Titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Riau mulai banyak yang padam pada hari ini, Kamis, 27 Agustus 2026. Dalam pantauan dashboard Lancang Kuning, zona yang sebelumnya berwarna merah, kini berubah menjadi kuning.
Untuk memastikan keakuratan laporan dari dashboard Lancang Kuning, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan dan Pangdam XIX/Tuanku Tambusai, Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo langsung memantau dari udara dengan menggunakan helikopter. Wilayah yang pertama dipantau ialah Kabupaten Rokan Hilir dan sekitarnya.
Sambil memantau, Irjen Pol Herry Heryawan menjelaskan bahwa titik kuning menunjukkan sudah tidak ada titik api. Sebagian menunjukkan ada titik api namun dengan tingkat yang rendah.
"Ini titiknya kuning ya, zero tidak ada titik api. Ada juga yang bisa kita lihat ini yang kuning itu berarti, menunjukkan bahwa masih ada beberapa saja yang tingkatannya low hotspot-hotspot. Itu tingkatannya low, rendah. Sebelumnya merah semua," ujar Herry, dalam program Breaking News Metro TV.
Mulai banyaknya titik api yang padam merupakan hasil kolaborasi pemadaman satgas darat serta
operasi modifikasi cuaca oleh BNPB dan BMKG. Secara khusus, Herry memuji tim operasi modifikasi cuaca karena semalam hujan.
"Beberapa titik yang terdampak, mulai dari Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Kerumutan, Pelalawan, dan Kampar, tadi malam hujan turun deras. Pantauan dari dashboard Lancang Kuning mendapatkan hasil yang sangat bagus," kata Herry.
Sementara itu, Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo memantau sudah tidak ada lagi titik api yang dipantau di Rokan Hilir dan sekitarnya. Titik api yang sebelumnya tinggi, kini sudah memasuki level medium.
"Bisa kita lihat memang ada beberapa titik yang sudah tidak ada lagi hotspot, yang kemarin tinggi sekarang menjadi medium, yang medium menjadi low, low menjadi habis. Tinggal proses pendinginan," kata Agus.
Agus mengatakan, tugas mereka saat ini ialah memastikan bahwa api tidak meluas lagi. Pihaknya akan membuat sekat kanal di sekitar wilayah kebakaran.
"kemudian mengerahkan seluruh alat berat yang bisa kita kerahkan untuk mengantisipasi, apabila setelah proses pendinginan yang dilakukan ini (api) bisa timbul kembali," ujar Agus.