Dokter Icha Bunuh Diri Diduga Dipicu Intimidasi Anggota DPRD

1 July 2026 08:14

Jakarta: Kasus meninggalnya dr Icha menjadi sorotan. Keluarga mengaitkannya dengan dugaan tekanan psikologis usai insiden di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Leona Kefamenanu, Kebupaten Timur Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. 


Kronologi kejadian


Kejadian ini berawal pada Sabtu 13 Juni 2026 dimana seorang pasien anak korban gigitan ular dibawa ke IGD RS Leona dan dr Icha yang bertugas sebagai dokter jaga menangani pasien tersebut. Kemudian mendapatkan intimidasi oleh oknum anggota DPRD TTU. Pada keesokan harinya yaitu pada Minggu, 14 Juni 2026, dua orang yang sebelumnya terlibat dalam insiden di IGD berada di lingkungan rumah sakit.

Karena masih merasa takut dan tertekan, maka dr Icha memilih untuk kembali ke tempat tinggalnya. Kemudian pada 15 hingga 21 Juni 2026 dr Icha menjalani perawatan medis. Setelah kondisinya membaik, ia kemudian diperbolehkan pulang pada 21 Juni 2026 dan menjalani rawat jalan.  Pada tanggal 24 Juni, keluarga menyebut bahwa dr. Icha menjalani pemeriksaan di Klinik Utama Jiwa Dewantara Mental Healthcare. Berdasarkan keterangan dari paman dr Icha yaitu Fabianus Banase bahwa hasil pemeriksaan itu menunjukkan bahwa dr Icha mengalami depresi berat tanpa gejala psikotik setelah mengalami guncangan psikologis yang hebat  bahkan sempat melakukan percobaan bunuh diri. Semua pemeriksaan tertuang dalam hasil pemeriksaan medis.

Kemudian pada 25 Juni 2026, laporan tertulis terkait dugaan intimidasi itu disampaikan kepada Badan Kehormatan DPRD TTU. Laporan itu diserahkan oleh ayah dr Icha yaitu Gabriel Pakainoni. Laporan ini dimaksudkan agar BK DPRD memproses persoalan itu sesuai dengan mekanisme yang berlaku sekaligus menjadi pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Kemudian pada 26 Juni, dr Icha ditemukan meninggal dunia. Dia ditemukan tergantung di lantai 2 di rumah orang tuanya. Diduga bunuh diri sekitar pukul 17.55 Wita.


Bagaimana insiden intimidasi terjadi? 


Juru bicara keluarga Fabianus Banase mengatakan bahwa insiden bermula ketika ketiga anggota DPRD TTU, Noberto Stubani, Terensius Lazakar dan Veronika Lake mendatangi IGD Rumah Sakit Leona, terkait dengan penanganan pasien anak dengan gigitan ular.

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi yang berada di lokasi bahwa anggota Dewan itu disebut berbau alkohol saat mendatangi IGD. Keluarga juga mendapat dokumentasi berupa foto yang diambil saat kejadian berlangsung. 

Dalam penanganan itu dr Icha disebut telah bekerja sesuai dengan SOP rumah sakit dan juga arahan dokter spesialis anak. Namun situasi di IGD itu memanas setelah keluarga pasien meminta pemberian vaksin. Menurut keluarga dr Icha bahwa vaksin tersebut belum direkomendasikan secara medis untuk kondisi pasien dan tidak tersedia di Rumah Sakit Leona. 

Peristiwa itu kemudian berkembang menjadi dugaan intimidasi yang disebut melibatkan anggota DPRD TTU. Salah satu anggota keluarga pasien berbicara dengan nada tinggi kepada dr Icha dan mengaku sebagai anggota DPRD TTU. Tidak lama kemudian seorang pria lain juga masuk ke ruang IGD dan turut menyampaikan protes dengan nada keras sambil menunjuk-nunjuk dr Icha dan menyebut dirinya merupakan anggota DPRD TTU yang bermitra dengan Dinas Kesehatan. Situasi ini yang membuat dr Icha merasa tertekan dan juga menangis.

Ia kemudian menelpon pimpinan Rumah Sakit Leona untuk melaporkan kejadian itu. Setelah kejadian, kondisi psikologis dr Icha memburuk. 

Pernyataan Bupati TTU


Bupati Timur Tengah Utara membuka suara terkait kasus kematian dr Icha. Menurut Bupati Yosep Falentinus Delasalle Kebo kejadian dr Icha membuka tabir yang selama ini tertutup rapat, dimana oknum yang sering ketika melakukan reses sebelum dan juga sesudah reses melakukan kekacauan karena pengaruh alkohol. 


Bagaimana proses hukumnya? 


Polisi akan memeriksa tiga anggota Dewan DPRD TTU untuk dimintai klarifikasi. Penyedik juga akan memeriksa saksi-saksi yang bertugas bersama dengan korban saat piket di IGD pada hari kejadian untuk melengkapi proses penyelidikan. Selain itu penyedik juga berkoordinasi dengan pihak RS Leona guna memperoleh rekam medis terkait kondisi kesehatan dan juga kejiwaan dr Icha selama menjalani perawatan pasca kejadian.

Belakangan tiga anggota DPRD TTU itu membantah telah mengintimidasi dr Icha. Dua di antaranya mengaku hanya menaikkan nada bicara saja karena panik. 


Apa tanggapan IDI Kabupaten TTU?


Ketua IDI Kabupaten Timur Tengah Utara Sondang Herikson Panjaitan mengatakan berdasarkan penelusuran yang dilakukan IDI, prosedur yang dijalankan korban atau dr Icha sudah sesuai dengan standar. Ia juga memuji keteguhan korban karena tetap berpegang pada pertimbangan medis dan tidak mengikuti desakan para anggota DPRD. Kemudian korban berhasil menangani pasien dengan baik, terbukti bahwa pasien dalam kondisi yang sehat sampai dengan hari ini. IDI pun menyayangkan apa yang telah dilakukan oleh para anggota Dewan yang terhormat tersebut.

Intimidasi terhadap dokter di ruang penanganan pasien tentu tidak dapat ditoleransi. Terlebih tindakan itu dinilai merendahkan martabat dokter yang sedang berjuang menangani pasien di instalasi gawat darurat. Proses hukum yang kini sedang berlangsung dapat berjalan secara transparan itulah menjadi harapan pihak keluarga dan kita semua.

Sumber: Redaksi Metro TV

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X