Jakarta: Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani meminta pemerintah dan Bank Indonesia (BI) segera mengambil langkah antisipasi terhadap pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Menurutnya, antisipasi perlu dilakukan sejak dini agar tekanan ekonomi global tidak berdampak besar terhadap perekonomian nasional.
Puan mengatakan DPR akan memanggil pemerintah dan BI untuk meminta penjelasan mengenai kondisi nilai tukar rupiah saat ini. Ia juga menyampaikan bahwa dalam masa sidang kali ini, DPR akan membahas kebijakan ekonomi makro.
Tak hanya itu, sidang tersebut juga direncanakan membahas arah kebijakan fiskal untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027, termasuk upaya menghadapi dampak situasi global terhadap ekonomi Indonesia.
Puan menegaskan pemerintah dan
BI perlu menyiapkan langkah jangka pendek maupun jangka panjang agar gejolak global tidak memberikan dampak besar terhadap stabilitas ekonomi nasional.
"Dengan situasi global ini, apa yang akan dilakukan oleh pemerintah termasuk dengan BI. Situasi ini jangan sampai pengaruhnya itu nantinya akan membuat Indonesia jadi terpuruk. Jadi harus diantisipasi sejak awal bukan hanya tahun ini, tapi juga sampai tahun 2027," ujar Puan, dikutip dari
Headline News, Metro TV, Rabu, 13 Mei 2026.
Sementara itu, BI tetap meyakini pergerakan nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat seiring dengan fundamental ekonomi Indonesia. Hal ini merespons nilai tukar yang kini menembus level Rp17.500 per USD.
"Seperti yang disampaikan Pak Gubernur BI, kami tetap meyakini dengan langkah-langkah yang dilakukan rupiah akan stabil dan cenderung menguat. Karena kita meyakini fundamental ekonomi Indonesia itu sangat baik dibandingkan dengan negara-negara yang lain," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dijumpai media di kantor pusat BI, Jakarta, dilansir dari Antara, Rabu, 13 Mei 2026.
Ramdan menegaskan, bank sentral menyadari atas faktor dinamika global yang tengah berlangsung sehingga terus menguatkan langkah stabilisasi rupiah.
"Begitu pasar Jakarta tutup, kita standby di pasar Eropa, kemudian standby di pasar Amerika, untuk menjaga bagaimana pergerakan nilai tukar rupiah yang kalau di luar negeri dipengaruhi oleh transaksi NDF itu tetap stabil," kata dia.
Selain stabilisasi rupiah melalui intervensi, BI menempuh enam langkah yaitu memperkuat struktur suku bunga SRBI, melanjutkan pembelian SBN di pasar sekunder, memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan, memperkuat kebijakan transaksi pasar valas, memperkuat pendalaman pasar uang dan pasar valas, serta memperkuat pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi.
(Alfiah Ziha Rahmatul Laili)