Negosiasi AS-Iran yang Dijembatani Pakistan Deadlock

14 April 2026 08:15

Jakarta: Selama 21 jam, penantian negosiasi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang dijembatani oleh Pakistan tidak membuahkan hasil yang meredakan tensi di Timur Tengah. Harapan kata sepakat terhadap poin negosiasi kedua negara dan gencatan senjata permanen pupus hingga menimbulkan kekhawatiran akan peningkatan tensi konflik yang tengah berlangsung. Lantas apa yang menjadi tantangan ke depan? Dan apakah negosiasi diplomatik di Islamabad ini sebagai sebuah kemajuan atau justru memperuncing dinamika konflik kedua negara? 

Perjalanan negosiasi diplomatik


Seperti yang diketahui bahwa percobaan untuk mencari solusi melalui jalur diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran sudah pernah berlangsung. Baik oleh pejabat tinggi negara maupun perwakilan dari masing-masing negara. Putaran perundingan pertama berlangsung pada awal sekitar Februari 2026 sebagai penegosiasi awal yang berlangsung di Muscat Oman yang berfokus pada substansi pembatasan pengayaan uranium Iran dan kemungkinan pelonggaran perluasan sanksi ekonomi yang diterima oleh Iran.

Tetapi hasilnya tidak ada kesepakatan substansif. Pertemuan kedua dilanjutkan di Genewa Swiss. Kali ini Amerika Serikat menuntut penghentian signifikan pengayaan uranium namun Iran meminta pencabutan sanksi dan pengakuan atas hak nuklir damai. Hasilnya juga deadlock. Lalu berujung kepada perundingan yang ketiga masih di Genewa Swiss pada tanggal 26 Februari dengan hasil yang tidak signifikan dan yang paling baru saja berlangsung pemirsa adalah perundingan putaran empat di Islamabad, Pakistan. Dimana Pakistan berhasil karena memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan Amerika Serikat dan Iran beserta sekutunya untuk mampu mempertemukan kedua pihak yang sedang bertikai.

Tetapi kebatinan politik dari perundingan di Islamabad ini perlu untuk menyoroti agresi militer Amerika Serikat yang telah berlangsung selama berminggu-minggu bahkan menewaskan pemimpin tertinggi negara Iran Ayatollah Syed Ali Khamenei setelah 21 jam bernegosiasi perwakilan kedua negara tidak mencapai kesepakatan.  Bahkan terkhususnya bagi Amerika Serikat melontarkan pernyataan sikap yang cukup ofensif selesai bernegosiasi. 


Poin negosiasi Amerika Serikat


Lalu apa saja poin-poin yang menjadi tuntutan dari kedua negara baik itu Amerika Serikat maupun Iran? Kita coba untuk menakar poin-poin negosiasi Amerika Serikat oleh rombongan yang dipimpin oleh Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance sebenarnya cukup teresonansi dari pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh Presiden Donald Trump dan pemerintah Amerika Serikat.

Maka kita bisa menakar poin negosiasi yang pertama oleh Amerika Serikat yaitu adalah Iran untuk menghentikan proliferasi nuklir atau dalam hal ini sebenarnya kalau Iran mengatakan tidak pernah melakukan pengembangan nuklir, meraka proliferasi uranium di Iran ini tuntutan utamanya adalah komitmen tegas dari Iran bahwa mereka tidak akan mengembangkan senjata nuklir maupun alat-alat yang memungkinkan pencapaian itu secara cepat. Amerika Serikat bahkan meminta Iran melepas hak atas program nuklir apapun termasuk untuk keperluan medis. Lalu yang kedua adalah berkaitan dengan Selat Hormuz.

Amerika Serikat menuntut pembukaan kembali Selat Hormuz yang telah ditutup Iran sehingga mengganggu perdagangan global. Dan yang ketiga adalah rudal dan juga dukungan kepada proksi di mana proposal Amerika Serikat sebelumnya juga mencangkup pembatasan rudal Iran dan juga pembatasan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok bersenjata seperti misal Hezbollah di Lebanon. Dan yang terakhir tentu adalah Lebanon tidak termasuk dalam poin negosiasi ini.


Poin negosiasi Iran


Menakar poin-poin negosiasi Iran dalam sikap-sikap publiknya juga terlihat cukup bertentangan dengan apa yang menjadi kemauan dari Amerika Serikat. Pertama, Iran menginginkan jaminan atas program pengembangan uranium.

