Harga Emas Dunia Turun Akibat Spekulasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Ilustrasi. Foto: Unplash

Harga Emas Dunia Turun Akibat Spekulasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Eko Nordiansyah • 22 September 2026 08:42

Chicago: Harga emas dunia turun pada Senin, 21 September 2026, di tengah penguatan dolar yang membawa mata uang AS tersebut ke level tertinggi dalam hampir delapan minggu.

Penurunan harga logam mulia ini tertahan oleh turunnya harga minyak yang dipicu oleh harapan diplomasi di Timur Tengah dan meredanya kekhawatiran pasokan.

Dikutip dari Investing, Selasa, 22 September 2026, emas spot turun 0,8 persen dan ditutup pada level USD4.343,73 per ons. Sementara emas berjangka turun satu persen dan ditutup pada USD4.381,00 per ons.

Sikap hawkish The Fed tetap menjadi sorotan

Para pelaku pasar logam mulia pada Senin masih mencerna peristiwa besar pekan lalu, keputusan suku bunga terbaru dari Federal Reserve. Federal Open Market Committee (FOMC) secara bulat memutuskan untuk menaikkan suku bunga federal funds menjadi 3,75-4,00 persen dari sebelumnya 3,50-3,75 persen.

Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi cenderung membebani aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding assets) seperti emas. Suku bunga tinggi juga cenderung memperkuat dolar, yang pada gilirannya dapat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli asing.

Selain itu, pembaruan Ringkasan Proyeksi Ekonomi The Fed menunjukkan bahwa setidaknya 12 anggota FOMC memperkirakan adanya satu kali lagi kenaikan suku bunga tahun ini.

Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed telah melonjak hingga 90 persen menjelang keputusan FOMC, didorong oleh lonjakan harga minyak, data ekonomi AS, dan penurunan tajam yang terus berlanjut di pasar obligasi. Investor pendapatan tetap (fixed-income) khususnya menyambut baik kenaikan suku bunga tersebut sebagai bukti The Fed tidak tertinggal dalam merespons laju inflasi.

Kenaikan suku bunga bank sentral menjadi berita utama bulan ini menyusul langkah serupa dari Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of Japan (BoJ), keduanya sama-sama menyebutkan adanya tekanan harga akibat faktor energi.
(Ilustrasi. Foto: Dok Bappebti)

Harga minyak turun

Beralih ke Timur Tengah, harga minyak turun pada hari Senin; kontrak berjangka minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, sempat jatuh di bawah level USD100 per barel. Pada akhirnya, harga turun 3,2 persen dan ditutup pada level USD100,14 per barel.

Penurunan ini terjadi di tengah meredanya kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak, menyusul kabar positif dari Komando Pusat AS (CENTCOM). Laksamana Brad Cooper pada hari Sabtu menyatakan bahwa pasukan CENTCOM telah mendukung pengangkutan lebih dari satu miliar barel minyak mentah melalui Selat Hormuz dalam beberapa bulan terakhir.

Komentar tersebut menekan harga minyak, bahkan di tengah kekhawatiran para pedagang mengenai konflik yang kian meluas antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.

Pertempuran antara kedua pihak dilaporkan meningkat selama akhir pekan, seiring upaya Houthi untuk mendapatkan posisi tawar strategis atas Selat Bab el-Mandeb, koridor pelayaran vital lainnya yang menghubungkan Teluk Aden dengan Laut Merah dan digunakan oleh Arab Saudi sebagai jalur transit alternatif untuk ekspor minyaknya.

Penutupan berkelanjutan pada Pipa Timur-Barat yang vital di Arab Saudi sempat menjadi topik pembahasan utama pekan lalu, namun kekhawatiran akibat penutupan tersebut mereda setelah kerajaan mengambil langkah untuk mengimbangi kerugian dengan meningkatkan ekspor dari pantai timur dan mengizinkan transfer muatan antar-kapal di lepas pantai Oman.

Data dari perusahaan analitik pelayaran Kpler menunjukkan ekspor minyak Saudi telah kembali ke angka sedikit di atas empat juta barel per hari sepanjang September ini, naik dari 2,4 juta barel per hari pada Agustus.

Harga minyak pada Senin juga turun di tengah harapan akan adanya kemajuan diplomatik antara Washington dan Teheran dalam pertemuan Majelis Umum PBB pekan ini, di mana delegasi dari Iran diperkirakan akan hadir. Laporan media mengatakan Trump "terbuka" untuk berbicara dengan Masoud Pezeshkian, Presiden Iran.

Para pedagang juga berharap akan ada beberapa pembicaraan mengenai Iran antara Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Trump, karena negara Asia tersebut adalah pembeli minyak mentah Iran terbesar. Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengonfirmasi kunjungan Xi ke AS pada Senin.

Juru bicara Guo Jiakun mengatakan kepada wartawan bahwa Xi dan Trump akan melakukan pertukaran pandangan mendalam tentang isu-isu utama yang berkaitan dengan hubungan bilateral dan perdamaian serta pembangunan dunia.

(Eko Nordiansyah)