Serangan Melandai, Ratusan Kapal Dagang Masih Tertahan di Selat Hormuz

28 July 2026 17:09

Ratusan kapal dagang masih tertahan di Selat Hormuz meskipun tidak ada serangan baru yang dilaporkan dalam tiga hari terakhir. Lalu lintas pelayaran komersial di Selat Hormuz tercatat berada pada level terendah dalam tiga pekan terakhir.

Dikutip dari program Headline News Metro TV, Selasa, 28 Juli 2026, ratusan kapal beserta ribuan pelaut masih menunggu kepastian untuk melanjutkan pelayaran dengan aman. Pemerintah Iran menyatakan masih berkoordinasi dengan Oman untuk memastikan jalur pelayaran di Selat Hormuz dapat dilalui secara aman.

Kekhawatiran juga meluas ke Selat Bab al-Mandab Strait, di pintu masuk Laut Merah, setelah kelompok Houthi di Yaman mengancam memblokade pelayaran Arab Saudi dan menyerang sedikitnya satu kapal tanker.

 

 

Iran Serukan Kerja Sama Regional


Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyerukan penguatan kerja sama regional untuk memulihkan stabilitas di Selat Hormuz, seraya menyalahkan "agresi Amerika Serikat" sebagai penyebab ketegangan di jalur pelayaran strategis tersebut.

Menurut laporan penyiar pemerintah Iran, IRIB, Selasa, 28 Juli 2026, pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam pembicaraan melalui telepon secara terpisah dengan Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan pada Senin kemarin.

Kedua pembicaraan tersebut membahas hubungan bilateral serta perkembangan situasi terbaru di kawasan.

Araghchi menekankan pentingnya memperkuat kerja sama regional dan meningkatkan upaya diplomatik bersama untuk menciptakan stabilitas di kawasan.

Ia juga menyerukan penghapusan kondisi tidak stabil di Selat Hormuz yang, menurutnya, merupakan dampak dari "tindakan agresif Amerika Serikat."

Situasi di kawasan dilaporkan relatif tenang sejak Jumat setelah Amerika Serikat dan Iran menghentikan serangan menyusul eskalasi selama 13 hari yang dimulai pada 11 Juli.

Dalam periode tersebut, Amerika Serikat melancarkan serangan ke wilayah Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang apa yang disebutnya sebagai fasilitas dan peralatan militer Amerika Serikat di sejumlah negara Arab.

(Gervin Nathaniel Purba)


Close Ads X
Close Ads X