Pendiri FPCI Dino Patti Djalal menyampaikan sambutan dalam Indonesia Net-Zero Summit 2026 di Jakarta. (Foto: Dok. Ist)
Indonesia Net-Zero Summit 2026 Dorong Aksi Nyata Capai Target Emisi Nol Bersih
Patrick Pinaria • 4 August 2026 16:24
Jakarta: Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) menggelar Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu, 1 Agustus 2026. Mengusung tema 'It's Time to Deliver!', forum ini menekankan pentingnya menerjemahkan komitmen iklim menjadi aksi nyata di tengah tantangan geopolitik dan ekonomi global.
INZS 2026 dihadiri hampir 10.000 peserta, melibatkan lebih dari 130 mitra, serta menghadirkan 60 pembicara dari berbagai sektor.
Tema 'It's Time to Deliver!' mengangkat momentum ketika komitmen iklim global dan nasional harus diwujudkan melalui implementasi yang kredibel dan konsisten. Di tengah gejolak geopolitik serta tekanan ekonomi global, transisi menuju net-zero dinilai tidak lagi dapat dipandang sebagai agenda jangka panjang yang bisa ditunda, melainkan kebutuhan mendesak untuk memperkuat ketahanan energi, daya saing ekonomi, dan keamanan bangsa.
FPCI menilai ambisi besar hanya akan membawa perubahan bermakna jika didukung implementasi yang konsisten. Karena itu, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat didorong bergerak bersama menuju hasil yang terukur dan berdampak nyata.
Dalam sambutan pembukaannya, Dr. Dino Patti Djalal menyoroti tema INZS tahun ini. Ia percaya perang melawan perubahan iklim adalah salah satu perjuangan terpenting saat ini, yang sayangnya seringkali terabaikan oleh berbagai gangguan global.
"Perubahan iklim tidak pernah berhenti berubah. Ia adalah pondasi yang menentukan kesehatan, politik, perdamaian, keamanan, ekonomi, industri, migrasi, kesejahteraan individu dan sosial, infrastruktur, pangan, energi, air, lapangan kerja—segala hal. Ia adalah kekuatan paling penting yang menentukan nasib umat manusia. Perubahan iklim berada di atas segalanya. Ia harus menjadi yang nomor satu," jelas Dino.
Urgensi tersebut semakin terasa, terlebih lagi karena meningkatnya ketegangan geopolitik, fragmentasi tatanan global, dan kekhawatiran terhadap keamanan energi. Kondisi ini memperlebar kesenjangan antara komitmen iklim dan pelaksanaannya, khususnya dalam aspek pendanaan, teknologi, dan jalur transisi.
Pada saat yang sama, banyak negara berkembang, termasuk di Asia Tenggara, memainkan peran yang semakin penting dalam membentuk masa depan tata kelola iklim global dan transisi energi. Dalam konteks ini, INZS 2026 berupaya menjadi platform bagi para pihak untuk bertukar perspektif, memperkuat kerja sama, dan mengeksplorasi solusi pragmatis agar transisi menuju masa depan yang berkelanjutan tetap dapat dicapai secara inklusif.
"Climate change is about everything else. It should be goal number one. If we don’t get climate right, we get everything else wrong (Perubahan iklim adalah tentang segalanya. Itu seharusnya menjadi tujuan nomor satu. Jika kita tidak menyelesaikan masalah iklim, maka kita akan salah dalam segala hal)," sambung Dino.
"Dunia dengan (kenaikan) suhu 3 derajat Celcius akan menyakiti kita semua. Kita semua akan menderita, dan itu tidak bisa diputar balik. Kita bisa bertindak sekarang, ini adalah celah kecil yang tersisa hingga 2030," tegas Dino.
Dalam kesempatan yang sama, UN Secretary-General's Special Envoy on Water Retno Marsudi menegaskan ketahanan air merupakan salah satu fondasi utama dalam transisi menuju net-zero.
"Emisi nol bersih (net-zero) tidak akan tercapai tanpa ketahanan air. Air berperan dalam mitigasi dan adaptasi, sedangkan ekosistem air adalah fondasi ketahanan iklim," ungkap Retno.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) RI Moh. Jumhur Hidayat menilai transisi menuju Net-Zero jangan dianggap sebagai beban.
"Di tengah dunia yang tidak pasti, agenda iklim dan transisi hijau justru menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan energi, daya saing ekonomi, dan keamanan bangsa. Transisi menuju net-zero bukan beban tambahan, tetapi cara kita menjaga masa depan, kami merumuskan pendekatan kebijakan yang bertumpu pada tiga pilar yang saling terhubung, yaitu mitigasi, adaptasi, dan prosperity, atau kesejahteraan. Tiga kata ini bukan sekadar slogan; tiga-tiganya harus jalan bersama," papar Jumhur.
"Tema “It’s Time to Deliver” menuntut kita menjawab satu pertanyaan sederhana: apa arti 'delivery' bagi Indonesia?" jelas Jumhur.
Menurut Jumhur, terdapat sejumlah prioritas yang perlu didorong bersama untuk mewujudkan transisi menuju net-zero.
"Setidaknya ada beberapa prioritas yang perlu kita dorong bersama. Pertama, memperkuat integritas tata kelola lingkungan. Kedua, mempercepat transformasi rendah karbon tanpa melampaui batas ekologi. Ketiga, menjadikan adaptasi dan ketahanan sebagai prioritas pembangunan. Keempat, memastikan transisi bekerja untuk rakyat. Kelima, membangun kemitraan implementasi yang nyata. Pada akhirnya, pesan dari 'It’s Time to Deliver' sangat sederhana, tetapi tegas," tutur Jumhur.
Jumhur juga menilai saat ini adalah momen yang tepat untuk melakukan perubahan nyata melalui pernyataan berikut:
- Saatnya kita deliver pada agenda mitigasi: bukan hanya komitmen, tetapi penurunan emisi yang terlihat.
- Saatnya kita deliver pada agenda adaptasi: perlindungan nyata bagi masyarakat dari risiko iklim.
- Saatnya kita deliver pada agenda prosperity: memastikan transisi hijau menjadi sumber kesejahteraan, bukan sumber ketidakpastian baru.
Setelah rangkaian diskusi selama sehari penuh, INZS 2026 ditutup dengan penampilan khusus Teddy Adhitya yang mengampanyekan gerakan "No Music on A Dead Planet" sebagai upaya menyuarakan isu perubahan iklim dan lingkungan melalui musik.
Selama penyelenggaraannya, INZS 2026 terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Melalui FPCI Climate Unit, FPCI menyatakan komitmennya untuk terus mengamati perkembangan isu iklim di Indonesia, mengadvokasikan aksi iklim yang lebih konkret melalui berbagai program dan inisiatif, serta berkontribusi dalam upaya Indonesia mencapai target net-zero.