Menlu Sugiono Ungkap Alasan Pilih 'Diplomasi Senyap' dalam Pembebasan 9 WNI Global Sumud Flotila

30 May 2026 09:01

Jakarta: Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) akhirnya berhasil dibebaskan oleh militer Israel dan tiba di Tanah Air dengan selamat. Di balik proses pembebasan, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menerapkan strategi 'diplomasi senyap' demi menjamin keselamatan nyawa para relawan.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono, mengungkapkan bahwa pilihan untuk bergerak tanpa publikasi masif di media merupakan langkah taktis yang penuh perhitungan. Menurutnya, di tengah situasi perang yang sangat tidak dapat diprediksi, gembar-gembor informasi justru berpotensi menjadi bumerang.

"Dalam situasi seperti ini ada hal-hal yang sangat sensitif. Contohnya sensitif adalah jika terlalu banyak publikasi yang berlebihan, yang kemudian mencerminkan pandangan-pandangan dan pernyataan dari berbagai pihak, dari berbagai kalangan justru bisa menjadi satu hal yang menurut saya berbahaya bagi keselamatan WNI," kata Sugiono, eksklusif di Primetime News Metro TV, Sabtu, 30 Mei 2026.

Sugiono menjelaskan, publisitas yang terlalu agresif dikhawatirkan dapat memancing provokasi atau membuat pihak militer Israel mengkaji ulang keputusan pembebasan tersebut. Oleh karena itu, Kemenlu memilih fokus pada jalur diplomasi taktis di belakang layar.

 

 

Pantau berkala


Sugiono membeberkan, informasi awal yang diterima Kemenlu pada 19 Mei sempat simpang siur. Laporan jumlah WNI yang ditahan terus berubah dalam hitungan jam. Mulai dari lima orang, menjadi tujuh, hingga akhirnya terkonfirmasi ada sembilan WNI yang yang turut ditahan oleh militer Israel.

Begitu mendapat perintah tegas dari Presiden Prabowo Subianto untuk membawa pulang para WNI dalam kondisi selamat, Menlu Sugiono langsung mengomandoi koordinasi darurat dengan perwakilan RI di Yordania dan Turkiye, serta berjejaring dengan Global Palestine Coalition (GPCI).


(Menlu Sugiono saat menjemput kedatangan sembilan WNI relawan GSF di Bandara Soekarno-Hatta. Foto: Metro TV/Dimas Chairullah)

"Kami tidak punya mata dan telinga langsung di lapangan. Karena itu kami berkoordinasi ketat dengan pemerintah Türkiye dan Yordania untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya di tengah situasi perang dan keterbatasan informasi," katanya.

Selama proses negosiasi hingga evakuasi berjalan, Kemenlu sengaja membatasi pernyataan pers. Mereka memlih untuk memantau secara berkala untuk mengetahui perkembangan yang pasti

"Kami memantau perkembangannya itu jam demi jam. Jadi tidak mungkin juga sempat untuk memberikan press statement atau update. Senyap sedemikian rupa sehingga tidak ada hal-hal yang sifatnya memancing atau memprovokasi. Yang penting sembilan WNI ini bisa selamat," tutur Sugiono.

Meski berharap proses berjalan cepat, Menlu Sugiono mengakui dirinya sempat terkejut dan tidak menyangka pembebasan ini bisa terealisasi dalam waktu singkat. Sebab, pada insiden Flotilla sebelumnya memakan waktu lebih lama.

Ketegangan bahkan memuncak hingga menit-menit terakhir proses evakuasi udara menggunakan maskapai Turkish Airlines, dari wilayah konflik menuju Istanbul. Jadwal penerbangan yang semula direncanakan tinggal landas pukul 18.50 waktu setempat, sempat tertunda hingga pukul 19.25.

"Itu ada tiga pesawat, dan saya menunggu sampai pesawat ketiga benar-benar keluar dari wilayah udara mereka. Kita pantau satu per satu, jam per jam. Ini situasi konflik, kita tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi di udara," ucapnya.

(Gervin Nathaniel Purba)