Harga Emas Melejit di Tengah Penurunan Dolar AS

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Emas Melejit di Tengah Penurunan Dolar AS

Eko Nordiansyah • 4 September 2026 08:35

Chicago: Harga emas dunia naik sekitar dua persen pada Kamis, 3 September 2026, dengan harga spot sempat menembus angka USD4.500 per ons. Logam mulia ini mendapat sentimen positif dari pelemahan dolar dan penurunan imbal hasil (yield) obligasi Treasury.

Komentar bernada dovish dari seorang pejabat Federal Reserve turut memperbaiki sentimen pasar, sementara harga minyak yang cenderung stagnan juga memberikan dorongan tambahan.

Dikutip dari Investing, Jumat, 4 September 2026, harga emas spot naik 1,9 persen menjadi USD4.474,09 per ons. Sedangkan harga emas berjangka naik 2,4 persen menjadi USD4.521,16 per ons.

Imbal hasil obligasi melanjutkan penurunan

Sorotan utama dalam beberapa minggu terakhir adalah aksi jual berkepanjangan di pasar obligasi AS dan global, yang mendorong imbal hasil ke level tertinggi dalam beberapa tahun serta meningkatkan biaya pinjaman.

Faktor pendorong aksi jual ini antara lain kekhawatiran mengenai inflasi di tengah tingginya harga minyak, ketakutan akan penerbitan utang yang tidak berkelanjutan oleh perusahaan untuk mendanai pembangunan infrastruktur AI, serta membengkaknya utang fiskal.

Pada Selasa, imbal hasil (yield) obligasi acuan AS tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak November 2023, sementara imbal hasil tenor 2 tahun mencapai level tertinggi sejak Juli 2024.

Angka-angka tersebut melandai pada Rabu, dan penurunannya berlanjut pada Kamis. Imbal hasil tenor 10 tahun terakhir tercatat turun 2,5 basis poin menjadi 4,769 persen, dan tenor dua tahun turun 5,2 basis poin menjadi 4,334 persen.
(Ilustrasi. Foto: Unplash)

Para pemantau suku bunga merasa optimis setelah mendengar komentar positif dari Gubernur The Fed, Christopher Waller. Meskipun inflasi masih berada jauh di atas target dua persen yang ditetapkan Federal Open Market Committee (FOMC), data terkini menunjukkan bahwa kita akhirnya melihat tanda-tanda disinflasi.

"Jika tren ini berlanjut dalam data yang akan dirilis dua minggu ke depan, saya cenderung mendukung untuk mempertahankan target suku bunga federal funds pada level saat ini," ujar Waller dalam pernyataan yang disiapkan untuk wawancara Reuters NEXT di Washington, D.C.

Anggota FOMC yang memiliki hak suara tersebut menambahkan bahwa ia meyakini kondisi inflasi yang mendasar (underlying inflation) jauh lebih baik daripada yang ditunjukkan oleh angka inflasi inti.

Pernyataan tersebut mencerminkan nada yang tidak terlalu hawkish dibandingkan pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, pada konferensi tahunan Jackson Hole pekan lalu.

Saat ini, perhatian tertuju pada laporan nonfarm payrolls Agustus yang akan dirilis Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai suku bunga. Meskipun indikator pasar tenaga kerja belakangan ini menunjukkan pelemahan, gambaran umum lapangan kerja tetap tangguh, sehingga memberikan ruang bagi FOMC untuk berfokus pada inflasi.

Ketegangan AS-Iran tetap tinggi

Beralih ke Timur Tengah, situasi tetap tegang di tengah lonjakan ketegangan terbesar antara AS dan Iran sejak Juli.

Washington dan Teheran sempat mengalami kebuntuan terkait kendali atas Selat Hormuz menjelang akhir pekan lalu, dan Presiden Donald Trump tampaknya telah mengubah strateginya dari serangan militer menjadi perang ekonomi.

Namun, aksi militer kembali terjadi pada hari Minggu untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir dan terus meningkat selama beberapa hari belakangan, dengan kedua belah pihak saling melancarkan serangan.

Media pemerintah Iran melaporkan adanya serangan drone dan rudal terhadap pangkalan AS di Kuwait, sementara kementerian luar negeri Kuwait secara terpisah menyatakan Iran telah melakukan tindakan agresif pada Kamis dini hari.

Pada hari Rabu, Trump mengatakan kepada para wartawan ia tidak mengira aksi saling serang militer yang baru dengan Iran akan berlangsung "terlalu lama" dan kembali menyoroti pentingnya kendali atas Selat Hormuz.

Pada Kamis pagi, Presiden AS tersebut mengunggah sebuah grafik di platform Truth Social miliknya yang menunjukkan bahwa volume minyak yang mengalir melalui jalur perairan vital tersebut saat ini mencapai 18 juta barel per hari, dibandingkan dengan 20 juta barel sebelum konflik terjadi.

Di tengah situasi tersebut, pergerakan harga minyak pada hari Kamis cenderung terbatas. Harga minyak mentah berjangka Brent terakhir tercatat naik 0,1 persen menjadi USUSD95,70 per barel.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 0,6 persen menjadi USD91,60 per barel. Namun, kedua kontrak tersebut mencatatkan kenaikan mingguan yang signifikan, dengan Brent naik delapan persen dan WTI naik 9,4 persen.

(Eko Nordiansyah)