Bedah Editorial MI - Menyambut Perdamaian Iran-AS

17 June 2026 09:21

Dunia sudah sangat membutuhkan perdamaian, terutama yang datang dari kawasan Timur Tengah. Terkoyaknya stabilitas selama empat bulan terakhir akibat perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel ikut menghantam mereka yang bahkan tidak pernah mengangkat senjata.

Perang tidak hanya merugikan para pihak, tetapi juga negara-negara lain yang bahkan jaraknya begitu jauh dari lokasi pertempuran. Indonesia termasuk negara yang terdampak akibat serangan ‘Paman Sam’ dan sekutunya ke 'Negeri pAara Mullah' itu.

Dalam dunia yang saling terkoneksi, peristiwa nun jauh di sana bisa menghantam siapa saja. Dari Iran ke Indonesia terbentang sejauh kurang lebih 7.500 km. Akan tetapi, jauh dan dekat sudah bukan lagi konstanta untuk kita lari dari akibat perang di Timur Tengah.

Karena itu, ketika tersiar kabar akan hadirnya perdamaian antara Iran dan Amerika, kita semua turut menyambutnya. Menyambut dengan harap-harap cemas karena tidak ingin damai itu hadir hanya sementara, melainkan harus permanen.

Meja diplomasi berhasil melahirkan gencatan senjata dua minggu di awal April 2026, yang kemudian disusul oleh kesepakatan perpanjangan selama 60 hari. Namun, para pihak masih tetap saja meluncurkan serangan secara sporadis, bahkan melakukan aksi blokade-memblokade Selat Hormuz.

Ketika salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia itu terkunci, maka semua ikut menderita. Karena tidak ada kapal tanker yang bisa leluasa meninggalkan Selat Hormuz, Indonesia menghadapi kenaikan harga energi, tekanan inflasi, dan peningkatan beban fiskal.

Situasi seperti itu diharapkan tidak lagi terjadi. Perang harus berakhir melalui kesepakatan damai secara permanen. Rencana Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman perdamaian di Jenewa, Swis, pada Jumat (19/6) waktu setempat, harus menjadi titik balik sejarah.

Kesepakatan tersebut bakal memulihkan akses ke Selat Hormuz sebagai jalur air yang krusial bagi perekonomian. Presiden AS Donald Trump juga akan memberikan izin untuk segera mengakhiri blokade angkatan lautnya di sejumlah pelabuhan negeri Persia itu.

AS dan sekutunya akan menyerahkan rencana rekonstruksi bagi Iran senilai setidaknya US$300 miliar (Rp5.355 triliun). Salah satu syarat yang diminta oleh AS ialah penegasan kembali komitmen Iran untuk tidak memproduksi senjata nuklir.

Baca juga: Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran, Paus Leo Harap Perang Benar-Benar Berakhir

Para pemimpin Eropa seperti Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia menyambut baik tercapainya kesepakatan tersebut. Mereka menganggap ini adalah momen penting untuk memulihkan stabilitas kawasan dan menstabilkan ekonomi global.

Kementerian Luar Negeri RI pun menilai kesepakatan itu menjadi secercah harapan di tengah panjangnya bayang-bayang konflik. Jalan diplomasi yang kembali terbuka diharapkan mampu mengantarkan kawasan menuju perdamaian yang lebih kokoh, serta menghadirkan keamanan dan stabilitas.

Bursa saham Korea Selatan melonjak pada perdagangan Senin (15/6) pagi setelah muncul kabar pembukaan kembali Selat Hormuz. Indeks KOSPI sempat naik hampir 5% pada awal perdagangan karena investor menilai risiko gangguan pasokan energi global mulai mereda.

Lagi-lagi euforia itu masih belum sepenuhnya bisa dirayakan. Harga minyak mengalami fluktuasi yang mencerminkan tingginya kehati-hatian pelaku pasar terhadap perkembangan terbaru hubungan Washington dan Teheran.

Mengingat begitu rapuhnya tatanan global saat ini, pemerintah harus betul-betul waspada. Apalagi perang masih terjadi antara Rusia dan Ukraina. Biaya energi meningkat, rantai pasok pupuk dan gandum terganggu sehingga membebani daya beli masyarakat.

Oleh sebab itu, bangunlah ketahanan terutama di sektor pangan dan energi yang mampu menghadapi berbagai gejolak dunia. Kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya dijaga di batas wilayah geografisnya, tapi juga pada kokohnya fondasi ekonomi yang menopang kehidupan rakyatnya.
 

(Anggie Meidyana)