Belajar dari Tiongkok, Menteri Transmigrasi Bidik Kawasan Berbasis Riset

Dashyauly Hutauruk • 15 October 2026 15:47

Chongqing: Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mempelajari model pengembangan kawasan berbasis riset dan teknologi pertanian di Chongqing, Tiongkok, sebagai referensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi baru di kawasan transmigrasi Indonesia. Pendekatan ini dinilai penting agar pengembangan wilayah sesuai dengan potensi lahan dan mampu meningkatkan kapasitas masyarakat setempat.

Dalam kunjungannya ke Chongqing Academy of Agricultural Sciences, Iftitah melihat penerapan riset pertanian dan peternakan, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), sistem akuaponik, serta penelitian tanah untuk menentukan komoditas yang sesuai dengan kondisi lahan.
 



Iftitah menilai pengembangan kawasan perlu didasarkan pada riset dan pengetahuan agar tidak berjalan tanpa perencanaan yang jelas.

“Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang baru itu harus berdasarkan riset, harus berdasarkan pengetahuan. Karena kalau tidak, itu akan sporadis,” ujar Iftitah.

Menurutnya, hasil penelitian juga perlu diterapkan secara langsung oleh masyarakat transmigrasi dan warga lokal. Karena itu, pemerintah perlu memastikan masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola potensi pertanian serta sumber daya di wilayahnya.

Riset Pertanian untuk Menentukan Potensi Lahan

Salah satu hal yang dipelajari Iftitah ialah pemanfaatan pusat riset untuk membantu petani menentukan jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi tanah. Melalui penelitian berkala, karakteristik lahan dapat diketahui sehingga pengembangan komoditas bisa dilakukan secara lebih terarah.

Iftitah menjelaskan, intervensi pemerintah dapat dilakukan melalui penyediaan riset yang hasilnya kemudian dibagikan kepada petani agar dapat diterapkan dalam kegiatan produksi.

“Jadi setiap bulan ada terus penelitian dan riset, jadi intervensi pemerintah diberikan dalam bentuk riset, tapi nanti hasilnya dibagikan kepada seluruh petani,” kata Iftitah.

Ia juga menyoroti pentingnya penelitian tanah untuk mengetahui kondisi lahan dan menentukan tanaman yang paling sesuai. Dengan pendekatan tersebut, pengembangan pertanian di kawasan transmigrasi diharapkan lebih efektif dan efisien.

Selain riset tanah, Iftitah melihat penerapan sistem akuaponik yang mengintegrasikan budidaya ikan dan penanaman sayuran melalui sirkulasi air yang sama. Sistem ini menjadi salah satu contoh pemanfaatan teknologi untuk mendukung pertanian yang lebih terintegrasi dan ramah lingkungan.

Integrasi Pertanian, Pariwisata, dan Lingkungan

Pembelajaran juga dilakukan di Desa Zhenwugong, Chongqing, yang mengintegrasikan pertanian, pariwisata, dan penataan lingkungan dalam satu kawasan. Pengelolaan lahan disesuaikan dengan potensi dan peruntukannya agar kegiatan ekonomi masyarakat dapat berkembang secara terpadu.

Model tersebut turut menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, mulai dari pengelolaan lahan hingga pengembangan usaha dan pariwisata. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
 

Iftitah menyebut pengembangan kawasan berbasis riset membutuhkan proses dan konsistensi. Ia berharap pendekatan serupa dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam meningkatkan kualitas produksi pertanian dan daya saing hasil panen.

“Tapi kembali lagi, itu semua membutuhkan waktu, tapi kalau kita konsisten, nanti kita tidak kalah dengan produk-produk dari luar,” ujar Iftitah.

Melalui pembelajaran di Tiongkok, pemerintah diharapkan dapat mengembangkan kawasan transmigrasi dengan memanfaatkan potensi lokal, memperkuat kemampuan masyarakat, serta menghubungkan riset dengan kegiatan ekonomi produktif.

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X