Iran mengancam tidak akan mengizinkan satu liter minyak pun melewati Selat Hormuz untuk Amerika Serikat (AS), Israel, dan sekutu mereka. Setiap kapal atau kargo minyak yang dimiliki AS, Israel, atau sekutunya akan dianggap sebagai target yang sah.
"Kami tidak akan pernah mengizinkan bahkan satu liter minyak pun melewati Selat Hormuz untuk kepentingan AS. Zionis, atau mitra mereka," kata Juru Bicara Khatam Al-Anbia, Letkol Ebrahim Zolfaghari, dalam program Breaking News Metro TV, Kamis, 12 Maret 2026.
"Penutupan Selat Hormuz akan menjadi akibat dari syarat-syarat yang telah diberlakukan AS dan Zionis Israel kepada negara-negara di seluruh dunia," kata Ebrahim.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (
IRGC) secara resmi menetapkan syarat berat bagi negara-negara yang ingin kapal tanker minyaknya melintasi Selat Hormuz dengan aman. Melalui pengumuman yang ditayangkan oleh televisi pemerintah Iran (IRIB), IRGC menuntut negara-negara tersebut untuk segera mengusir Duta Besar AS dan Israel dari wilayah mereka sebagai jaminan keamanan di jalur laut vital tersebut.
Pihak IRGC menegaskan akan memberikan hak melintas penuh bagi negara-negara di kawasan Arab maupun Eropa yang bersedia mengambil langkah diplomatik tegas tersebut. Sejak pecahnya perang dengan aliansi AS dan Israel, Iran dilaporkan telah menutup perlintasan Selat Hormuz yang menjadi jalur kunci bagi stabilitas energi global. Jalur ini merupakan urat nadi penting yang bertanggung jawab atas lalu lintas 20 persen minyak mentah serta gas alam cair (LNG) dunia.