AS dan NATO Tarik Pasukan dari Irak

25 March 2026 12:04

Jakarta: Memasuki hari ke-25 konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, serangan balasan yang dilancarkan oleh Poros Perlawanan Islam di Irak berhasil menekan hingga memaksa pasukan militer AS meninggalkan pangkalan mereka di wilayah Irak.

Hal tersebut dikonfirmasi oleh Juru Bicara Kelompok Perlawanan Islam Irak atau Saraya Awliya al-Dam, Abu Mahdi Al-Jaafari. Ia menyatakan bahwa pihak AS beserta sekutunya North Atlantic Treaty Organization (NATO) meminta gencatan senjata untuk mengevakuasi pasukannya dari pangkalan Victoria di Baghdad, Irak.

"AS dan NATO meminta pemerintah Irak untuk gencatan senjata selama 24 jam dari faksi perlawanan Iran untuk menyelesaikan penarikan pasukan mereka dari pangkalan 'Victoria' di Baghdad," tutur Abu Mahdi, dikutip dari Primetime News, Metro TV, Rabu, 25 Maret 2026. 

Lebih lanjut, Saraya Awliya al-Dam mengungkapkan telah melancarkan serangan drone ke pangkalan AS Al Harir di Erbil, Irak. Langkah ini dilakukan untuk melemahkan sekaligus mengusir pasukan AS dari area tersebut, sebagaimana yang telah terjadi di pangkalan Victoria. 

Sementara itu tidak hanya AS, sejumlah negara anggota NATO seperti Jerman, Italia, Spanyol, Polandia, hingga Kroasia juga memutuskan menarik sementara pasukannya dari Irak.
 

Baca Juga: Kedubes AS di Irak Diserang Drone dan Roket Masif

Faktor utama AS dan NATO hengkang dari Irak

Mantan Penerbang F-5 Tiger dan F-16, Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati menilai, penyebab penarikan pasukan AS dan NATO dari Irak dipicu oleh biaya pertahanan pangkalan yang membengkak. 

"Kalau kita bicara soal minta waktu angkat kaki selama 24 jam memang orang-orang ini hanya menghitung kalau biaya untuk mempertahankan asetnya sudah melampaui manfaat strategisnya. Makanya pangkalan mereka di Irak yang dulunya adalah proyeksi kekuatan sekarang berubah menjadi sasaran tembak statis," ungkap Agung.

Lebih lanjut, Agung menyatakan faktor utama penarikan pasukan AS adalah melemahnya posisi mereka di Baghdad akibat hilangnya kepercayaan penduduk setempat. Terutama di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. 

"Faktor utamanya adalah hilangnya daya gentar. Orang-orang ini sudah enggak takut sama barat. Penduduknya tidak suka karena beda dengan negara Arab lain yang sunni, di sini adalah syiah. Apalagi sekarang AS melakukan serangan ke Iran, membuat mereka jadi agresif dengan orang-orang AS di situ," jelas Agung. 

Gencatan senjata ini juga dipandang sebagai upaya AS untuk melindungi pasukannya serta meminimalisir korban akibat serangan drone dari Irak.

(Alfiah Ziha Rahmatul Laili)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Gervin Nathaniel Purba)