pemakaman Umum (TPU) identik dengan kesan mistis, horor, dan penuh suasana mencekam selama ini. Namun, di tangan komunitas Indonesia Graveyard, area pemakaman justru disulap menjadi museum terbuka, ruang belajar sejarah yang interaktif bagi masyarakat.
Melalui kegiatan penelusuran sejarah berbasis batu nisan, komunitas yang berdiri sejak 2017 ini mengajak warga untuk mendobrak rasa takut dan melihat TPU dari sudut pandang edukasi dan kebudayaan.
Pemandu (Guide) Komunitas Indonesia Graveyard, Reyhan Biadillah, mengungkapkan bahwa komunitas ini digagas oleh almarhum Deni dan Hanunsari Paramita (Ruri Hardjono). Tujuan utamanya adalah mengikis pandangan umum masyarakat yang kerap mengaitkan TPU dengan hal-hal ghaib.
"Awalnya tujuan utama kami itu menepis anggapan masyarakat dan tradisi orang Indonesia bahwa makam itu mistis. Kita tidak mengambil ke arah sana. Kita melihat jika ada makam, siapa tokohnya, kenapa beliau dihormati, dan hal unik apa dari nisannya maupun bangunan makamnya. Hal-hal berbau horor kami singkirkan," ujar Reyhan, dalam segmen Metro Community Metro TV, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Komunitas itu berkesempatan menelusuri
TPU Tanah Kusir. Para peserta diajak menyambangi peristirahatan terakhir sejumlah tokoh bangsa dan pahlawan nasional. Salah satunya adalah makam Proklamator sekaligus Bapak Koperasi Indonesia, Mohammad Hatta (Bung Hatta).
Selain Bung Hatta, rombongan juga mengunjungi pusara ulama besar sekaligus sastrawan legendaris Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) yang bersahaja, serta pahlawan musik Indonesia, Glenn Fredly, yang ditandai ornamen ukiran gitar unik di atas nisannya.
Reyhan menjelaskan, dari fisik nisan saja masyarakat dapat mempelajari perbedaan tradisi dan budaya dari tiga jenis pemakaman utama di Jakarta, yakni makam Muslim, Tionghoa (Bong), dan Eropa (Kerkhof).
"Makam Tionghoa dan Eropa biasanya punya inskripsi atau tulisan latin dan Mandarin yang jelas, sehingga tokoh dan jasanya mudah ditelusuri. Sedangkan makam Muslim kuno menjadi yang paling menantang karena bentuk nisannya unik menandakan zamannya, namun seringkali tidak memiliki inskripsi nama tokoh," katanya.
Inisiatif komunitas ini mendapat sambutan hangat dari para peserta. Diela Dachlan, salah seorang anggota komunitas, menilai penjelajahan TPU memberikan sensasi belajar sejarah yang tidak didapatkan di dalam ruang kelas.
"Sama seperti orang ke museum untuk melihat benda, kita ke makam itu untuk menyimak cerita, kisah, budaya, hingga tipologi makamnya. Dari bentuk nisan saja kita bisa menggali jauh ke belakang cerita sejarah di balik sosok tersebut," tutur Diela.
Hal senada disampaikan peserta lainnya, Dian Permana. Pengalaman menelusuri makam lama di berbagai daerah, seperti penemuan nisan pejabat Belanda di Jambi, memberinya pemahaman bahwa kompleks pemakaman adalah catatan sejarah yang merekam perjalanan bangsa lintas periode.
Melalui pendekatan edukatif ini, Indonesia Graveyard kini membuka ruang kontribusi bagi masyarakat di seluruh Indonesia untuk ikut mendokumentasikan dan membagikan situs-situs makam bersejarah di wilayah masing-masing, mengubah kompleks TPU menjadi ruang terbuka untuk merawat ingatan sejarah bangsa.