Bank Indonesia (BI) merespons pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat melampaui Rp18 ribu per dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan kemarin. BI menilai pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal sejalan dengan kenaikan harga minyak mentah.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, kenaikan harga minyak mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) lebih lanjut, sehingga yield US Treasury untuk tenor 10 tahun kembali naik ke level 5,23% atau tertinggi sejak 2007.
Dikutip dari program Zona Bisnis Metro TV, Rabu, 30 September 2026, tekanan nilai tukar rupiah juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging market di tengah kenaikan yield obligasi.
Erwin mengatakan, pihaknya akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya.
BI memastikan intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi NDF di pasar offshore, transaksi spot, dan DNDF di pasar domestik. Disertai pembelian surat berharga negara atau SBN di pasar sekunder
Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif.
Seperti diketahui, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar USD mengalami penurunan pada pembukaan perdagangan pagi kemarin. Mengutip data Bloomberg, Selasa, 29 September 2026, rupiah hingga pukul 09.22 WIB berada di level Rp18.000 per USD.
Mata uang Garuda tersebut turun 22 poin atau setara 0,12 persen dari Rp17.978 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.960 per USD. Analis mata uang Ibrahim Assuabi memprediksi mata uang rupiah pada perdagangan hari ini ditutup melemah.