BI Berkomitmen Terus Intervensi Pasar Demi Jaga Stabilitas Rupiah

21 October 2026 13:06

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan BI akan terus melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah volatilitas global yang masih tinggi. 

"Terkait rupiah, kita tahu juga situasi global di mana volatilitas masih tinggi. Jadi kami aja jaga stabilitasnya," ujar Destry, dikutip dari tayangan Zona Bisnis Metro TV, Rabu, 21 Oktober 2026.

Destri menjelaskan pihaknya telah diminta oleh Presiden Prabowo Subianto untuk terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan stabilisasi yang dimiliki oleh bank sentral. Destry menyebut stabilisasi dapat dilakukan  melalui intervensi di pasar spot, non-deliverable forward (NDF), serta pemberian insentif biaya lindung nilai (hedging). Upaya tersebut menurut Destry telah mendorong aliran dana masuk melalui instrumen swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF) dengan nilai sekitar 8 hingga 9 miliar dolar. 

"Kami diminta juga oleh Bapak Presiden untuk terus melihat dan mengupayakan kebijakan-kebijakan yang kami miliki, Apakah itu bentuknya intervensi di spot, di NDF, dan DNDF, ataupun juga dalam bentuk insentif biaya hedging yang juga sudah kami berikan sejak akhir Juni lalu, dan hingga saat ini kami sudah bisa mendatangkan inflow. Baik dalam bentuk efek swap, ataupun dalam bentuk DNDF senilai sekitar USD8 miliar sampai USD9 miliar," kata Destry. 

Sementara itu, BI menilai inflasi inti masih terkendali. Saat ini berada pada level 2,8 persen, pada September 2026.  Namun, Destry mengungkapkan inflasi volatile food masih menjadi perhatian, karena inflasi telah mencapai lima persen.

BI menegaskan akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menjaga inflasi pangan kembali ke sasaran inflasi nasional, yaitu pada angka 2,5 persen plus minus 1 persen. 

"Memang kami juga melaporkan bahwa yang memang perlu menjadi perhatian adalah inflasi pangan, ya, volatile food inflation yang memang mencapai lima persen. Kami akan berkoordinasi nanti dengan Kementerian Pertanian tentang bagaimana kita bisa menjaga volatile food inflation agar masuk di dalam koridor Bank Indonesia, 2,5 persen plus 1 persen," kata Destry.

(Lutfia Azzahra)

(Gervin Nathaniel Purba)


Close Ads X
Close Ads X