Dampak buruk kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat kian mengancam kesehatan masyarakat. Rumah Sakit (RS) Tingkat II Kartika Husada di Kabupaten Kubu Raya mencatat tren lonjakan pasien yang mengalami gangguan pernapasan dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.
Berdasarkan data rumah sakit, kasus penyakit pernapasan merangkak naik dari 15 kasus pada bulan Juni, menjadi 34 kasus pada bulan Juli, dan 29 kasus sepanjang Agustus.
Selain warga sipil, paparan asap pekat ini juga menumbangkan para petugas di garis depan. Salah satunya adalah Septian, seorang anggota Satgas Karhutla yang bertugas memadamkan api di Kabupaten Mempawah. Ia terpaksa dievakuasi dan dirujuk ke RS Kartika Husada pada Kamis, 3 September 2026 pagi akibat keluhan sesak napas akut.
Kepala Kesehatan Kodam (Kakesdam) XII Tanjungpura, Kol. CKM dr. Mimbo Helly Wibowo, menjelaskan bahwa mayoritas pasien yang datang menunjukkan gejala infeksi saluran pernapasan, seperti batuk, sesak napas, hingga demam tinggi.
"Kami menerima seluruh lapisan masyarakat yang terdampak kabut asap ini, bukan hanya anggota kami yang turun ke lapangan. Apabila tidak sembuh di tingkat pertama, dirujuk ke rumah sakit kami lalu kami lakukan tindakan pengobatan," ujar dr. Mimbo dikutip dari
Metro Hari Ini, Metro TV, Kamis 3 September 2026.
Anak-Anak Sangat Rentan Terdampak
Lebih lanjut, dr. Mimbo menyoroti tingginya angka keterpaparan pada kelompok usia dini. Jumlah pasien anak-anak dan balita yang terdampak kabut asap tercatat seimbang dengan jumlah pasien dewasa. Menyikapi hal ini, rumah sakit menggencarkan edukasi perilaku hidup sehat sebagai langkah pencegahan.
"Anak-anak bahkan angkanya itu imbang dengan orang dewasa. Setelah di bulan Juli mereka berobat kami bukan hanya memberikan pengobatan saja tetapi edukasi," jelasnya.
Mengingat status kualitas udara di Kalimantan Barat yang kini cenderung berbahaya, dr. Mimbo memberikan peringatan keras kepada warga. Ia melarang masyarakat, terutama anak-anak, beraktivitas di luar ruangan tanpa masker pelindung. Selain itu, masyarakat diminta menjaga hidrasi tubuh dengan asupan cairan yang tepat.
"Sebaiknya dalam kondisi seperti ini kita minum air mineral, dan tidak dingin, tetapi lebih baik yang hangat atau paling tidak yang netral," ujar dr. Mimbo.