Jakarta: Pameran tunggal seniman Resiyaman bertajuk 'Seen & Unseen' digelar di Balai Budaya Jakarta, Menteng, pada 10-19 April 2026. Melalui karya-karya lukisan abstrak ekspresionisme yang dipadukan dengan puisi karya Iwan Jaconiah, pameran ini menghadirkan ruang dialog antara seni visual, emosi, dan refleksi batin bagi para pengunjung.
Dalam pameran tunggalnya yang digelar di Balai Budaya Jakarta, Resiyaman tidak sekadar memajang pulasan warna Abstrak Ekspresionisme. Lebih dari itu, ia menawarkan sebuah pengalaman psikologis dan spiritual yang sangat mendalam bagi para penikmat seninya.
Bagi seniman muda ini, dimensi spiritual dalam karyanya bukanlah sesuatu yang berkaitan dengan hal mistis, melainkan sebuah metode pengelolaan emosi jiwa dan kesadaran diri.
“Kalau spiritualism itu lebih ke proses kaya untuk menenangkan diri,” jelas Resiyaman saat wawancara langsung di Balai Budaya Jakarta, Jumat 10 April 2026.
Hal ini sangat terlihat dari teknik melukisnya yang kerap menggunakan pola repetitif. Pola bintik atau polkadot yang memenuhi latar belakang kanvasnya ternyata memiliki peran terapeutik yang sangat kuat. Ia menggunakan metode tersebut untuk menyalurkan energi dan gejolak pikirannya secara terorganisir.
“Banyaknya itu ada pola bintik-bintiknya, ada polkadot. Setiap bintik-bintik yang saya tuangkan melalui kuas saya itu benar-benar bisa menenangkan pikiran saya, mengontrol emosi saya, sehingga saya bisa lebih fokus lagi dalam berkarya,” tambahnya.
Lewat tema Seen & Unseen, Resiyaman berupaya meruntuhkan dinding pembatas antara otoritas seniman dan audiens. Ia menolak memberikan satu arti mutlak pada lukisannya dan justru memberikan panggung kebebasan bagi para pengunjung.
“Tidak hanya saya saja yang berekspresi terhadap lukisan ini, terhadap hasilnya, tapi masyarakat itu dilibatkan, diterima. Di mana publik itu punya arti tersendiri terhadap lukisan-lukisan saya,” tegasnya.
Ia menyadari penuh bahwa gaya abstrak memang bertujuan untuk membuka jutaan kemungkinan interpretasi. Ia merasa berhasil jika lukisannya dan puisi yang mengiringinya mampu memancing emosi atau pemikiran yang berbeda dari setiap orang yang dating menatapnya, menjadikan karya tersebut hidup melalui kacamata para pengunjung. (Daffa Yazid Fadhlan)