Jakarta: Presiden Prabowo Subianto mengunjungi lokasi bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. Kunjungan tersebut untuk memantau kondisi masyarakat dan memastikan penanganan bencana dilakukan dengan baik oleh jajarannya. Ada sejumlah arahan yang diberikan oleh Presiden.
Data gempa susulan
Data gempa susulan hingga hari Rabu, 26 Agustus 2026 dari
BMKG sekitar 8.193, sejak pertama kali pada 15 Agustus lalu. Magnitudo terbesar untuk gempa susulan adalah 6,2 dan magnitudo terkecil adalah 1,0, sementara gempa susulan di magnitudo di atas 5 terjadi 34 kali. Dan gempa susulan yang dirasakan oleh masyarakat NTT ada sekitar 146 kali.
BMKG memperkirakan gempa susulan di NTT masih akan terus terjadi paling tidak 21 hingga 30 hari ke depan dengan intensitas yang perlahan menurut atau meluruh. Kepala BMKG Tengku Faisal Fathani mengatakan, gempa besar baru akan terjadi dalam kurun waktu puluhan tahun sekali. Hal ini dikarenakan adanya fenomena pelepasan energi yang terkumpul dalam waktu yang lama dari pergerakan bumi.
Selain itu rentetan gempa yang terus terjadi juga merupakan hal yang positif. Karena energi tersebut berarti dilepas sedikit demi sedikit untuk menghindari pelepasan besar dalam satu kurun waktu. Warga juga diminta untuk selalu mengikuti informasi resmi dan jauhi berita bohong atau hoaks yang hanya akan menebarkan ketakutan kepada seluruh warga NTT.
Data korban gempa
Data terbaru korban meninggal dan juga korban luka akibat gempa NTT, yang dihimpun dari BNPB pada Kamis, 27 Agustus 2026 pukul 07.23 waktu Indonesia Barat, korban meninggal tercatat ada 105 jiwa. Kemudian korban luka ada sekitar 1.678 orang. Sementara korban di lokasi pengungsian ada sekitar 179.037 orang.
Pemerintah telah menyiapkan sejumlah fasilitas trauma healing yang diberikan kepada korban gempa khususnya untuk anak-anak. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga atau Kemendukbangga menyiapkan pemulihan trauma.
Polri juga telah memberikan layanan trauma healing melalui Senam Bersama dan juga konseling terhadap anak-anak serta pemberian mainan kepada anak-anak untuk melawan rasa trauma dalam pascagempa di NTT.
Fasilitas yang rusak akibat gempa
Data yang dihimpun dari BNPB pada Rabu, 26 Agustus pukul 09.00 pagi waktu Indonesia Barat, sekitar 81.436 unit rumah mengalami kerusakan. Untuk fasilitas pendidikan ada sekitar 2.756 gedung. Kemudian untuk layanan kesehatan ada sekitar 118 dan perkantoran ada 400 gedung serta untuk rumah ibadah ada sekitar 495 gedung yang mengalami kerusakan.
Pemerintah sudah menyalurkan sejumlah bantuan logistik dan bantuan sembako untuk warga terdampak di NTT. Data dari Sekretariat Presiden di tanggal 15 hingga 24 Agustus, pemerintah pusat sudah menyalurkan sembako sekitar 204,22 ton yang terdiri dari beras, ada minyak goreng, gula pasir, mie instan susu kaleng atau susu bubuk, makanan kaleng, makanan ringan kopi, teh, serta bumbu dapur. Kemudian ada makanan siap saja sekitar 27,71 ton, dan air mineral.
Pemerintah juga sudah menyiapkan rumah sakit lapangan ada 2 sel dan tenda sekitar 25 peleton yang sudah didirikan oleh BNPB, selimut serta matras yang sudah dibagikan lebih dari 13 ribu kepada korban bencana gempa. Selain itu ada juga obat-obatan serta peralatan komunikasi yang sudah disiagakan untuk di tenda-tenda pengungsian.
Kementerian Sosial juga sudah membangun 3 dapur umum di wilayah Mano, Kecamatan Lamba Leda Selatan kemudian juga di Pota, di Kecamatan Sambi Rampas dan juga di Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara. Kapasitas memproduksi total 6 ribu paket bungkus makanan siap saji per titik dapur umum.
Bantuan tambahan bagi korban gempa
Kementerian lain juga turut membantu korban gempa. Yang pertama adalah Kementerian ESDM yang menyalurkan 48 genset untuk tenda dan juga fasilitas kesehatan. Hal ini disampaikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadaliadalam ratas kemarin ketika Prabowo Subianto mendatangi tenda-tenda pengungsian dan juga mengadakan rapat oleh Kementerian-Kementerian di NTT.
