Dino Patti Djalal: Transisi Rendah Karbon Ciptakan Investasi dan Lapangan Kerja

Pendiri FPCI Dino Patti Djalal dalam pembukaan Indonesia Net-Zero Summit di Jakarta, Sabtu, 1 Agustus 2026. (Metrotvnews.com)

Dino Patti Djalal: Transisi Rendah Karbon Ciptakan Investasi dan Lapangan Kerja

Muhammad Reyhansyah • 1 August 2026 15:01

Jakarta: Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai transisi menuju pembangunan rendah karbon tidak lagi sekadar menjadi kewajiban untuk menekan emisi gas rumah kaca, tetapi telah berkembang menjadi peluang ekonomi yang mampu menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing suatu negara.

Dino mengatakan semakin banyak negara memandang transisi energi sebagai strategi pembangunan ekonomi, bukan semata agenda lingkungan hidup.

"Mereka melihat transisi menuju pembangunan rendah karbon sebagai tanggung jawab moral sekaligus peluang ekonomi," kata Dino dalam pidato pembukaan Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 di Jakarta, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Menurut Dino, perubahan cara pandang tersebut telah mendorong sejumlah negara mencatat kemajuan pesat dalam pengembangan energi bersih. 

Tiongkok, misalnya, kini menjadi pemimpin dunia dalam pengembangan energi surya dan kendaraan listrik. India juga berhasil meningkatkan kapasitas energi terbarukan secara signifikan, sementara Pakistan menaikkan porsi energi terbarukan dalam bauran listriknya dari sekitar 2 persen menjadi 32 persen hanya dalam lima tahun.

Selain itu, Uruguay kini menghasilkan sekitar 90 persen listriknya dari energi terbarukan, Vietnam menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan pembangkit listrik tenaga surya tercepat di dunia, dan sejumlah negara lain seperti Chile, Brasil, Kenya, Portugal, Norwegia, hingga Kosta Rika juga menunjukkan kemajuan dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Dino menilai pengalaman negara-negara tersebut menunjukkan bahwa investasi pada energi bersih tidak hanya berkontribusi terhadap pengurangan emisi, tetapi juga mampu memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.

Karena itu, ia mempertanyakan apakah Indonesia juga siap bergabung dalam kelompok negara yang menjadikan aksi iklim sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi.

"Pertanyaan besarnya adalah, apakah Indonesia juga harus menjadi bagian dari negara-negara progresif di bidang iklim?" ujarnya.

Indonesia Punya Peluang Besar

Menurut Dino, Indonesia memiliki berbagai modal untuk memanfaatkan peluang tersebut, mulai dari potensi energi terbarukan yang melimpah hingga posisi strategis di berbagai forum internasional.

Namun, ia menekankan bahwa peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila berbagai kebijakan strategis benar-benar direalisasikan. 

Karena itu, Dino mendorong percepatan program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt, perlindungan hutan dan lahan gambut, penguatan pasar karbon nasional, peningkatan peran Indonesia dalam diplomasi iklim, serta kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah dan masyarakat sipil.

Ia juga mengingatkan bahwa dunia memiliki waktu yang semakin terbatas untuk menahan laju pemanasan global. Berdasarkan berbagai komitmen yang telah disampaikan negara-negara kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), suhu bumi masih diperkirakan meningkat sekitar 2,3 hingga 2,5 derajat Celsius apabila implementasi kebijakan tidak dipercepat.

"Kita memiliki jendela waktu yang sangat terbatas. Karena itu, kita harus bertindak sekarang," kata Dino.

Dino berharap Indonesia tidak hanya menjadi pengikut dalam agenda iklim global, tetapi mampu memanfaatkan transisi menuju ekonomi rendah karbon sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru yang menghadirkan investasi, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.

Baca juga:  Dino Patti Djalal Usulkan Lima Agenda Prioritas Indonesia untuk Target Net Zero

(Willy Haryono)