Pemerintah Singapura Tanggung Biaya Pengobatan Penderita Gangguan Pernapasan Akibat Asap Karhutla

14 October 2026 17:58

Singapura: Pemerintah Singapura memberikan subsidi pengobatan bagi warganya yang mengalami gangguan pernapasan akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan pernyataan tertulis dari Menteri Kesehatan (Menkes) Singapura, penyakit gangguan pernapasan yang disubsidi antara lain rinitis alergi, asma, bronkitis, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), dan komplikasinya. 

Dikutip dari tayangan Prioritas Indonesia Metro TV, Rabu, 14 Oktober 2026, dengan subsidi yang diberikan, masyarakat Singapura hanya perlu membayar maksimal SGD10 dolar atau setara dengan Rp140 ribu. Sementara untuk warga yang berusia 67 tahun ke atas hanya diminta untuk membayar sebesar SGD5 dolar atau setara dengan Rp70 ribu.

Selain itu, pekerja yang menggunakan transportasi umum serta kurir juga mendapatkan masker N95 gratis yang dibagikan oleh Serikat Pekerja Nasional (SPN).

Singapura terakhir kali mengaktifkan skema subsidi kabut asap pada 2015, saat asap dari kebakaran hutan menyelimuti Asia Tenggara selama berminggu-minggu. Kondisi tersebut menyebabkan penutupan sekolah dan pembatalan jadwal penerbangan. 

Sementara itu, Pemerintah Indonesia memahami keresahan warga negara Malaysia dan Singapura terkait kabut asap karhutla yang melintasi batas negara. Kepala Badan Komunikasi (Bakom RI), Syahganda Nainggolan, menegaskan bahwa fenomena asap lintas batas tersebut berada di luar faktor kesalahan manusia (human error) melainkan murni dampak dari fenomena alam.

"Kita juga minta kepada semua tetangga kita untuk mengerti ini adalah di luar human error, ini betul-betul alam." kata Syahganda Nainggolan, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Selasa, 13 Oktober 2026.

Dalam keterangannya, Syahganda mengimbau negara-negara tetangga untuk saling mengerti dan memahami kondisi dinamika alam ini. Ia menjelaskan bahwa hutan-hutan di Indonesia tidak hanya menghasilkan asap saat terjadi kebakaran, melainkan secara berkelanjutan menjadi penyedia pasokan oksigen alami bagi wilayah Singapura dan Malaysia.

"Kita ini juga berusaha menjelaskan kepada mereka, kita bukan hanya mengirim asap, tapi kalau asapnya enggak ada, kita mengirim oksigen. Oksigen Singapura dan Malaysia itu kan datang dari hutan-hutan kita, ya." ucap Syahganda.

(Lutfia Azzahra)

(Gervin Nathaniel Purba)


Close Ads X
Close Ads X