Gresik: Memasuki puncak musim kemarau, puluhan hektare lahan pertanian di Desa Pandanan, Kecamatan Duduk Sampeyan, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, terancam gagal panen. Minimnya pasokan air yang diperparah serangan hama wereng menyebabkan produktivitas padi menurun drastis hingga mengakibatkan kerugian mencapai belasan juta rupiah per hektare.
Kondisi tersebut dialami petani saat tanaman padi memasuki masa menjelang panen. Kebutuhan air yang tinggi tidak dapat terpenuhi akibat berkurangnya debit air irigasi selama musim kemarau.
Berbagai upaya telah dilakukan petani untuk menyelamatkan tanaman mereka, mulai dari mengambil air dari waduk desa hingga memompa air dari aliran Bengawan Solo. Namun, langkah tersebut belum mampu mengatasi kekeringan yang melanda areal persawahan.
Selain
kekurangan air, serangan hama wereng cokelat dan wereng hijau turut memperburuk kondisi tanaman. Akibatnya, hasil panen diperkirakan turun signifikan dan sebagian lahan berpotensi mengalami gagal panen.
Salah seorang petani, Abdul Fatah, mengatakan sekitar 40 hingga 45 hektare sawah di kelompok taninya mengalami kekurangan air. Menurutnya, kondisi tersebut diperparah oleh serangan hama yang sulit dikendalikan.
"Saat ini kendala pertama adalah kekeringan air. Di kelompok kami hampir 40 sampai 45 hektare kekurangan air. Kendala kedua kemungkinan besar gagal panen karena serangan wereng cokelat dan wereng hijau. Sejak awal musim tanam sebenarnya sudah mengalami kendala karena debit air di waduk sudah tidak ada," ujar Abdul.
Ia menjelaskan, biaya produksi untuk satu hektare sawah mencapai belasan juta rupiah, meliputi pembelian bibit, biaya tanam, pupuk, hingga pestisida. Karena itu, ia berharap pemerintah segera memberikan bantuan berupa pompa air serta penanganan terhadap serangan hama.
"Harapan kami ada bantuan, terutama blower atau pompa air. Selain itu, penanganan yang sifatnya insidental seperti serangan wereng juga segera mendapatkan bantuan," kata Abdul.
Dalam kondisi normal, satu hektare sawah mampu menghasilkan sekitar tujuh hingga delapan ton gabah dengan harga jual sekitar Rp8.200 per kilogram. Namun, musim kemarau kali ini membuat hasil panen diperkirakan jauh menurun.
Sementara itu, Kepala Desa Pandanan, Suryadi, menyebut lebih dari 30 hektare lahan pertanian di wilayahnya berpotensi mengalami gagal panen apabila musim kemarau terus berlangsung.
Menurutnya, petani saat ini harus mengeluarkan biaya tambahan yang besar untuk memompa air dari Bengawan Solo agar sawah tetap mendapatkan pasokan air.
"Musim kemarau ini mencari air memang susah. Kami harus memompa beberapa kali dari aliran Sungai Bengawan Solo sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit," ujar Suryadi.
Ia berharap pemerintah kabupaten maupun provinsi dapat membantu pembangunan saluran irigasi, pengadaan pompa air, serta pengerukan waduk yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi.
"Kami memerlukan bantuan dari pemerintah agar bisa membantu pompa air ke waduk sehingga dapat mengaliri sawah warga. Yang paling ideal adalah mengeruk waduk, memperdalamnya, lalu mengisi kembali dari Bengawan Solo melalui jalur pipa. Dengan begitu, saat musim kemarau sawah warga tetap mendapatkan pasokan air," katanya.
Pemerintah desa berharap dukungan infrastruktur pengairan dapat segera direalisasikan agar produksi padi tetap terjaga dan petani terhindar dari kerugian yang lebih besar akibat kemarau panjang.