Perang Belum Usai: Korban Berjatuhan, Tekanan Ekonomi Kian Terasa

13 March 2026 08:20

Jakarta: Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim memiliki pasokan senjata penting yang nyaris tidak terbatas. Di sisi lain, Iran juga menegaskan mereka punya kapasitas untuk bertahan melawan musuh lebih lama daripada yang diperkirakan oleh Amerika Serikat. 

Kedua belah pihak yang bertikai saling menunjukkan taringnya dan belum ada tanda keseriusan menuju meja perundingan. Lantas sampai kapan perang ini akan terjadi? Sementara korban telah berjatuhan dan tekanan ekonomi kian terasa. 


Perkembangan terkini


Sejak perang ini pecah, intensitas pertempuran terus tinggi di mana Amerika Serikat, Israel dan Iran diperkirakan sudah menggunakan senjata lebih cepat daripada kemampuan produksi mereka.

Media Inggris BBC mengutip data dari Institut Studi Keamanan Nasional INSS yang memperkirakan Amerika dan Israel telah melancarkan lebih dari 2.000 serangan sejak 28 Februari lalu. Dan setiap serangan melibatkan banyak amunisi. Sementara dari pihak Iran diperkirakan telah menembakkan 571 rudal dan 1391 drone.

Apabila perang ini terus berlarut-larut maka intensitas serangan yang besar-besaran ini pemirsa diprediksi ujungnya akan sangat menyulitkan.  Baik dari sisi strategi tempur maupun secara ekonomi. Sementara garda pertahanan dari kedua belah pihak yang melakukan saling serang ini pun korban terus berjatuhan.


Korban akibat perang


Menurut data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Iran pada 8 Maret 2026 sejak perang pecah pada 28 Februari lalu sudah ada sebanyak 1.200 korban yang tewas di Iran. Dan tak kurang dari 10 ribu korban lainnya luka-luka. Sementara Pentagon atau Departemen Pertahanan Amerika Serikat mencatat ada 140 tentara mereka yang dilaporkan luka-luka.

Bahkan pada saat awal terjadinya serangan Trump merespons terkait dengan tewasnya tiga tentara Amerika Serikat dengan mengancam Iran bahwa perang akan terus berlanjut. 

Sementara media CNBC juga menuliskan bahwa di sisi Israel dilaporkan terdapat 14 korban tewas. Dan dari pihak CENKOM atau Komando Pusat Amerika Serikat mencatat ada 24 orang yang tewas di negara-negara teluk seperti di Kuwait, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar dan juga di Oman.


Risiko ranjau di Selat Hormuz


Ini bukan hanya korban tewas dan luka secara fisik saja tapi harga minyak ini juga dilaporkan masih melambung jika dibandingkan dengan sebelum terjadinya perang. Hal ini salah satunya disebabkan ketegangan di Selat Hormuz yang menjadi titik cekik yang dikuasai oleh Iran. 

Setelah Iran disebut-sebut menempatkan ranjau di Selat Hormuz, Trump merespons dengan nada ancaman dimana kapal perang AS ini disiapkan untuk masuk ke selat utama jalur minyak dari timur tengah itu atau di Selat Hormus untuk mengawal kapal-kapal niaga tanker pembawa minyak. Meskipun hal ini sebetulnya sangat berisiko.

Sementara pihak Iran juga menyatakan sebuah statement ini terkait dengan syarat dibukanya akses Selat Hormuz bagi negara-negara, tapi dengan syarat negara yang mau lewat ini harus mengusir diplomat AS dan Israel atau dengan kata lain memutus hubungan diplomatik antara negara tersebut dengan dua musuh Iran.


Pergerakan harga minyak dunia


Dan akibatnya harga minyak per hari ini dilaporkan ini masih mengalami kenaikan meskipun sepanjang pekan ini sebetulnya sempat terjadi koreksi.

Sepanjang perdagangan di 11 Maret 2026 kemarin minyak mentah brand misalnya berada di level 90,84 sampai dengan 91,23 dolar AS per barrel.  Sementara untuk minyak mentah WTI pada 11 Maret 2026 berada di level 85,29 hingga 87,24 dolar AS per barrel. 

Menanggapi adanya ancaman atau efek domino dari melonjaknya harga minyak mentah ini, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency IEA mengadakan pertemuan dan juga menghasilkan sejumlah usulan salah satunya terkait dengan pelepasan cadangan minyak terbesar.

Bahkan pelepasan cadangan minyak ini diprediksi dapat melampaui 182 juta barrel yang sebelumnya ini angkanya sangat besar ketika terjadi invasi Rusia ke Ukraina di tahun 2022 silam. 

Dan Angkatan Darat Republik Islam Iran mengumumkan bahwa drone angkatan udara mereka telah menyerang kilang minyak dan gas serta fasilitas penyimpanan bahan bakar milik rezim Zionis Israel di Haifa. Dalam pengumuman ke-20, Angkatan Darat Republik Islam Iran menyatakan bahwa operasi pembalasan dilakukan oleh Iran sebagai respons atas agresi AS Zionis terhadap cadangan minyak Iran. Dalam pernyataannya, Angkatan Darat Iran mengungkapkan bahwa para prajurit pemberani angkatan udara.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Wijokongko)