Ilustrasi. Foto: Dok MI
Rupiah Ditutup ke Rp17.981 per USD
Eko Nordiansyah • 29 September 2026 16:16
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Pelemahan rupiah dipengaruhi tekanan eksternal imbas geopolitik dan ketidakpastian kebijakan The Fed.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 17 September, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.981 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun tiga poin atau setara 0,02 persen dari posisi Rp17.978 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.965 per USD. Rupiah juga melemah sebanyak lima poin atau setara 0,03 persen dari Rp17.960 per USD di pembukaan perdagangan sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.753 per USD. Rupiah bergerak menguat dibandingkan dengan perdagangan pada pekan sebelumnya yang di level Rp17.712 per USD.

(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Iran masih buka pintu negosiasi
Analis mata uang Ibrahim Assuabi mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh pernyataan Iran yang tidak akan melunakkan syarat-syaratnya untuk membuka kembali Selat Hormuz.Usulan Iran tersebut memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari sembari negosiasi yang lebih luas dilanjutkan, dengan syarat Washington mencabut blokade angkatan laut, melonggarkan tekanan militer, menghapus sanksi atas penjualan minyak Iran, serta menyetujui gencatan senjata. Iran menyatakan tetap berkomitmen pada syarat-syarat tersebut meskipun Trump menolaknya.
Kendati demikian, menurut laporan Axios, Trump mengatakan ia memperkirakan negosiasi dengan kedua belah pihak akan kembali berlangsung minggu ini. Qatar telah berperan sebagai penengah yang aktif berkomunikasi dengan kedua pihak dalam upaya menghidupkan kembali perundingan tersebut.
Sementara itu, situasi Selat Hormuz memanas setelah delapan anggota Korps Marinir Amerika Serikat (AS) terluka setelah sebuah rudal jelajah antikapal Iran menghantam kapal yang mereka operasikan di Selat Hormuz.
Para anggota Korps Marinir tersebut tidak mengalami luka serius. Namun, mereka dilaporkan mengalami gangguan akibat menghirup asap serta kemungkinan cedera otak traumatis setelah mengalami gejala seperti gegar otak, termasuk sakit kepala.
Menambah kekhawatiran terkait pasokan, pasukan Houthi yang didukung Iran di Yaman juga telah meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal komersial di Laut Merah. Pada Sabtu, Arab Saudi menyatakan telah mencegat dua rudal balistik dan dua pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan oleh kelompok Houthi; peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari setelah mereka mencegat enam rudal yang ditujukan ke arah Taif dan wilayah Yanbu.
Agenda ekonomi AS akan jauh lebih padat pada minggu ini. Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan rilis pada hari Rabu, diikuti oleh data ISM Manufacturing PMI pada Kamis dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat. Rilis data-data tersebut dapat memainkan peran penting dalam membentuk ekspektasi pasar menjelang pertemuan The Fed bulan depan.