Warga Palangka Raya Pasrah Asap Karhutla Tak Kunjung Membaik

20 October 2026 12:06

Palangka Raya: Kabut asap pekat telah menyelimuti udara Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) selama kurang lebih empat bulan. Warga dipaksa untuk menghirup udara beracun setiap harinya. Berbagai penyakit pernapasan mulai mengintai. 

Sejumlah warga mengaku mulai pasrah karena kondisi tidak kunjung membaik. Maria Yanida, misalnya. Dirinya mengaku sudah tidak menaruh harapan lagi kepada pemerintah dan hanya bisa berdoa agar hujan segera turun. 

"Jadi kalau boleh jujur gitu saya pribadi itu udah enggak berharap lagi sama pemerintah dan lain-lain dengan banyaknya kontroversi juga belakangan ini. Jadi yang paling kami harapkan dan kami bawa dalam doa itu belakangan ini, ya memang semoga musim hujan segera tiba," ujar Maria, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Selasa, 20 Oktober 2026.

Sangking frustrasinya terhadap pemerintah, Maria mengaku ingin memaki-maki para pejabat dengan kata kasar. Dia muka tidak ada progres berarti dari para pejabat pemerintahan, baik daerah dan pusat.

"Ada di titik yang, ya kalau boleh kasar. Memang muak sih. Kayak mau minta tolong tapi enggak tahu ke mana gitu. Mau marah juga ya enggak didengar juga gitu kan, ya," ungkap Maria. 

Maria merupakan seorang ibu dari dua anak merasa kehilangan rasa aman. Terlebih di dalam rumahnya sendiri. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang dan beristirahat sudah tidak lagi bebas dari paparan asap. Maria mengaku kesehatan dirinya mulai terganggu. Sementara ibunya telah menderita batuk selama hampir dua bulan dan tidak kunjung sembuh.

"Kalau saya sendiri bersyukurnya mungkin masih cukup kuat kali ya. Memang yang dirasakan itu lebih kepada sakit kepala, itu masih bisa diatur lah, enggak apa-apa gitu ya, sakit kepala, mual. Tapi orang-orang terdekat seperti orang tua saya, itu mama saya tuh batuknya sudah hampir dua bulan ini tuh susah sembuhnya. Sudah ke dokter, minum antibiotik, tapi masih batuk sampai sekarang," kata Maria. 

Maria juga mengungkapkan perguruan tinggi tempatnya mengajar menerapkan sistem pembelajaran daring secara penuh. Dirinya terpaksa membagi waktu antara pekerjaan dan mendampingi anak. 

"Sebagai seorang ibu sekaligus anak, kami punya beberapa kelompok rentan di rumah. Ada lansia, juga ada anak balita,  dan ada bayi juga empat bulan. Jadi lebih kepada kita harus bagi waktu jaga mereka, udah enggak lagi mikirin kesehatan sendiri gitu, tapi bagaimana bisa maksimal melindungi orang-orang yang dalam kelompok rentan tadi gitu," kata kata Maria.

Lebih jauh, Maria menilai dampak pembakaran hutan tidak hanya soal gangguan kesehatan, tetapi juga harus dilihat dari segi ekonomi. Selalu terdapat pengeluaran tambahan yang tidak terduga akibat karhutla.

Produktivitas masyarakat juga ikut menurun, karena terbatasnya aktivitas akibat karhutla. Lebih dari itu, anak-anak kehilangan kesempatan untuk belajar dan tumbuh dalam lingkungan yang sehat. 

(Lutfia Azzahra) 

(Gervin Nathaniel Purba)


Close Ads X
Close Ads X