Hari Tani 2026: Lahan tak Terbeli, Anak Muda Enggan Bertani-Beranda Nasional

Misbahol Munir • 25 September 2026 08:31

Jakarta: Hari Tani Nasional 2026 menjadi cermin retak bagi sektor pertanian kita. Di balik klaim capaian produksi dan penguatan Nilai Tukar Petani (NTP) versi BPS, Indonesia menghadapi dua ancaman mematikan. Mayoritas petani masih menjadi penggarap tanpa tanah, sementara generasi muda kian bulat menolak untuk turun ke sawah.

Salah satu persoalan yang dihadapi petani adalah keterbatasan akses terhadap lahan. Tidak seluruh pelaku usaha tani memiliki lahan sendiri. Sebagian masih mengandalkan sistem sewa maupun bagi hasil dengan pemilik lahan. Dalam sistem bagi hasil, pendapatan yang diperoleh dari panen harus dibagi dengan pemilik lahan. Kondisi tersebut dapat mengurangi pendapatan bersih petani, terlebih ketika harus menghadapi kenaikan biaya produksi seperti benih, pupuk, pestisida, hingga biaya tenaga kerja.

Keterbatasan kepemilikan atau penguasaan lahan juga dapat memengaruhi kemampuan petani melakukan investasi jangka panjang. Upaya memperbaiki kualitas tanah, menerapkan teknologi pertanian, maupun mengembangkan usaha tani membutuhkan kepastian bahwa petani dapat terus mengelola lahan tersebut.

Ancaman kedua yang tidak kalah genting adalah darurat regenerasi demografi pertanian. Mayoritas pahlawan pangan Indonesia saat ini didominasi oleh kelompok usia di atas 45 hingga 60 tahun. Di sisi lain, generasi muda khususnya Gen Z dan Milenial cenderung enggan menjadikan sektor pertanian sebagai pilihan karier utama. Stigma bahwa bertani identik dengan kerja fisik yang berat, risiko gagal panen tinggi akibat perubahan iklim, serta ketidakpastian harga jual di tingkat tengkulak menjadi penghambat utama. Tanpa adanya modernisasi tata kelola, jaminan harga output yang adil, serta intervensi teknologi berbasis digital, sektor pertanian akan kehilangan tenaga produktifnya dalam satu hingga dua dekade ke depan.

Pada akhirnya Hari Tani Nasional 2026 harus dijadikan momentum untuk mengevaluasi kembali ukuran keberhasilan pembangunan pertanian. Produksi dan ketersediaan pangan memang penting, tetapi ketahanan pangan juga berkaitan dengan kondisi orang-orang yang memproduksinya.

Keberlanjutan pertanian pada akhirnya tidak hanya bergantung pada seberapa banyak pangan yang dihasilkan, tetapi juga pada siapa yang mengelola lahan dan apakah generasi berikutnya masih melihat pertanian sebagai pilihan masa depan. Hambatan utamanya ada pada stigma bahwa bertani identik dengan kerja fisik yang berat, risiko gagal panen tinggi akibat perubahan iklim, serta ketidakpastian harga jual di tingkat tengkulak. Tanpa adanya modernisasi tata kelola, jaminan harga output yang adil, serta intervensi teknologi berbasis digital, sektor pertanian akan kehilangan tenaga produktifnya dalam satu hingga dua dekade ke depan. 

Hari Tani Nasional 2026 harus dijadikan momentum untuk mengevaluasi kembali ukuran keberhasilan pembangunan pertanian. Produksi dan ketersediaan pangan memanglah penting. Namun, pada akhirnya keberlanjutan pertanian tidak hanya bergantung pada seberapa banyak pangan yang dihasilkan, tetapi juga pada siapa yang mengelola lahan dan apakah generasi berikutnya masih melihat pertanian sebagai pilihan masa depan. (Titik Nurmalasari)

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X