Kalau Amerika Serikat menentang proliferasi nuklir, sebenarnya Iran sudah kerap mengungkap tidak sedang mengembangkan nuklir namun menggunakan uranium untuk kebutuhan lain. Lebih lanjut, meminta pelepasan aset senilai 6 miliar USD yang dibekukan. Lalu berkaitan juga dengan permintaan konflik regional di mana rencana 10 poin Iran mencangkup ini penyelesaian seluruh konflik regional terutama yang menyangkut sekutu Amerika Serikat.

Lalu juga pencabutan saksi dan rekonstruksi hingga Iran menuntut penghentian serangan Israel terhadap Hezbollah sebagai bagian dari kesepakatan permanen. Maka kalau kita melihat daripada poin-poin negosiasi ini, tentu kita bisa melihat dan juga bisa memiliki gambaran sebenarnya bagaimana poin dalam diskusi ini juga tidak menghasilkan resolusi yang konkret. Dan yang sebenarnya lebih mengerikannya lagi, Pemirsa, adalah dalam pernyataan pers.

Setelah negosiasi panjang, pernyataan yang disampaikan oleh Amerika Serikat juga tidak menunjukkan nuansa optimisme. Sepertinya disampaikan oleh Wakil Presiden J.D. Van sebagai Ketua Rombongan dari Amerika Serikat yang menyatakan bahwa kabar buruknya bahwa adalah kami belum mencapai kesepakatan dan menurut saya ini adalah kabar yang buruk bagi Iran jauh lebih buruk daripada bagi Amerika Serikat. Dan juga lebih lanjut J.D. Van menyampaikan bahwa sebenarnya ini merupakan tawaran yang final dan juga yang terbaik yang bisa Amerika Serikat bisa berikan.

Lalu juga ada balasan yang disampaikan oleh Ketua Delegasi dari Iran, dimana sedangkan dari sisi Iran, Pemimpin Delegasi yaitu Ketua Parlemen Iran, Mohamad Bagher Khalibaf, menegaskan bahwa poin yang diinginkan oleh Amerika Serikat telah dengan tegas disampaikan dalam negosiasi tersebut. 

Dalam pertemuan tersebut Mohamad Bagher Khalibaf juga mengungkapkan bahwa sebenarnya pada prinsipnya delegasi Iran dalam putaran negosiasi ini, AS setelah memahami logika dan prinsip Iran, sekarang saatnya mereka memutuskan apakah mereka bisa mendapatkan kepercayaan kami atau tidak. Dan tentunya yang tidak kalah penting dan dinanti adalah bagaimana respons dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengungkap bahwa dari versi Amerika Serikat penyebab deadlock utama adalah perihal uranium dan nuklir.

Pernyataan Presiden Amerika Serikat bahwa pada intinya pertemuan berjalan lancar, sebagian poin bisa disepakati, tapi satu-satunya yang benar-benar penting, nuklir tidak bisa disetujui. Dan dalam penghujung unggahan postingan itu dikatakan bahwa selain itu dan pada saat yang tepat kita akan sepenuhnya siap bertarung dan militer kami akan menghabiskan sisa-sisa Iran yang masih ada.


Analisa skenario pascadeadlock di Islamabad


Hasil deadlock ini kita coba untuk menakar bagaimana situasi konflik Timur Tengah pascahasil negosiasi di Islamabad yang tidak menemukan resolusi, utamanya adalah untuk menakar dua skenario.

Yang pertama adalah langkah lanjutan dari gagal negosiasi ini tentu pertama Amerika Serikat akan meningkatkan intensitas agresi militer di Iran. Baik itu menyerang infrastruktur krusial, sumber minyak, atau bahkan nyawa dalam jumlah yang besar. Bahkan tidak sedikit yang melakukan analisa pemirsa mengkhawatirkan bahwa  adanya okupasi darat yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat.

Atau yang kedua adalah Amerika Serikat setelah melakukan agresi lanjutan klaim kemenangan secara sepihak dengan keyakinan agresi militer ini telah mencapai tujuan. Walau pola-pola sejarah menunjukkan klaim tersebut kerap harus terus diuji. 

Optimisme terhadap ruang negosiasi diplomatik senantiasa harus dijaga. Karena pada akhirnya antara perundingan atau kehancuran yang akan menjadi pertanyaan yang selalu kita nantikan jawabannya.

Sumber: Redaksi Metro tv

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Wijokongko)