Jakarta: Di hari ulang tahun Jakarta ke-499 tahun ini dengan tagline 'Jakarta menuju lima abad transformasi kota global berkelanjutan' bukanlah sekedar rangkaian kata-kata namun juga sekaligus menandakan kematangan sejarah di mana Jakarta ini berdiri di atas fondasi ratusan tahun dari era Pelabuhan Sunda Kelapa hingga seperti sekarang ini, kota metropolis modern.
Dan di usia ke-499 ini Jakarta tengah menuju ke sebuah transformasi kota global dengan melepas status ibu kotanya untuk bisa menjadi pusat ekonomi dunia yang sejajar dengan kota-kota besar dunia lainnya. Namun kemajuan ini tentu saja harus berkelanjutan maksudnya pembangunan fisik seperti di kawasan Jalan Rasuna Said misalnya wajib berjalan selaras dengan kelestarian lingkungan dan kecanggihan layanan publik. Namun tetap terus menjaga akar budaya Betawi sebagai jati diri kota Jakarta.
Filosofi Jl HR Rasuna Said sebagai tempat pencanangan
Kita langsung membahas seperti apa filosofi jalan HR Rasuna Said dipilih sebagai tempat pencanangan hari ulang tahun ke-499 Jakarta. Tentu saja ini tidak dilakukan secara sembarangan. Pemilihan tempat ini ini ternyata memiliki filosofi sebagai titik temu, di mana ruang masa lalu yang heroik ini bersentuhan dengan sebuah ambisi masa depan yaitu Jalan Hajah Rangkayu Rasuna Said.
Tempat ini menegaskan meski Jakarta tidak lagi menyandang status ibu kota negara secara administrative, ia tetaplah ibu bagi peradaban modern dunia Indonesia khususnya, dan juga pusat gravitasi ekonomi yang tidak tergoyahkan hingga saat ini. Yang pertama adalah simbol transformasi kota global di mana pemilihan koridor HR Rasuna Said. Ini tentu saja untuk memperkenalkan wajah baru Jakarta setelah pembongkaran tiang-tiang beton bekas monorail yang telah makrak puluhan tahun lamanya.
Kawasan ini kini menjadi lebih terbuka, lega, dan juga modern. Ini adalah filosofi kota yang berhasil menyelesaikan masalah masa lalu dan kita bergerak maju menjadi kota global yang kompetitif. Yang kedua adalah presentasi mobilitas terpadu atau transit oriented development jalan Rasuna Said ini dipilih karena merupakan titik integrasi transportasi modern terutama dengan adanya LRT Jabodebek dan juga busway. Filosofinya adalah tentu saja menegaskan Jakarta menuju lima abad adalah kota yang mengutamakan mobilitas publik yang efisien berkelanjutan namun tetap manusiawi.
Dan tiga pemilihan ruang publik yang human centric city. Ini terkait dengan penataan penerbangan di Plaza Festival contohnya dan juga sepanjang jalan Rasuna Said yang merefleksikan sebuah kota untuk manusia menunjukkan bahwa transformasi Jakarta ini tidak hanya soal gedung-gedung tinggi menjulang namun juga soal penyediaan trotoar yang nyaman dan juga aman serta inklusif bagi seluruh warganya.
Yang keempat adalah gerbang menuju lima abad pencarangan di usia ke-49. Ini dianggap sebagai jembatan sejarah dengan memilih kawasan bisnis utama atau central business district yang tengah di revitalisasi pemerintah ingin memberikan pesan bahwa di usia ke-5060di tahun depan Jakarta sudah siap secara infrastruktur dan juga mentalitas warganya untuk bisa sejajar dengan kota-kota besar di dunia lainnya.
Kelima adalah keberlanjutan atau sustainability lokasi HR Rasuna Said ini juga dipilih untuk mendeklarasikan gerakan pilah sampah dari sumbernya. Filosofinya adalah bahwa kota global yang modern ini harus diikuti pula dengan perubahan perilaku atau behavior masyarakatnya dalam menjaga lingkungan khususnya hingga kemajuan fisik kota ini berjalan selaras dengan kelestarian ekologi.
Dan yang kedua adalah transformasi jalan Rasunasa itu sendiri dimana ada integrasi transportasi massal LRT Jabodebek dan juga penghapusan tiang-tiang monorel yang mengangkrak puluhan tahun dan juga ada pembangunan stasiun LRT modern yang saling terkoneksi langsung dengan Transjakarta melalui JPO Kedek (4:09) dan juga pedestrian atau terowongan bagi pejalan kaki yang sangat manusiawi.
Dengan ada pelebaran terowongan material batu alam fasilitas disabilitas khususnya dan juga pemindahan kabel-kabel yang tadinya semerawut di atas jalanan kini telah dipindahkan ke bawah tanah. Disini juga kita temukan revitalisasi ruang terbuka hijau dimana penataan taman yang cukup terintegrasi khususnya yang ada di kawasan Plaza Festival. Ada juga jalur khusus pesepeda bagi Anda yang hobi olahraga sepeda. Ini lumayan terproteksi karena menggunakan pembatas fisik atau bolat untuk menjamin keamanan para pesepeda dan juga mendukung transportasi lama lingkungan. Dan juga ada Smart Street Monitoring yang menerapkan teknologi AI pada CCTV-nya atau kamera pengawas untuk bisa memantul langsung lalu lintas serta penggunaan lampu jalan LED otomatis yang hemat energi.
