Ilustrasi. Foto: Dok MI
Rupiah Diproyeksi di Kisaran Rp18 Ribu/USD hingga Akhir 2026
Eko Nordiansyah • 29 September 2026 21:14
Jakarta: HSBC memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp18 ribu per USD hingga akhir 2026. Pergerakan tersebut diperkirakan lebih banyak dipengaruhi oleh penguatan dolar AS dibandingkan pelemahan fundamental rupiah.
Chief Asia Economist HSBC Frederic Neumann mengatakan dolar AS masih mendapat dorongan dari kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) yang berada dalam siklus kenaikan suku bunga.
“Kalau Anda bertanya mengenai target rupiah, sekitar Rp18 ribu (per USD) merupakan target yang masuk akal. Itu lebih mencerminkan penguatan dolar daripada pelemahan rupiah,” kata Frederic dalam acara media briefing HSBC Indonesia di St. Regis Jakarta, Selasa, 29 September 2026.
Menurut Frederic, penguatan dolar AS tidak hanya memberikan tekanan terhadap rupiah, tetapi juga sejumlah mata uang utama dunia. Yen Jepang dan euro turut mengalami tekanan seiring menguatnya mata uang Negeri Paman Sam tersebut.
Dengan kondisi itu, HSBC memperkirakan rupiah masih akan bergerak relatif stabil hingga akhir tahun, meski terdapat ruang untuk mengalami pelemahan terbatas.
Namun, kondisi tersebut berpeluang berbalik pada 2027. Apabila penguatan dolar AS mulai mereda, rupiah dinilai berpotensi mendapatkan dorongan untuk kembali menguat.
Baca Juga :
Rupiah Ditutup ke Rp17.981 per USD
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Respons BI redam tekanan rupiah
Frederic mengatakan tekanan terhadap rupiah yang sempat terjadi pada awal tahun kini telah berhasil diredam. Menurutnya, pergerakan rupiah saat ini tidak lagi menunjukkan tekanan yang secara spesifik berasal dari dalam negeri.Salah satu faktor yang membantu meredam tekanan tersebut adalah respons Bank Indonesia (BI). Kebijakan BI yang menaikkan suku bunga dalam waktu relatif cepat dinilai memberikan keyakinan kepada investor terhadap komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
“Tidak ada lagi pelemahan rupiah yang spesifik seperti yang kita lihat pada awal tahun. Tekanan tersebut sudah berhasil diredam, salah satunya karena BI sempat merespons dengan sangat tegas dengan menaikkan suku bunga secara cepat,” ujar Fraderic.
Selain kebijakan BI, HSBC turut melihat perkembangan kebijakan pemerintah sebagai salah satu faktor yang memengaruhi kepercayaan investor. Frederic menilai pemerintah masih menunjukkan komitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi makro.
Dari sisi fundamental, sejumlah indikator ekonomi Indonesia juga dinilai masih cukup terjaga. Suku bunga riil berada pada level tinggi, nilai tukar relatif stabil, sementara kondisi fiskal masih terkendali.
“Yang kami lihat saat ini adalah suku bunga riil yang tinggi, mata uang yang relatif stabil, dan kondisi fiskal yang terkendali,” kata Frederic.
Reformasi struktural jadi tantangan berikutnya
Frederic menilai tantangan Indonesia ke depan tidak lagi hanya berkaitan dengan stabilitas makroekonomi. Setelah tekanan terhadap nilai tukar dan kondisi fiskal relatif terkendali, pemerintah dinilai perlu memperkuat fundamental ekonomi melalui reformasi struktural.Sejumlah aspek yang perlu menjadi perhatian antara lain pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, perbaikan regulasi, hingga ketersediaan energi. Faktor-faktor tersebut dinilai akan menjadi penentu pertumbuhan ekonomi Indonesia berikutnya.
“Sekarang lebih banyak mengenai reformasi struktural, seperti seberapa besar kita mengatasi kekurangan infrastruktur, seberapa besar kita menekankan pendidikan, regulasi, dan penyediaan energi,” ujar dia.
Menurut Frederic, berbagai tantangan makroekonomi Indonesia sejauh ini telah banyak ditangani. Karena itu, pembenahan fundamental ekonomi di tingkat mikro menjadi langkah selanjutnya untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Jadi, tantangan makroekonomi sebenarnya sudah ditangani. Sekarang lebih kepada fundamental mikro, dan itu akan menjadi tingkat berikutnya bagi pertumbuhan Indonesia, yaitu menangani sejumlah reformasi mikro tersebut,” pungkas dia. (Selsha Septifanie Gunawan)