Jakarta: Kumis pada kucing kerap dianggap sebagai bagian dari penampilan yang dapat dirapikan seperti rambut atau bulu. Padahal, bagian tubuh yang disebut vibrissae tersebut memiliki fungsi sensorik penting bagi kucing sehingga tidak dianjurkan untuk dipotong.
Kumis kucing bukan sekadar bulu biasa. Helaiannya tertanam lebih dalam di kulit dan memiliki banyak ujung saraf serta pembuluh darah di bagian pangkal. Struktur tersebut membuat kumis mampu membantu kucing menerima informasi mengenai lingkungan di sekitarnya.
Salah satu fungsi utama kumis adalah membantu kucing memperkirakan jarak dan ukuran ruang. Kemampuan ini berguna ketika kucing hendak melewati celah sempit atau menentukan apakah tubuhnya dapat masuk ke suatu ruang.
Kumis juga membantu kucing mendeteksi perubahan aliran udara. Kemampuan tersebut dapat membantu mereka mengenali keberadaan objek di sekitar, terutama ketika berada dalam kondisi minim cahaya. Pada saat berburu,
vibrissae turut membantu kucing mendeteksi gerakan mangsa dari jarak dekat.
Selain berperan sebagai alat sensorik, posisi kumis juga dapat memberikan informasi mengenai kondisi atau respons kucing terhadap situasi tertentu.
Memotong helai kumis tidak menyebabkan rasa sakit seperti ketika jaringan kulit terluka karena bagian helainya sendiri tidak memiliki saraf. Namun, hilangnya kumis dapat mengurangi kemampuan kucing dalam menerima informasi sensorik dari lingkungan.
Kondisi tersebut dapat membuat kucing mengalami kesulitan memperkirakan jarak, lebih mudah menabrak benda, atau merasa bingung ketika bergerak di lingkungan yang familiar. Perubahan kemampuan sensorik juga dapat menyebabkan kucing mengalami stres atau disorientasi.
Jika kumis kucing tidak sengaja terpotong atau mengalami kerusakan, pemilik tidak perlu mencoba menggantinya atau memotong bagian lainnya agar terlihat seragam. Kumis akan tumbuh kembali secara alami dalam beberapa waktu.
Selama proses tersebut, kucing dapat dibantu dengan menyediakan lingkungan yang aman dan mempertahankan rutinitas hariannya. Pencahayaan yang cukup pada malam hari juga dapat membantu kucing beraktivitas ketika kemampuan sensoriknya belum sepenuhnya kembali. (Titik Nurmalasari)