Fakta Erupsi Anak Krakatau hingga Dampak yang Ditimbulkan

7 September 2026 07:07

Jakarta: Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di Selat Sunda sudah mulai terasa di Bengkulu, Lampung, Banten, hingga Ibu Kota Jakarta, bahkan sebagian dari wilayah Jawa Barat.


Fakta Gunung Anak Krakatau


Sejarah terbentuknya Gunung Anak Krakatau adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Gunung Krakatau Induk yang terbentuk pada 416 sebelum masehi. Saat terjadi letusan besar, terjadilah pembentukan geologis berupa tiga pulau akibat pembentukan Kaldera, yaitu Rakata, Sertung, dan juga Panjang. 

Sedangkan Anak Krakatau baru mulai terbentuk pada rentan waktu sekitar 1927 hingga 1930. Anak Krakatau jadi bagian yang tidak terpisahkan dari Krakatau Induk karena intinya ada proses pembentukan geologis dari letusan Gunung Krakatau Induk yang sangat masif pada 1883, sangat luar biasa, sehingga menghancurkan sebagian besar dari tubuh Gunung Induk itu.

Lalu melahirkan sebuah kaldera raksasa di bawah permukaan laut, sehingga pada akhirnya akumulasi dari material erupsi di bawah laut karena dapur makmanya sama dengan Gunung Krakatau. Gunung Anak Krakatau akhirnya muncul ke permukaan pada 1927 hingga 1930. 

Melansir dari berbagai sumber, waktu istirahat dari Gunung Anak Krakatau diperkirakan antara 1 sampai 8 tahun, dan terjadi 4 tahun sekali berupa letusan abu dan lelehan lava.

Perkembangan aktivitas erupsi dan status


Pantauan aktivitas pada Senin, 31 Agustus 2026, tepatnya pada pukul 05.56 WIB, dengan kolom letusan 200 meter, amplitude maksimum 47 mm, dan durasi erupsi 14 detik ini. Lalu deteksi lanjutan kembali, yaitu pada Jumat, 4 September, di mana terjadi 3 kali erupsi. 3 erupsi pertama tersebut terjadi pada pukul 04.11, disusul 04.19 dan 04.28 WIB, dengan amplitude maksimal atau masing-masing 33, 60, dan juga 70 yang tercatat di seismograf.

Dan terjadi erupsi berikutnya pada pukul 05.46 WIB. Kali ini letusannya teramati dengan kolom abu mencapai 300 meter di atas puncak, atau sekitar 457 meter di atas permukaan laut. Dan status saat ini berada di level 3 atau siaga. 

Gunung Anak Krakatau sebenarnya terletak dari antara Pulau Jawa dan juga Pulau Sumatra, atau yang lebih sering kita kenal sebagai Selat Sunda. Dan yang patut diantisipasi sekitar Lampung dan Bengkulu sudah mulai terlihat dampaknya, mulai dari debu di kendaraan, rumah. Dan sudah ada himbaun untuk menggunakan masker. 

Sama seperti halnya di wilayah Bengkulu ataupun di wilayah Lampung, di wilayah Banten warga sudah mulai menyampaikan adanya debu abu vulkanik, baik itu bagian teras rumah mereka hingga kendaraan, tanpa terkecuali juga ibu kota, provinsi, DKI Jakarta.

Dampak abu vulkanik


Tentu yang paling mengkhawatirkan di antaranya adalah dampak kesehatan, seperti pernafasan, kesehatan mata, dan juga kulit yang berpotensi sangat berdampak.

Itulah kenapa imbauan yang disampaikan oleh pemerintah adalah apabila tidak diperlukan untuk melakukan aktivitas outdoor, lakukanlah aktivitas di indoor dan di rumah saja. 

Dan mitigasi yang bisa dilakukan tentu adalah kenakan masker medis saat di luar ruangan dan kurangi aktivitas di luar ruangan. Sangat baik untuk digunakan adalah di kategori PM25. 

Apabila Anda ingin membersihkan kendaraan, teras, silakan dilap saja atau langsung disemprot dengan aliran air. Jangan dipegang. Apalagi terpegang, abis itu nanti Anda mengucek mata ataupun menyentuh bagian kulit dan lain sebagainya, bilaslah di aliran air.

abu vulkanik juga berdampak pada jarak pandang dari aktivitas penerbangan. Sehingga tiga bandara yang terdampak sampai harus menerbitkan notam atau pemberitahuan berisi informasi penting, menghentikan sementara aktivitas penerbangan dari dan menuju.

Seperti Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdana Kusuma, Bandara Lampung, Budiarto Curug, Bandara Lapangan Terbang Pondok Cabe. Namun yang menjadi sorotan utamanya adalah Bandara Soetta, Halim, dan Lampung yang trafiknya lebih tinggi. 

Pernyataan Menteri Kesehatan


Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kembali mengingatkan tentang adanya potensi bahaya atau gangguan kesehatan imbas abu vulkanik di tiga aspek. Yaitu di kulit, pernapasan, dan juga mata. "Kita pesankan ke masyarakat agar tidak panik dan 3 hal musti dijaga bersama. Abu vulkanik ada 3 dampak yang dijaga, yang pertama pernafasan, kedua mata, dan ketiga kulit. Usahakan kegatan dilakukan di rumah," ujar Budi.

Sumber: Redaksi Metro TV

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X