Putri Purnama Sari • 24 March 2026 12:09
Jakarta: Setelah merayakan Idulfitri, umat Islam di Indonesia khususnya di Pulau Jawa biasanya merayakan Lebaran Ketupat. Tradisi ini berlangsung sepekan setelah 1 Syawal dan sarat makna budaya, religi, dan filosofi.
Jika mengacu pada penetapan 1 Syawal 1447 H yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, maka
Lebaran Ketupat 2026 diperingati pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Tanggal ini dihitung dari tujuh hari setelah Idulfitri, sekaligus bertepatan dengan berakhirnya puasa sunah enam hari di bulan Syawal.
Apa Itu Lebaran Ketupat?
Lebaran Ketupat atau sering disebut juga “Kupatan” adalah tradisi masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada hari ini, masyarakat biasanya:
- Membuat ketupat dari anyaman daun kelapa
- Menyajikan makanan khas seperti opor ayam dan sambal goreng
- Berbagi makanan dengan tetangga dan kerabat
Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Asal-Usul Tradisi Lebaran Ketupat
Mengutip dari NU Online, masyarakat Jawa meyakini bahwa Sunan Kalijaga merupakan tokoh yang pertama kali mengenalkan ketupat sebagai bagian dari tradisi Islam di tanah Jawa.
Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi menjelaskan bahwa Sunan Kalijaga memanfaatkan budaya slametan yang sudah berkembang di Nusantara sebagai sarana untuk menyampaikan nilai-nilai Islam, seperti rasa syukur, sedekah, dan pentingnya menjaga silaturahmi di momen hari raya.
Lebaran Ketupat juga dikenal dengan istilah “bakda kupat”, yang berasal dari ungkapan Jawa “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan. Dalam praktiknya, ketupat dijadikan simbol untuk saling memaafkan dan melupakan kesalahan dengan penuh keikhlasan.
Sementara itu, sejarawan Agus Sunyoto menyebut bahwa Lebaran Ketupat merupakan tradisi khas Indonesia yang kemudian diperkuat dengan hadits Rasulullah SAW mengenai anjuran puasa enam hari di bulan Syawal. Hadis tersebut menyatakan bahwa siapa yang berpuasa Ramadan lalu melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti berpuasa selama satu tahun.
Makna Filosofis Ketupat
Kata “ketupat” mengandung filosofi yang mendalam. Anyaman pembungkusnya yang terbuat dari janur kuning dipercaya sebagai simbol penolak bala.
Bentuknya yang menyerupai segi empat mencerminkan konsep Jawa “kiblat papat lima pancer”, yaitu keyakinan bahwa ke mana pun manusia melangkah, pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.
Kerumitan anyaman janur melambangkan berbagai kesalahan manusia, sementara warna putih nasi di dalamnya menggambarkan kesucian setelah saling memaafkan. Selain itu, isi ketupat berupa beras juga menjadi simbol harapan akan kesejahteraan setelah Hari Raya Idulfitri.
Ketupat umumnya disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng. Dalam bahasa Jawa, santan pada opor disebut “santen” yang dimaknai sebagai “pangapunten” atau permohonan maaf.
Tak hanya itu, terdapat pula pantun khas Lebaran yang sarat makna:
Mangan kupat nganggo santen,
Menawi lepat, nyuwun pangapunten.
Yang berarti:
Makan ketupat dengan santan,
Jika ada kesalahan, mohon dimaafkan.