Kementerian ESDM juga akan menyebarkan genset ke 8 puskesmas di Manggarai ada 7 genset, di Ngada ada 6, di Nagekeo ada 6, kemudian di Ende ada 6, dan juga di Sikka ada 4, serta di Manggarai Barat ada 11 genset. Genset ini menggunakan teknologi genset silent agar tidak berisik dan juga warga bisa berobat tanpa kebisingan. Kemudian juga dari Kementerian Dalam Negeri akan membantu mencetak ulang identitas yang hilang.
Kemendagri sudah berkoordinasi dengan Dukcapil untuk mengirim tim khusus untuk cetak KTP, Kartu Keluarga dan lain-lain, karena semua data sudah terpusat di Kementerian Dalam Negeri. Kemudian juga akan mengurus sertifikat tanah yang hilang bagi para korban gempa. Kemendagri sudah menghubungi Menteri ATR BPN untuk mengirimkan tim untuk mendata sertifikat tanah yang hilang dalam bencana gempa kemarin dan juga semua diurus gratis tanpa dipungut biaya oleh pihak Kementerian. Kemudian juga akan mendata rumah rusak serta dana untuk membangun rumah ulang.
Untuk mengurus data-data yang hilang pihak Kemendagri juga sudah menghubungi Kapolri untuk mengurus data SIM, STNK, BPKP dan juga sejumlah surat-surat yang lain secara gratis tanpa dipungut biaya.
Sementara pembangunan rumah, Kemendagri mengatakan bahwa koordinasi juga sudah dilakukan dengan Badan Pusat Statistik atau BPS untuk pendataan rumah di mana rumah rusak ringan, sedang dan juga berat akan didata dan juga diverifikasi oleh BPS ke rumah masing-masing dari korban.
Untuk bantuan pembangunan ulang rumah ringan akan mendapatkan dana sekitar Rp15 juta. Untuk rusak berat akan mendapatkan Rp30 juta dan juga untuk rusak berat akan mendapatkan Rp75 juta. Dan ketika kondisi sudah kondosif, maka bantuan uang akan diberikan langsung kepada pemilik rumah agar mereka bisa membangun kembali semua rumahnya sendiri.
Bantuan dari Presiden
Presiden Prabowo Subianto sudah memberikan bantuan kemasyarakatan atau tambahan belanja tidak terduga atau BTT senilai Rp200 miliar. Di mana Pemprov NTT sudah menerima Rp40 miliar. Kemudian dari Manggarai Barat sudah menerima Rp20 miliar. Manggarai, Manggarai Timur, Ende, Ngada, Nagekeo, Sikka, dan juga Flores Timur masing-masing menerima Rp20 miliar.
Arahan Presiden
Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan kepada sejumlah stakeholder untuk membantu pembangunan kembali NTT. Yang pertama adalah Presiden Prabowo Subianto dalam merapat kemarin di NTT mengatakan bahwa air bersih harus menjadi prioritas dari pembendahan NTT.
Presiden meminta BRIN, Unhan, dan juga TNI untuk mengembangkan teknologi desalinasi yang bisa dibangun dalam negeri dan segera dikirim ke daerah yang membutuhkan.Salah satu teknologi yang dibicarakan oleh Presiden Prabowo Subianto adalah Reverse Osmosis, yang mana teknologi ini untuk mengubah air laut menjadi air tawar. Teknologi ini juga bukan untuk jangka pendek saja, harus bisa digunakan untuk jangka panjang untuk Provinsi NTT.
Kedua adalah infrastruktur air minum harus pulih. Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Kementerian PU untuk melakukan perbaikan agar masyarakat bisa kembali mengonsumsi air mineral. Arahannya Presiden bukan lagi hanya sekedar mengirimkan air mineral kepada para korban, tetapi juga untuk pemulihan sistem air bersih di lokasi.
Yang ketiga adalah perbaikan infrastruktur jalan dan juga jembatan di mana Presiden mengarahkan agar seluruh jembatan dan jalan nasional yang rusak atau tertutup longsoran tanah harus segera diperbaiki agar distribusi bantuan bisa segera diterima korban bencana. Kementerian PU sudah menempatkan 143 eskavator di 143 titik rawan longsor. Kemudian yang terakhir adalah arahan terkait dengan perkuat mitigasi dan juga sistem peringatan tsunami.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan bahwa dalam mitigasi ini, BMKG sudah memberikan laporan kepada Presiden bahwa sistem peringatan dini bekerja dalam 2 menit 16 detik pasca gempa terjadi pertama kali. Presiden juga ingin mitigasi dan juga edukasi masyarakat terutama soal gempa susulan yang akan terjadi ini diberikan pemahaman kepada masyarakat dan juga Presiden mengarahkan agar solusi ini tidak hanya untuk tanggap darurat tetapi juga untuk jangka panjang seperti mendorong pemanfaatan PLTS atau energi surya di wilayah potensial untuk mendukung proyek ekonomi. Sehingga nanti seluruh pendanganan ini bukan hanya untuk sekedar mengembalikan NTT di kondisi sebelum gempa tetapi juga untuk membangun NTT yang lebih maju.
Sumber: Sekretariat Presiden