Ilustrasi. Foto: dok MI/Ramdani.
Dolar AS Mulai Dilepas, Rupiah Rebound ke Rp17.476/USD
Ade Hapsari Lestarini • 13 May 2026 17:54
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan hari ini menguat jadi Rp17.476 per USD dari sebelumnya Rp17.529 per USD. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp17.496 per USD dari sebelumnya Rp17.514 per USD.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menilai penguatan rupiah disebabkan aksi ambil untuk terhadap dolar AS pascamengalami penguatan cukup tajam.
"Penguatan rupiah terjadi seiring aksi ambil untung (profit taking) terhadap dolar AS setelah sebelumnya mengalami penguatan cukup tajam pasca rilis data inflasi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar," katanya dilansir Antara, Rabu, 13 Mei 2026.
Tercatat, tingkat inflasi tahunan AS mencapai level tertinggi pada April 2026 sejak Mei 2023, yakni 3,8 persen, sebagaimana dilaporkan Anadolu. Ekspektasi pasar berada di angka 3,7 persen untuk April. Sementara angka Maret 2026 di posisi 3,3 persen.

Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
Investor cenderung berhati-hati
Investor juga disebut cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu rilis data inflasi produsen AS (Producer Price Index) serta perkembangan pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang dapat memengaruhi arah pergerakan pasar global.
"Di tengah tingginya tensi geopolitik Timur Tengah, sebagian pelaku pasar mulai melakukan reposisi aset sehingga tekanan terhadap mata uang emerging market sedikit berkurang," ungkap Amru.
Meninjau dari dalam negeri, rupiah memperoleh dukungan dari optimisme pasar terhadap langkah Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan tetap aktif menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valas dan obligasi.
Selain itu, lanjut dia, muncul spekulasi BI berpotensi melakukan penyesuaian suku bunga untuk menjaga daya tarik aset domestik serta meredam tekanan arus keluar modal asing.
"Sentimen positif lainnya berasal dari upaya pemerintah dalam memperkuat stabilitas pasar keuangan domestik, termasuk menjaga likuiditas dan stabilisasi pasar surat utang. Meski demikian, pergerakan rupiah ke depan masih diperkirakan fluktuatif karena pasar tetap mencermati arah kebijakan The Fed, arus modal asing, dan perkembangan risiko geopolitik global," ungkap dia.