Realita Fasilitas Kesehatan Pascagempa NTT

3 September 2026 09:37

Jakarta: Bencana gempa bumi tidak hanya mengguncang rumah dan bangunan saja. Di tengah situasi darurat seperti saat ini, fasilitas kesehatan juga menjadi salah satu sektor yang terdampak. Padahal ketika bencana terjadi, kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan justru meningkat.

Ada warga yang butuhkan perawatan, ada korban yang harus segera ditangani, ada pasien dengan penyakit kronis yang tidak boleh kehilangan akses pengobatan. Disinilah tantangannya, bagaimana jika tempat untuk memberikan pertolongan itu ikut rusak diguncang gempa. 

Di Nusa Tegara Timur, sejumlah rumah sakit dan puskesmas ikut terdampak. Namun layanan kesehatan tidak boleh berhenti. Pemerintah, tenaga kesehatan, serta relawan berupaya untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan. Karena dalam situasi bencana, yang dipertaruhkan bukan hanya bangunan, tapi juga keselamatan dan kehidupan masyarakat.

Faskes terdampak gempa


Data menunjukkan bahwa dampak gempa terhadap fasilitas kesehatan di NTT tidak bisa dianggap ringan. Rumah sakit terdampak. Puskesmas juga terdampak. Dan kondisinya beragam, mulai dari kerusakan ringan, sedang hingga berat.

Persoalannya, pemulihan fasilitas kesehatan idak bisa hanya dilihat dari kondisi bangunannya saja. Ada pelayanan yang harus tetap berjalan. Ada tenaga medis yang harus tetap siaga. Ada pasien yang tidak mungkin menunggu sampai gedung selesai perbaiki. 

Karena itu penanganan fasilitas gempa harus berjalan di dua jalur utama. Yang pertama adalah memulihkan fasilitas kesehatan yang rusak. Kedua adalah memastikan pelayanan kesehatan tetap berlangsung selama proses pemulihan. 

Rumah sakit terdampak


Dari total ada 70 rumah sakit ini, 21 di antaranya terdampak gempa. Dampak terhadap rumah sakit bukan kecil. Tiga rumah sakit mengalami kerusakan berat. Sementara 16 rumah sakit masih bisa beroperasi secara penuh. Empat rumah sakit beroperasi sebagian. Dan satu rumah sakit yang belum dapat memberikan pelayanan. 

Tapi kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan tidak ikut berhenti. Dua RSUD dengan kerusakan berat membutuhkan pemulihan bahkan pembangunan kembali. Sementara pembangunan kembali tentu tidak bisa selesai dalam hitungan hari. Ada proses perencanaan, ada pembangunan, ada pengadaan.  Hingga memastikan bangunan kembali aman untuk digunakan.

Selama menunggu proses itu pertanyaannya adalah di mana masyarakat bisa mendapatkan pelayanan. Jawabannya adalah pelayanan darurat harus didekatkan kepada masyarakat. 

Puskesmas terdampak


Dan bukan hanya rumah sakit saja, puskesmas yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan daerah juga menghadapi dampak yang signifikan. Dan data menunjukkan ada 444 puskesmas ini ikut terdampak. Sebanyak 190 di antaranya terdampak gempa. Dari jumlah tersebut 68 puskesmas belum dapat bisa beroperasi secara normal. 20 puskesmasmengalami kerusakan berat, 37 rusak sedang, dan 11 rusak ringan.

Sementara masih ada 122 puskesmas yang masih beroperasi secara penuh. 49 lainnya ini beroperasi secara terbatas. 19 puskesmas belum bisa memberikan pelayanan yang prima. Secara keseluruhan, ada 166 puskesmas yang membutuhkan perhatian. 

Ini terasa sangat penting karena puskesmas bukan sekedar tempat berobat saja. Di sana ada pelayanan ibu dan anak, ada imunisasi, ada penanganan penyakit, ada pelayanan kegawatdaruratan, dan ada masyarakat di wilayah terpencil yang sangat bergantung pada fasilitas kesehatan terdekat. Jadi ketika puskesmas terganggu, dampaknya ini bisa langsung dirasakan oleh masyarakat. 

Rumah sakit darurat


Namun kondisi darurat tidak boleh berarti layanan kesehatan ini berhenti. Karena itulah solusi sementara harus dihadirkan. Salah satunya adalah melalui rumah sakit darurat. Di RSUD Ruteng, Manggarai telah disediakan lima tenda inventable. Tenda ini digunakan untuk instalasi gawat darurat. Satu lainnya digunakan untuk ruang operasi. Dan tiga lainnya digunakan sebagai ruang rawat inap. Total kapasitasnya mencapai 60 pasien. 

