Penutupan Selat Hormuz Guncang Perekonomian Singapura

30 March 2026 15:10

Jakarta: Krisis energi di kawasan Asia semakin mengkhawatirkan setelah penutupan Selat Hormuz akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel. Penutupan ini berdampak pada meningkatnya biaya logistik dan ancaman perlambatan ekonomi seperti yang dirasakan oleh Singapura. 

Selat Hormuz merupakan jalur penting distribusi energi dunia dengan hampir seperempat perdagangan minyak dunia melewati wilayah tersebut, Penutupan Selat Hormuz berdampak besar bagi pasokan energi global. 

Hampir di seluruh negara Asia mulai merasakan dampaknya, mulai dengan adanya pengurangan hari kerja hingga penutupan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di sejumlah negara. 

Singapura menjadi salah satu negara Asia yang terdampak. Dengan penutupan Selat Hormuz, biaya logistik di negara tersebut meningkat sigfinikan. Biaya bahan bakar kapal (bunker) meningkat hampir dua kali lipat. Analis dari Standard & Poor's Global Energy (S&P) menyebut harga bunker melonjak dari USD500 menjadi USD1.000. 
 

Baca Juga: Pemerintah Perkuat Koordinasi Demi Kapal RI Bisa Lintasi Selat Hormuz

Tak hanya itu, distribusi komoditas seperti batu bara juga terhambat akibat tingginya risiko dan biaya operasional. Meski cadangan energi di Singapura masih terjaga, namun meroketnya harga energi mulai dirasakan di dunia usaha dan konsumen.

Para ekonom memperkirakan apabila ketegangan terus berlanjut, hal ini dapat menekan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura serta mendorong kenaikan harga barang dan jasa.

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan, menyebut penutupan Selat Hormuz merupakan krisis besar yang menguji ketahanan kawasan Asia. Sementara itu, Singapura juga kini bersiaga menghadapi dampak ekonomi lainnya yang tidak menentu. 

(Alfiah Ziha Rahmatul Laili)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Nopita Dewi)