Biaya Operasional Hotel Terdampak Penguatan Dolar AS

9 June 2026 16:32

Bandar Lampung: Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah mulai memberikan tekanan kepada industri perhotelan dan restoran di Lampung. Kenaikan kurs yang telah menembus level Rp18 ribu per dolar AS dinilai menyebabkan biaya operasional usaha membengkak, terutama untuk bahan baku dan perlengkapan yang masih bergantung pada impor.

Dalam sepekan terakhir, pengusaha hotel dan restoran mengaku mulai merasakan dampak langsung dari kenaikan dolar. Harga sejumlah bahan baku impor, peralatan dapur, hingga biaya logistik mengalami kenaikan yang berdampak pada meningkatnya biaya produksi.
 



Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi Badan Pimpinan Pusat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Yuno Abeta Lahay, mengatakan penguatan dolar tidak hanya memengaruhi harga komoditas, tetapi juga berbagai komponen penunjang operasional usaha.

"Kenaikan dolar tentu berdampak terhadap harga komoditas dan juga memengaruhi biaya logistik serta berbagai kebutuhan penunjang bisnis. Dampaknya mulai dirasakan secara bertahap oleh para pelaku usaha," ujar Yuno saat menghadiri persiapan Musyawarah Daerah (Musda) ke-10 PHRI Provinsi Lampung.

Menurutnya, para pelaku usaha berada dalam posisi yang sulit karena harus menyesuaikan biaya operasional yang meningkat, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Kondisi tersebut membuat banyak pengusaha berhati-hati untuk menaikkan harga jual produk maupun layanan.

"Ada kalanya pelaku usaha khawatir menaikkan harga karena takut memengaruhi permintaan. Sebagian bahkan memilih mengurangi kuantitas produk dibandingkan langsung menaikkan harga jual. Itu juga merupakan dampak dari kenaikan biaya akibat penguatan dolar," kata Yuno.

Yuno menjelaskan, industri perhotelan tidak hanya menjual layanan akomodasi, tetapi juga memiliki bisnis makanan dan minuman yang sangat bergantung pada pasokan bahan baku. Ketika bahan yang digunakan masih harus diimpor dan transaksi menggunakan dolar AS, maka kenaikan kurs secara otomatis akan memengaruhi harga pokok usaha.

"Hotel menjual jasa, akomodasi, sekaligus makanan dan minuman. Banyak bahan baku yang kami gunakan mengalami kenaikan harga. Apalagi untuk bahan yang masih harus diimpor karena seluruh pembayaran menggunakan dolar AS. Kondisi ini tentu membuat harga pokok usaha ikut terkoreksi," ujar Yuno.

Selain meningkatnya biaya operasional, PHRI juga mencatat tingkat hunian hotel dalam beberapa bulan terakhir mengalami penurunan. Kondisi tersebut semakin menambah tekanan terhadap pelaku usaha di sektor pariwisata dan perhotelan.

Meski demikian, Yuno menegaskan pengusaha tetap berupaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan bisnis dan kemampuan konsumen. Karena itu, penyesuaian harga dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi pasar.

"Kami memahami kebutuhan konsumen dan kondisi pasar. Karena itu, jika harus melakukan koreksi harga, kami akan melakukannya dengan sangat hati-hati. Namun secara industri, ada saatnya kami harus menyesuaikan harga untuk menjaga keberlangsungan usaha," tutur Yuno.

PHRI berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Selain itu, pelaku usaha juga mengusulkan adanya insentif pajak maupun keringanan bea masuk untuk bahan baku impor yang belum dapat diproduksi di dalam negeri.

"Kalau bicara harapan, tentu kami berharap kondisi ini segera membaik. Kenaikan dolar dari kisaran Rp16 ribuan hingga di atas Rp18 ribu berarti sudah lebih dari 12 persen. Dampaknya terhadap biaya usaha juga cukup besar dan pada akhirnya akan memengaruhi harga," kata Yuno.

(Zein Zahiratul Fauziyyah)