Jakarta: Dalam kalender Lunar Tionghoa, Cap Go Meh menjadi penanda berakhirnya rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek sekaligus puncak tradisi yang berlangsung sejak awal tahun.
Perayaan ini memiliki arti penting bagi masyarakat Tionghoa karena sarat makna kebersamaan, harapan, serta doa untuk kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang.
Apa Itu Cap Go Meh?
Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien yang berarti:
- Cap = sepuluh
- Go = lima
- Meh = malam
Secara harfiah, Cap Go Meh berarti malam ke-15 setelah perayaan Imlek. Hari tersebut menjadi puncak sekaligus penutup rangkaian Tahun Baru Imlek.
Perayaan ini selalu jatuh pada hari ke-15 bulan pertama dalam kalender Lunar, atau sekitar dua minggu setelah Tahun Baru Imlek. Sebagai contoh, jika Imlek dirayakan pada 17 Februari 2026, maka Cap Go Meh jatuh pada 3 Maret 2026.
Sejarah Tradisi Cap Go Meh
Melansir
China Highlights, Cap Go Meh juga dikenal sebagai Festival Lentera di Tiongkok. Perayaan ini telah berlangsung lebih dari 2.000 tahun dan memiliki beberapa kisah asal-usul yang berbeda.
Kisah Pertama: Perayaan Umat Buddha
Tradisi ini disebut bermula pada masa Dinasti Han Timur. Kaisar Han Mingdi dikenal sebagai pemimpin yang mendukung ajaran Buddha. Ia mendengar bahwa para biksu menyalakan lentera di kuil pada hari ke-15 bulan pertama kalender Lunar sebagai bentuk penghormatan kepada Buddha.
Mengetahui hal tersebut, kaisar kemudian memerintahkan agar lentera juga dinyalakan di kuil, rumah-rumah penduduk, serta lingkungan istana pada malam yang sama. Kebiasaan itu terus berkembang dan diwariskan turun-temurun hingga menjadi salah satu festival besar dalam tradisi masyarakat Tiongkok.
Kisah Kedua: Legenda Kaisar Giok
Dalam legenda lain, diceritakan bahwa bangau kesayangan Kaisar Giok terbunuh akibat ulah warga desa. Sang kaisar murka dan berencana membakar desa tersebut tepat pada hari ke-15 bulan pertama kalender Lunar.
Mengetahui rencana itu, putri Kaisar Giok merasa sedih dan memperingatkan penduduk desa. Seorang bijak kemudian menyarankan agar warga menggantung lampion merah di seluruh penjuru desa agar terlihat seolah-olah wilayah tersebut telah dilalap api.
Rencana itu berhasil mengecoh Kaisar Giok sehingga desa terselamatkan. Sejak saat itu, tradisi memasang lampion merah pada malam ke-15 tahun lunar dipercaya terus diwariskan hingga kini.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Adrian Bachtiar)