Kemudian ada di Rumah Sakit Aeramo, di Nagekeo, rumah sakit lapangan juga sudah beroperasi. Begitu pula dengan rumah sakit lapangan EMT Muhammadiyah.

Inilah adalah gambaran bahwa dalam kondisi bencana, sistem kesehatan harus mampu untuk beradaptasi. Ketika bangunan tidak dapat digunakan, maka pelayanan dipindahkan. Ketika ruangan tidak memadai, maka fasilitas darurat dihadirkan. Tujuannya sebenarnya sederhana. Tidak boleh ada pasien yang kehilangan pelayanan hanya karena bangunan rumah sakit terdampak bencana. 


Fasilitas dan layanan RS darurat


Tetapi rumah sakit darurat tentu tidak cukup hanya dengan tenda saja. Karena di dalamnya harus ada fasilitas peralatan, logistik dan juga tenaga kesehatan. RS darurat juga mencukup instalasi gawat darurat atau IGD. Kemudian tindakan operasi hingga pelayanan persalinan. Dan kebutuhan medis lainnya tetap harus dapat ditangani. Bahkan layanan hemodialisa, penanganan fraktur juga disiapkan.

Ini menjadi penting. Sebab pasien yang butuh pengobatan rutin tidak serta-merta menjadi sehat hanya karena terjadi bencana. Mereka tetap membutuhkan pelayanan.

Di sisi lain, operasional fasilitas darurat juga membutuhkan dukungan dasar. Seperti logistik, kemudian juga genset, hingga akses internet melalui Starlink. Semua ini menunjang agar pelayanan kesehatan bisa tetap berjalan meski infrastruktur utama ini terganggu.


Tenaga Kesehatan


Dukungan tenaga ahli juga terus dilakukan. Tim Ortopedi dari RSUD Dr. Sutomo juga dihadirkan untuk membantu penanganan. Jadi yang dibangun dalam situasi darurat ini bukan sekedar tempat saja, melainkan sebuah ekosistem pelayanan kesehatan. Ada ruangannya, ada peralatannya, ada logistiknya. Dan yang paling penting ada orang-orang yang bekerja di dalamnya, yaitu tenaga kesehatan.

Pada akhirnya, sebaik apapun fasilitas yang disediakan oleh pemerintah, oleh pemerintah daerah secara darurat, tidak akan berhenti atau tidak akan berarti tanpa adanya tenaga kesehatan. Sebanyak 392 tenaga kesehatan terjunkan di NTT. 207 di antaranya merupakan relawan dari pusat, sementara 78 tenaga kesehatan lainnya menyusul. Mereka ditugaskan selama 14 hari, dan penugasannya tidak hanya terpusat di satu wilayah saja. Mereka disebar di enam kabupaten, Manggarai,  Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.

Ada pula 206 TCK Kemenkes yang terlibat dalam penanganan di lapangan. Mereka hadir di tengah kondisi yang tidak mudah. Bekerja di wilayah terdampak, menangani pasien, memastikan pelayanan tetap berjalan, dan pada saat yang sama membantu memulihkan sistem kesehatan yang terganggu akibat gempa.


Pernyataan Menkes


Pemulihan ini tentu tidak bisa berhenti pada penanganan secara durat saja.  Fasilitas rusak yang harus dipulihkan.  Fasilitas yang rusak berat juga harus segera dibangun kembali.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sandikin, menyampaikan bahwa target waktu untuk pemulihan ini sesuai dengan tingkat kerusakannya. Beliau menyebut, kerusakan diharapkan dapat diselesaikan dalam 1 hingga 2 bulan. Sedangkan kerusakan sedang targetkan selesai dalam 3 hingga 6 bulan. Sementara kerusakan berat, waktunya diperkirakan 6 hingga 12 bulan. 

Pernyataan ini menegaskan bahwa pemulihan pasien bencana bukan pekerjaan yang selesai hanya ketika tenda durat saja didirikan. Ada tahapan panjang yang harus dikerjakan, mulai dari menjaga pelayanan, memulihkan fasilitas, hingga membangun kembali infrastruktur yang rusak berat. Dan yang paling penting, masyarakat tidak boleh kehilangan haknya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. 

Sumber: Data Kemenkes/BNPB/Redaksi Metro TV

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X