Dan yang terakhir adalah rebranding dari kawasan diplomatik dimana kita jumpai sebuah transformasi citra kedutaan besar yang memang kebanyakan berada di jalan Rasuna saat ini menjadi lebih terbuka dan menyatu dengan ruang publik tanpa pagar-pagar tinggi yang kaku.
Hiburan dan pelestarian budaya
Perayaan Hari Ulang Tahun Provinsi Jakarta kali ini pun terasa berbeda karena hiburan yang gelar ini tidak hanya berfokus pada hura-hura atau euforia semata, namun juga menitikberatkan pada refleksi budaya mulai dari Pekan Raya Jakarta hingga parade budaya di jauh-jauh protokol. Semuanya ini menampilkan akulturasi seni Betawi dengan teknologi modern dan ini tentu saja akan membuat pesan kepada dunia bahwa Jakarta adalah kota global yang tidak pernah lupa akan akar budayanya yang tradisional budaya Betawi yang dikolaborasikan dengan format digital agar tetap bisa digandrungi para generasi muda atau gen Z.
Digital folklore dimana tradisi ini dikolaborasikan dengan teknologi penyajian secara Jakarta melalui teknologi VR atau augmented reality dan juga light show di ikon-ikon kota untuk menarik minat para generasi muda. Yang kedua adalah generasi kolaborasi antara seni di PRJ ada event Pesta Rakyat Tahunan. PRJ sendiri dihadirkan sebagai etalase ekonomi kreatif dan kini memadukan musik-musik modern dengan aransemen yang ulang di aransemen yang ulang dengan etik-etik Betawi ada juga Ijakandi Fall di ruang publik para debudaya Jalur Protokol Jakarta.
Dengan tentu saja ada tema jembatan lima abad yang menggambarkan transisi Jakarta dari masa klasik ke masa depan dan juga lainnya adalah Betawi ini sebagai perekat sosial yang sangat kental kita rasakan terkait dengan penguatan identitas Bekawi yang inklusif dan terbuka sebagai tuan rumah bagi keberagaman warga kota global.
Yang terakhir adalah literasi sejarah populer aktivasi museum night dan juga tur sejarah tematik. Ini tentu saja diberikan untuk memberikan hiburan yang cukup edukatif mendidik dan juga mudah diakses seluruh warga.
Tranformasi pelayanan publik
Dan transformasi pelayanan publik ini semakin membuktikan bahwa smart city Jakarta tidak ada lagi ruang birokrasi yang berbelit khususnya bagi semua layanan publik terutama mulai dari kesehatan, pendidikan hingga perizinan usaha. Semuanya telah terintegrasi dalam satu ekosistem digital yang cukup transparan dan ini tentu saja adalah hadiah terindah (bagi warga di mana kota Jakarta yang ini sangat dimagakan oleh semuanya. Tentu saja bisa hadir melayani bukan untuk membebani warganya.
Transformasi ini tentu saja adalah model utama bagi kita untuk memasuki abad ke-5 dan apa saja bentuk layanan transformasi publik ini adalah terkait dengan optimalisasi ekosistem digital smart city 4.0 dan juga ada penguatan integrasi transportasi publik dari mikro to makro ada juga transparansi dari tata kolola berbasis data dan juga birokrasi yang manusiawi dan inklusif tadi.
Pernyataan J.J. Rizal
Menurut sejarawan J.J. Rizal, Jakarta Menuju Lima Abad adalah sebuah cerita tentang kemauan menyintesiskan sejarah dengan modernitas ini kita juga bisa melihat. Beliau juga mengatakan bahwa kita harus menjadi moderat kita maju secara teknologi namun tetap berpijak pada akar budaya Betawi yang menyatukan. Jadi Jakarta ini cerita tentang kemampuan menyintesiskan sejarah dengan modernitas kita harus tetap berakar dalam sejarah Betawi.
Dalam pandangan sejarawan J.J. Rizal terutama terkait dengan perjalanan Jakarta Menuju Usia Lima Abad ini adalah sebuah proses sintesis besar antara kemajuan teknologi dan juga perlestarian sejarah Jakarta. Ini juga harus mampu mengambil jalan tengah atau menjadi moderat dimana modernisasi fisik ini tidak boleh mengusir identitas aslinya.
Rizal juga menyatakan bahwa akar budaya Betawi yang inklusif dan terbuka ini adalah kunci utama meski Jakarta terus tumbuh menjadi kota global yang canggih dan jiwa Betawi. Betawi ini akan tetap menjadi perekat sosial yang menyatukan seluruh warganya di tengah perubahan zaman dan kalau bisa satu tahun lagi kita akan mencatat sejarah Lima Abad Jakarta Menuju Angka 499. Ini tentunya adalah bukti bahwa Jakarta adalah kota yang tahan banting dan terus berinovasi sebagaimana kuat dari sejarawan J.J. Rizal tadi. Semangat ini agar Jakarta tetap terus menjadi kebangkaan kita semua.
Sumber: Redaksi Metro TV